═════════════════
NEGERI TOPENG MONYET
─────────────────
DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH
DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI
BERKAS ISTANA, ARSIP 004
STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI
TINGKAT AKSES: PUBLIK
═════════════════
─────────────────
BERKAS ISTANA NEGERI TOPENG MONYET
Arsip 004:
Tahta yang Memenjara
Dibawakan oleh Nawapes, Filsuf Istana & Pencatat DIM
─────────────────
Selamat malam.
Malam ini, saya akan bercerita tentang Istana. Tentang
takhta. Tentang seorang raja yang tidak bisa
meninggalkan rumahnya sendiri.
Tapi sebelum itu, izinkan saya bertanya: pernahkah
kalian berpikir bahwa orang paling berkuasa di negeri
ini Baginda sendiri mungkin juga adalah seorang
tahanan?
Ah, saya tahu apa yang kalian pikirkan. "Nawapes, kau
sudah terlalu tua. Baginda adalah raja. Ia bisa
melakukan apa saja." Benarkah? Mari kita lihat.
───
Ini adalah dongeng tentang DIM #042: "Korupsi yang
Terlalu Terang untuk Disembunyikan, Tapi Tetap Tidak
Ada yang Menyentuh." Tapi malam ini, saya tidak akan
berbicara tentang korupsi. Itu terlalu membosankan,
dan saya sudah terlalu tua untuk marah-marah. Saya
akan bercerita tentang seseorang yang akhirnya kembali
ke rumah dan menemukan bahwa rumahnya adalah penjara.
Namanya Morekey. Cucu Baginda. Calon Maskey XIII.
───
Morekey berdiri di depan gerbang Istana Raya Citadel.
Ini adalah rumahnya. Tempat ia dilahirkan, tempat ia
dibesarkan, tempat ia mendengarkan dongeng-dongeng
Sang Kakek setiap malam sebelum tidur. Tapi hari itu
entah kenapa gerbang itu terasa asing. Seperti ia
sudah pergi terlalu lama dan rumahnya bukan lagi
rumahnya.
Di tangannya, sebuah tas lusuh berisi tiga buku
catatan. Catatan dari Lorong: tentang seorang kakek
yang harus membuktikan istrinya mati. Catatan dari
Panggung: tentang seorang pembuat spanduk yang
menemukan bahwa proyek-proyek yang diresmikannya tidak
pernah ada. Catatan dari Dapur: tentang seorang perumus
undang-undang yang menemukan empat puluh tujuh ribu
peraturan yang saling bertentangan. Dan di sakunya,
secarik perkamen Prinsip Pertama Piagam Pancakarna.
Pengawal Istana menghalangi langkahnya.
"Identitas Anda, Tuan."
Morekey mengeluarkan Kartu Keberadaannya. Pengawal itu
memeriksanya. Lalu saling berpandangan.
"Maaf, Tuan. Nama Anda tidak ada dalam daftar tamu
hari ini."
───
Ironi pertama hari itu: Morekey tidak bisa masuk ke
rumahnya sendiri tanpa surat undangan. Cucu Baginda.
Calon raja. Dan ia harus mengisi formulir untuk masuk
ke rumahnya sendiri.
Saya, yang sudah berdiri di balik gerbang, tertawa
kecil. Bukan karena lucu. Tapi karena bahkan saya
setelah tujuh ratus tahun masih bisa terkejut oleh
absurditas.
"Biarkan dia masuk," kata saya. "Dia ada dalam daftar
saya."
"Daftar apa, Tuan Nawapes?"
"Daftar orang-orang yang tidak perlu daftar."
───
Kami berjalan menyusuri koridor Istana. Marmer di
mana-mana. Emas di langit-langit. Lukisan-lukisan
Baginda terdahulu berjajar di dinding. Maskey I dengan
wajah letih ia baru saja mengganti semua nama dokumen
kolonial tanpa mengubah isinya. Maskey IV dengan mata
penuh frustrasi reformasinya ditolak oleh Dewan
Menteri. Maskey XI dengan ekspresi seseorang yang
telah kalah sebelum bertarung reformasi radikalnya
dihancurkan oleh dua belas faksi.
Dan Maskey XII kakek Morekey dilukis tiga puluh tahun
lalu, ketika ia masih muda, masih percaya bahwa ia
bisa mengubah segalanya.
"Kau sudah melihat banyak hal, Morekey," kata saya.
"Aku sudah melihat semuanya. Lorong. Panggung. Dapur."