Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM

Tourtaleslights
Chapter #14

Tahta yang Memenjara

═════════════════

NEGERI TOPENG MONYET

─────────────────

DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH   

DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI             


BERKAS ISTANA, ARSIP 004         

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI        

TINGKAT AKSES: PUBLIK                       

═════════════════

 

─────────────────

BERKAS ISTANA NEGERI TOPENG MONYET

Arsip 004:

Tahta yang Memenjara

Dibawakan oleh Nawapes, Filsuf Istana & Pencatat DIM

─────────────────

 

Selamat malam.

 

Malam ini, saya akan bercerita tentang Istana. Tentang

takhta. Tentang seorang raja yang tidak bisa

meninggalkan rumahnya sendiri.

 

Tapi sebelum itu, izinkan saya bertanya: pernahkah

kalian berpikir bahwa orang paling berkuasa di negeri

ini Baginda sendiri mungkin juga adalah seorang

tahanan?

 

Ah, saya tahu apa yang kalian pikirkan. "Nawapes, kau

sudah terlalu tua. Baginda adalah raja. Ia bisa

melakukan apa saja." Benarkah? Mari kita lihat.

 

───

 

Ini adalah dongeng tentang DIM #042: "Korupsi yang

Terlalu Terang untuk Disembunyikan, Tapi Tetap Tidak

Ada yang Menyentuh." Tapi malam ini, saya tidak akan

berbicara tentang korupsi. Itu terlalu membosankan,

dan saya sudah terlalu tua untuk marah-marah. Saya

akan bercerita tentang seseorang yang akhirnya kembali

ke rumah dan menemukan bahwa rumahnya adalah penjara.

 

Namanya Morekey. Cucu Baginda. Calon Maskey XIII.

 

───

 

Morekey berdiri di depan gerbang Istana Raya Citadel.

 

Ini adalah rumahnya. Tempat ia dilahirkan, tempat ia

dibesarkan, tempat ia mendengarkan dongeng-dongeng

Sang Kakek setiap malam sebelum tidur. Tapi hari itu

entah kenapa gerbang itu terasa asing. Seperti ia

sudah pergi terlalu lama dan rumahnya bukan lagi

rumahnya.

 

Di tangannya, sebuah tas lusuh berisi tiga buku

catatan. Catatan dari Lorong: tentang seorang kakek

yang harus membuktikan istrinya mati. Catatan dari

Panggung: tentang seorang pembuat spanduk yang

menemukan bahwa proyek-proyek yang diresmikannya tidak

pernah ada. Catatan dari Dapur: tentang seorang perumus

undang-undang yang menemukan empat puluh tujuh ribu

peraturan yang saling bertentangan. Dan di sakunya,

secarik perkamen Prinsip Pertama Piagam Pancakarna.

 

Pengawal Istana menghalangi langkahnya.

 

"Identitas Anda, Tuan."

 

Morekey mengeluarkan Kartu Keberadaannya. Pengawal itu

memeriksanya. Lalu saling berpandangan.

 

"Maaf, Tuan. Nama Anda tidak ada dalam daftar tamu

hari ini."

 

───

 

Ironi pertama hari itu: Morekey tidak bisa masuk ke

rumahnya sendiri tanpa surat undangan. Cucu Baginda.

Calon raja. Dan ia harus mengisi formulir untuk masuk

ke rumahnya sendiri.

 

Saya, yang sudah berdiri di balik gerbang, tertawa

kecil. Bukan karena lucu. Tapi karena bahkan saya

setelah tujuh ratus tahun masih bisa terkejut oleh

absurditas.

 

"Biarkan dia masuk," kata saya. "Dia ada dalam daftar

saya."

 

"Daftar apa, Tuan Nawapes?"

 

"Daftar orang-orang yang tidak perlu daftar."

 

───

 

Kami berjalan menyusuri koridor Istana. Marmer di

mana-mana. Emas di langit-langit. Lukisan-lukisan

Baginda terdahulu berjajar di dinding. Maskey I dengan

wajah letih ia baru saja mengganti semua nama dokumen

kolonial tanpa mengubah isinya. Maskey IV dengan mata

penuh frustrasi reformasinya ditolak oleh Dewan

Menteri. Maskey XI dengan ekspresi seseorang yang

telah kalah sebelum bertarung reformasi radikalnya

dihancurkan oleh dua belas faksi.

 

Dan Maskey XII kakek Morekey dilukis tiga puluh tahun

lalu, ketika ia masih muda, masih percaya bahwa ia

bisa mengubah segalanya.

 

"Kau sudah melihat banyak hal, Morekey," kata saya.

 

"Aku sudah melihat semuanya. Lorong. Panggung. Dapur."

Lihat selengkapnya