Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM

Tourtaleslights
Chapter #13

Rapat yang Tidak Pernah Selesai

═════════════════

NEGERI TOPENG MONYET

─────────────────

DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH   

DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI             


BERKAS ISTANA, ARSIP 003         

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI        

TINGKAT AKSES: PUBLIK                       

═════════════════

 

─────────────────

BERKAS ISTANA NEGERI TOPENG MONYET

Arsip 003:

Rapat yang Tidak Pernah Selesai

Dibawakan oleh Nawapes, Filsuf Istana & Pencatat DIM

─────────────────

 

Selamat malam, wahai kalian yang masih setia mendengarkan

berkas-berkas saya. Atau selamat pagi. Atau selamat

sore. Di negeri ini, waktu tidak terlalu berarti. Yang

berarti hanyalah rapat.

 

Ah, rapat. Kalian pasti pernah menghadiri rapat. Rapat

yang agendanya tidak jelas. Rapat yang berlangsung

berjam-jam tanpa menghasilkan apa-apa. Rapat yang

akhirnya memutuskan untuk... mengadakan rapat lagi.

 

Di Provinsi Dapur jantung dari semua kebijakan negeri

ini rapat bukanlah pengecualian. Rapat adalah pekerjaan

itu sendiri.

 

───

 

Dua arsip lalu, saya bercerita tentang Kakek Warto

seorang lelaki tua yang harus membuktikan kematian

istrinya dengan surat. Arsip lalu, tentang Surya

pembuat spanduk yang menemukan bahwa jembatan yang

diresmikan tidak pernah ada.

 

Mereka berdua adalah korban dari sesuatu yang lebih

besar. Sesuatu yang dimasak di Dapur. Sesuatu yang

namanya: regulasi.

 

Dan malam ini, saya akan bercerita tentang orang yang

memasaknya.

 

───

 

Namanya Bram. Ia sudah bekerja di Gedung Dapur

Kebijakan Nasional selama dua puluh delapan tahun.

Dua puluh delapan tahun. Coba bayangkan. Beberapa dari

kalian mungkin belum lahir ketika ia pertama kali

mengetik paragraf pertamanya.

 

Ruang kerjanya sempit tiga kali empat meter dengan

jendela yang menghadap ke... dinding gedung sebelah.

Di mejanya, tumpukan map. Rancangan undang-undang.

Revisi. Revisi dari revisi. Revisi dari revisi dari

revisi.

 

Pagi itu seperti pagi-pagi sebelumnya selama dua puluh

delapan tahun Bram tiba pukul tujuh tiga puluh. Ia

menyalakan komputernya. Menunggu sepuluh menit sampai

mesin tua itu menyala. Lalu ia membuka map pertama di

tumpukan teratas.

 

Labelnya: "Rancangan Peraturan No. 47   Revisi Ke-23

  Pasal 12 Ayat 3 tentang Standar Operasional Prosedur

Pelayanan."

 

Revisi ke-23. Untuk satu pasal. Satu ayat.

 

───

 

Pintu terbuka. Laras masuk tanpa mengetuk. Laras masih

muda dua puluh sembilan tahun dengan energi yang

belum sepenuhnya dihancurkan oleh sistem. Ia sudah

bekerja di Dapur selama empat tahun, dan saya selalu

bertanya-tanya: kenapa ia belum menyerah?

 

"Pak Bram, rapat hari ini jam sembilan. Agendanya

masih sama: Standar Operasional Prosedur Pelayanan

Publik."

 

"Masih? Itu sudah tiga bulan, Laras."

 

Laras meletakkan map di meja Bram. "Sejak kita harus

menyelaraskannya dengan dua belas peraturan lain yang

saling bertentangan, Pak. Peraturan No. 12 mengatur

standar yang sama dengan Peraturan No. 89, tapi

definisinya berbeda. Surat Edaran No. 45 merevisi

sebagian, tapi tidak seluruhnya. Keputusan Menteri

No. 67 mengganti istilah 'pelayanan' menjadi

'layanan' "

 

"Stop." Bram mengangkat tangan. "Saya mengerti."

 

"Rapat ke-17 hari ini, Pak."

 

"Rekor?"

 

"Belum. Rekor masih dipegang oleh Peraturan No. 23

tentang Klasifikasi Jenis Pelayanan. Itu butuh empat

puluh dua rapat sebelum akhirnya... dibatalkan."

 

───

 

Empat puluh dua rapat. Untuk sebuah peraturan yang

akhirnya dibatalkan. Kalian mungkin berpikir: itu

konyol. Dan memang konyol. Tapi di Dapur, kekonyolan

adalah rutinitas. Dan rutinitas... rutinitas tidak

pernah dipertanyakan.

 

───

 

Ruang Rapat Anggrek. Meja panjang dari kayu jati.

Dua puluh kursi kulit. Di dinding, lukisan abstrak

yang tidak berarti apa-apa. Di langit-langit, lampu

gantung kristal terlalu megah untuk ruangan yang

isinya hanya orang-orang yang berdebat tentang

definisi.

 

Dua puluh orang duduk mengelilingi meja. Bram di sudut

kiri jauh dari Menteri, dekat dengan stop kontak.

 

Lihat selengkapnya