═════════════════
NEGERI TOPENG MONYET
─────────────────
DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH
DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI
BERKAS ISTANA, ARSIP 002
STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI
TINGKAT AKSES: PUBLIK
═════════════════
─────────────────
BERKAS ISTANA NEGERI TOPENG MONYET
Arsip 002:
Spanduk yang Lebih Kokoh dari Jembatan
Dibawakan oleh Nawapes, Filsuf Istana & Pencatat DIM
─────────────────
Selamat malam. Atau selamat pagi. Atau selamat...
ah, sudahlah. Kalian sudah tahu.
Nama saya Nawapes. Dan sebelum saya melanjutkan, saya
ingin bertanya sesuatu: pernahkah kalian melihat
spanduk peresmian proyek? Spanduk besar dengan foto
Baginda tersenyum, logo bertumpuk-tumpuk seperti
stiker di kaca belakang mobil, dan tulisan megah:
"DIresmikan oleh..."?
Bagus. Sekarang, coba ingat-ingat. Apakah kalian juga
melihat proyeknya?
Ah, saya tidak mendengar jawaban. Tapi saya sudah tahu.
Kebanyakan dari kalian hanya melihat spanduknya. Dan
itu bukan kebetulan.
───
Ini adalah berkas tentang DIM #088. Judulnya: "Proyek
yang Diresmikan Tiga Kali Tapi Tidak Pernah Selesai."
Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan nama yang
diberikan oleh seorang pembuat spanduk: "Spanduk yang
Lebih Kokoh dari Jembatan."
Pembuat spanduk itu bernama Surya.
───
Bayangkan sebuah percetakan kecil di pojok jalan.
Namanya "Berkah Abadi" nama yang optimis untuk sebuah
usaha yang hampir tidak bisa bertahan. Di dalamnya,
sebuah mesin cetak digital berumur sepuluh tahun, meja
sablon penuh tumpahan tinta, dan rak-rak kayu yang
menampung gulungan kain spanduk. Baunya? Tinta. Selalu
tinta. Saya pernah ke sana sekali. Bau itu menempel di
baju saya selama tiga hari.
Surya sudah berada di percetakannya sejak pukul enam
pagi, seperti biasa. Ia selalu datang lebih awal bukan
karena pekerjaannya banyak, tapi karena ia tidak suka
rumahnya yang sunyi ketika istrinya sudah berangkat
ke pasar. Ratna, istrinya, adalah penjual sayur di
Pasar Tua. Ia berangkat pukul empat pagi, pulang pukul
dua siang. Di antara waktu itu, Surya sendirian.
Pagi itu, teleponnya berdering. Nama di layar: Pak
Seno.
───
Ah, Pak Seno. Kepala Wilayah. Saya mengenalnya. Ia
bukan orang jahat. Ia hanya... terjebak. Seperti
kebanyakan pejabat di negeri ini. Mereka tidak berniat
mencuri, tidak berniat menipu. Tapi sistemnya membuat
mereka harus memilih antara jujur dan bertahan. Dan
kebanyakan memilih bertahan.
"Surya!" Suara Pak Seno panik tapi panik yang sudah
terlatih. "Saya butuh spanduk. Besar. Sangat besar.
Tiga kali sepuluh meter. Bisa selesai besok pagi?"
"Besok pagi? Isinya apa, Pak?"
"Terserah. Yang penting ada tulisan 'Diresmikan oleh
Baginda' dan ada fotonya. Foto yang tersenyum. Cari
saja di internet. Jangan lupa logo Kementerian, logo
Provinsi, logo Wilayah, logo... pokoknya semua logo."
"Proyek apa, Pak?"
"Proyek Irigasi Maju Lancar."
Surya menatap mesin cetaknya. "Di mana irigasinya,
Pak?"
Jeda. Sebentar. Lalu Pak Seno tertawa tawa yang
terdengar seperti batuk. "Yang penting spanduknya dulu,
Surya. Spanduk adalah bukti bahwa proyek ini ada."
───
*Spanduk adalah bukti bahwa proyek ini ada.* Kalimat
itu, kalimat sederhana itu, adalah fondasi dari
Provinsi Panggung. Bukan jembatan. Bukan irigasi.
Bukan rumah sakit. Tapi spanduk. Karena spanduk bisa
difoto. Foto bisa dilaporkan. Laporan bisa
diarsipkan. Dan arsip... arsip adalah kebenaran.
Setidaknya, itulah yang diajarkan di negeri ini.
───
Malam itu, Surya bekerja sendirian. Ratna menemaninya
menyablon logo-logo kecil di kain dengan tangan yang
sudah sangat terlatih.
"Proyek apa lagi ini, Mas?"
"Entah. Namanya Proyek Irigasi Maju Lancar."
"Di mana irigasinya?"
Surya menghentikan mesin cetaknya. "Aku tidak tahu.
Mungkin belum selesai. Mungkin... entahlah. Yang
penting spanduknya jadi."
Ratna terdiam. Ia sudah lama curiga dengan pesanan-
pesanan suaminya. Tapi ia tidak pernah bertanya lebih
jauh. Di negeri ini, bertanya adalah kebiasaan yang
perlahan-lahan dilupakan orang.
───
Keesokan paginya, Surya mengantarkan spanduk itu ke
lokasi. Sebuah lahan kosong di pinggiran kota. Tapi
pagi itu, lahan kosong itu sudah berubah. Tenda-tenda
putih berdiri. Kursi-kursi plastik tersusun rapi.