Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM

Tourtaleslights
Chapter #12

Spanduk yang Lebih Kokoh dari Jembatan

═════════════════

NEGERI TOPENG MONYET

─────────────────

DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH   

DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI             


BERKAS ISTANA, ARSIP 002         

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI        

TINGKAT AKSES: PUBLIK                       

═════════════════

─────────────────

BERKAS ISTANA NEGERI TOPENG MONYET

Arsip 002:

Spanduk yang Lebih Kokoh dari Jembatan

Dibawakan oleh Nawapes, Filsuf Istana & Pencatat DIM

─────────────────

 

Selamat malam. Atau selamat pagi. Atau selamat...

ah, sudahlah. Kalian sudah tahu.

 

Nama saya Nawapes. Dan sebelum saya melanjutkan, saya

ingin bertanya sesuatu: pernahkah kalian melihat

spanduk peresmian proyek? Spanduk besar dengan foto

Baginda tersenyum, logo bertumpuk-tumpuk seperti

stiker di kaca belakang mobil, dan tulisan megah:

"DIresmikan oleh..."?

 

Bagus. Sekarang, coba ingat-ingat. Apakah kalian juga

melihat proyeknya?

 

Ah, saya tidak mendengar jawaban. Tapi saya sudah tahu.

Kebanyakan dari kalian hanya melihat spanduknya. Dan

itu bukan kebetulan.

 

───

 

Ini adalah berkas tentang DIM #088. Judulnya: "Proyek

yang Diresmikan Tiga Kali Tapi Tidak Pernah Selesai."

Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan nama yang

diberikan oleh seorang pembuat spanduk: "Spanduk yang

Lebih Kokoh dari Jembatan."

 

Pembuat spanduk itu bernama Surya.

 

───

 

Bayangkan sebuah percetakan kecil di pojok jalan.

Namanya "Berkah Abadi" nama yang optimis untuk sebuah

usaha yang hampir tidak bisa bertahan. Di dalamnya,

sebuah mesin cetak digital berumur sepuluh tahun, meja

sablon penuh tumpahan tinta, dan rak-rak kayu yang

menampung gulungan kain spanduk. Baunya? Tinta. Selalu

tinta. Saya pernah ke sana sekali. Bau itu menempel di

baju saya selama tiga hari.

 

Surya sudah berada di percetakannya sejak pukul enam

pagi, seperti biasa. Ia selalu datang lebih awal bukan

karena pekerjaannya banyak, tapi karena ia tidak suka

rumahnya yang sunyi ketika istrinya sudah berangkat

ke pasar. Ratna, istrinya, adalah penjual sayur di

Pasar Tua. Ia berangkat pukul empat pagi, pulang pukul

dua siang. Di antara waktu itu, Surya sendirian.

 

Pagi itu, teleponnya berdering. Nama di layar: Pak

Seno.

 

───

 

Ah, Pak Seno. Kepala Wilayah. Saya mengenalnya. Ia

bukan orang jahat. Ia hanya... terjebak. Seperti

kebanyakan pejabat di negeri ini. Mereka tidak berniat

mencuri, tidak berniat menipu. Tapi sistemnya membuat

mereka harus memilih antara jujur dan bertahan. Dan

kebanyakan memilih bertahan.

 

"Surya!" Suara Pak Seno panik tapi panik yang sudah

terlatih. "Saya butuh spanduk. Besar. Sangat besar.

Tiga kali sepuluh meter. Bisa selesai besok pagi?"

 

"Besok pagi? Isinya apa, Pak?"

 

"Terserah. Yang penting ada tulisan 'Diresmikan oleh

Baginda' dan ada fotonya. Foto yang tersenyum. Cari

saja di internet. Jangan lupa logo Kementerian, logo

Provinsi, logo Wilayah, logo... pokoknya semua logo."

 

"Proyek apa, Pak?"

 

"Proyek Irigasi Maju Lancar."

 

Surya menatap mesin cetaknya. "Di mana irigasinya,

Pak?"

 

Jeda. Sebentar. Lalu Pak Seno tertawa tawa yang

terdengar seperti batuk. "Yang penting spanduknya dulu,

Surya. Spanduk adalah bukti bahwa proyek ini ada."

 

───

 

*Spanduk adalah bukti bahwa proyek ini ada.* Kalimat

itu, kalimat sederhana itu, adalah fondasi dari

Provinsi Panggung. Bukan jembatan. Bukan irigasi.

Bukan rumah sakit. Tapi spanduk. Karena spanduk bisa

difoto. Foto bisa dilaporkan. Laporan bisa

diarsipkan. Dan arsip... arsip adalah kebenaran.

Setidaknya, itulah yang diajarkan di negeri ini.

 

───

 

Malam itu, Surya bekerja sendirian. Ratna menemaninya

menyablon logo-logo kecil di kain dengan tangan yang

sudah sangat terlatih.

 

"Proyek apa lagi ini, Mas?"

 

"Entah. Namanya Proyek Irigasi Maju Lancar."

 

"Di mana irigasinya?"

 

Surya menghentikan mesin cetaknya. "Aku tidak tahu.

Mungkin belum selesai. Mungkin... entahlah. Yang

penting spanduknya jadi."

 

Ratna terdiam. Ia sudah lama curiga dengan pesanan-

pesanan suaminya. Tapi ia tidak pernah bertanya lebih

jauh. Di negeri ini, bertanya adalah kebiasaan yang

perlahan-lahan dilupakan orang.

 

───

 

Keesokan paginya, Surya mengantarkan spanduk itu ke

lokasi. Sebuah lahan kosong di pinggiran kota. Tapi

pagi itu, lahan kosong itu sudah berubah. Tenda-tenda

putih berdiri. Kursi-kursi plastik tersusun rapi.

Lihat selengkapnya