═════════════════
NEGERI TOPENG MONYET
─────────────────
DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH
DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI
BERKAS ISTANA, ARSIP 005
STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI
TINGKAT AKSES: PUBLIK
═════════════════
─────────────────
BERKAS ISTANA NEGERI TOPENG MONYET
Arsip 005:
Luka yang Tak Pernah Viral
Dibawakan oleh Nawapes, Filsuf Istana & Pencatat DIM
─────────────────
Sebelum saya mulai, saya ingin memberi peringatan.
Berkas malam ini berbeda. Tiga arsip sebelumnya
tentang Kakek Warto, Surya, dan Bram masih memiliki
ruang untuk tertawa. Getir, memang. Tapi tetap tawa.
Malam ini, hampir tidak ada. Muara bukan tempat untuk
tertawa.
Jadi, jika kalian merasa tidak siap, saya mengerti.
Kalian bisa berhenti di sini. Passport kalian akan
tetap kosong di halaman kelima. DIM 000 kalian akan
tetap aktif. Tidak ada yang akan menghakimi. Di negeri
ini, berhenti adalah pilihan yang paling populer.
Tapi jika kalian memilih untuk tetap mendengarkan...
bersiaplah.
───
Mawar berhenti di ujung jembatan.
Jembatan itu jika bisa disebut jembatan adalah
konstruksi besi tua yang setengah roboh. Papan-papan
kayunya hilang di sana-sini, memperlihatkan air di
bawahnya. Tapi bukan air biasa. Warnanya hitam. Hitam
pekat, seperti tinta.
"Di sinilah saya berhenti, Tuan Morekey."
Morekey menatap ke seberang. "Kenapa?"
"Karena Muara bukan tempat untuk orang seperti kami."
Mawar menatap ke seberang ke arah cerobong-cerobong
pabrik yang mengepulkan asap kelabu, ke arah gubuk-
gubuk kardus di tepi sungai, ke arah api-api unggun
kecil yang digunakan untuk memasak entah apa. "Di sini
tidak ada yang bisa dicatat. Hanya yang bisa
dirasakan."
Ia menyerahkan sebuah senter kecil. "Untuk tempat-
tempat gelap. Muara penuh dengan tempat gelap. Dan...
hati-hati dengan Posko Anjing Pemburu. Mereka tidak
suka orang yang bertanya."
"Terima kasih, Mawar. Untuk semuanya."
"Jangan berterima kasih dulu. Kembalilah dengan
selamat. Dan bawalah Prinsip Ketiga."
Mawar berbalik. Map merahnya adalah titik terang
terakhir sebelum Morekey melangkahkan kaki ke Muara.
───
Bau itu menyambutnya lebih dulu. Bukan bau busuk yang
biasa bukan sampah, bukan bangkai. Ini campuran dari
segala sesuatu yang tidak diinginkan: limbah pabrik,
kotoran manusia, ikan mati, plastik terbakar, dan
sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang seperti
keputusasaan yang menguap.
Di tepi sungai, seorang perempuan sedang mencuci
pakaian. Gerakannya mekanis seperti mesin. Ambil dari
ember, celupkan ke air hitam, gosokkan di batu, peras,
letakkan di ember lain. Ulangi. Ulangi. Ulangi.
Morekey mendekat. "Bu..."
"Jangan panggil saya Ibu. Saya belum tentu lebih tua
dari Anda. Hanya terlihat lebih tua."
"Maaf. Apakah air ini aman untuk mencuci?"
Perempuan itu berhenti. Menatap Morekey dengan mata
yang kosong mata yang sudah terlalu sering melihat
orang asing datang, bertanya, lalu pergi. "Tidak. Tapi
kami tidak punya pilihan."
"Apakah tidak ada air bersih?"
"Ada. Di tangki-tangki bantuan. Datang sebulan sekali.
Kadang dua bulan sekali. Kadang isinya cuma setengah.
Kadang isinya... bukan air."
"Bukan air?"
"Pasir. Lumpur. Pernah sekali, solar. Katanya truknya
bekas angkut BBM. Mereka tidak membersihkannya dulu."
───
*Mereka tidak membersihkannya dulu.* Kalimat itu terus
terngiang di kepala saya. Di negeri ini, "tidak
membersihkan dulu" adalah kebiasaan. Tidak
membersihkan sistem. Tidak membersihkan regulasi.
Tidak membersihkan sungai. Semuanya dilapisi, ditimpa,
diganti namanya tapi tidak pernah dibersihkan sampai
ke dasarnya.
───
Kampung itu tidak punya nama. Hanya kumpulan gubuk
dari seng berkarat, kardus bekas, dan potongan kayu.
Di atas puing-puing, seorang kakek duduk. Punggungnya
bungkuk. Tangannya kapalan. Di sekelilingnya, batu
bata pecah, potongan kayu hangus, dan sebuah foto
dalam bingkai yang kacanya retak.
"Permisi, Pak. Bapak tinggal di sini?"
"Tinggal. Dulu. Sebelum mereka datang."
"Siapa mereka?"
"Orang-orang dengan surat. Katanya tanah ini milik
negara. Katanya kami cuma numpang. Katanya pembangunan
harus berjalan."
Kakek itu menyerahkan secarik kertas kumal surat
keputusan penggusuran. Di sudutnya, catatan kecil