Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM

Tourtaleslights
Chapter #15

Luka yang Tak Pernah Viral

═════════════════

NEGERI TOPENG MONYET

─────────────────

DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH   

DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI             


BERKAS ISTANA, ARSIP 005         

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI        

TINGKAT AKSES: PUBLIK                       

═════════════════

 

─────────────────

BERKAS ISTANA NEGERI TOPENG MONYET

Arsip 005:

Luka yang Tak Pernah Viral

Dibawakan oleh Nawapes, Filsuf Istana & Pencatat DIM

─────────────────

 

Sebelum saya mulai, saya ingin memberi peringatan.

 

Berkas malam ini berbeda. Tiga arsip sebelumnya

tentang Kakek Warto, Surya, dan Bram masih memiliki

ruang untuk tertawa. Getir, memang. Tapi tetap tawa.

 

Malam ini, hampir tidak ada. Muara bukan tempat untuk

tertawa.

 

Jadi, jika kalian merasa tidak siap, saya mengerti.

Kalian bisa berhenti di sini. Passport kalian akan

tetap kosong di halaman kelima. DIM 000 kalian akan

tetap aktif. Tidak ada yang akan menghakimi. Di negeri

ini, berhenti adalah pilihan yang paling populer.

 

Tapi jika kalian memilih untuk tetap mendengarkan...

bersiaplah.

 

───

 

Mawar berhenti di ujung jembatan.

 

Jembatan itu jika bisa disebut jembatan adalah

konstruksi besi tua yang setengah roboh. Papan-papan

kayunya hilang di sana-sini, memperlihatkan air di

bawahnya. Tapi bukan air biasa. Warnanya hitam. Hitam

pekat, seperti tinta.

 

"Di sinilah saya berhenti, Tuan Morekey."

 

Morekey menatap ke seberang. "Kenapa?"

 

"Karena Muara bukan tempat untuk orang seperti kami."

Mawar menatap ke seberang ke arah cerobong-cerobong

pabrik yang mengepulkan asap kelabu, ke arah gubuk-

gubuk kardus di tepi sungai, ke arah api-api unggun

kecil yang digunakan untuk memasak entah apa. "Di sini

tidak ada yang bisa dicatat. Hanya yang bisa

dirasakan."

 

Ia menyerahkan sebuah senter kecil. "Untuk tempat-

tempat gelap. Muara penuh dengan tempat gelap. Dan...

hati-hati dengan Posko Anjing Pemburu. Mereka tidak

suka orang yang bertanya."

 

"Terima kasih, Mawar. Untuk semuanya."

 

"Jangan berterima kasih dulu. Kembalilah dengan

selamat. Dan bawalah Prinsip Ketiga."

 

Mawar berbalik. Map merahnya adalah titik terang

terakhir sebelum Morekey melangkahkan kaki ke Muara.

 

───

 

Bau itu menyambutnya lebih dulu. Bukan bau busuk yang

biasa bukan sampah, bukan bangkai. Ini campuran dari

segala sesuatu yang tidak diinginkan: limbah pabrik,

kotoran manusia, ikan mati, plastik terbakar, dan

sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang seperti

keputusasaan yang menguap.

 

Di tepi sungai, seorang perempuan sedang mencuci

pakaian. Gerakannya mekanis seperti mesin. Ambil dari

ember, celupkan ke air hitam, gosokkan di batu, peras,

letakkan di ember lain. Ulangi. Ulangi. Ulangi.

 

Morekey mendekat. "Bu..."

 

"Jangan panggil saya Ibu. Saya belum tentu lebih tua

dari Anda. Hanya terlihat lebih tua."

 

"Maaf. Apakah air ini aman untuk mencuci?"

 

Perempuan itu berhenti. Menatap Morekey dengan mata

yang kosong mata yang sudah terlalu sering melihat

orang asing datang, bertanya, lalu pergi. "Tidak. Tapi

kami tidak punya pilihan."

 

"Apakah tidak ada air bersih?"

 

"Ada. Di tangki-tangki bantuan. Datang sebulan sekali.

Kadang dua bulan sekali. Kadang isinya cuma setengah.

Kadang isinya... bukan air."

 

"Bukan air?"

 

"Pasir. Lumpur. Pernah sekali, solar. Katanya truknya

bekas angkut BBM. Mereka tidak membersihkannya dulu."

 

───

 

*Mereka tidak membersihkannya dulu.* Kalimat itu terus

terngiang di kepala saya. Di negeri ini, "tidak

membersihkan dulu" adalah kebiasaan. Tidak

membersihkan sistem. Tidak membersihkan regulasi.

Tidak membersihkan sungai. Semuanya dilapisi, ditimpa,

diganti namanya tapi tidak pernah dibersihkan sampai

ke dasarnya.

 

───

 

Kampung itu tidak punya nama. Hanya kumpulan gubuk

dari seng berkarat, kardus bekas, dan potongan kayu.

 

Di atas puing-puing, seorang kakek duduk. Punggungnya

bungkuk. Tangannya kapalan. Di sekelilingnya, batu

bata pecah, potongan kayu hangus, dan sebuah foto

dalam bingkai yang kacanya retak.

 

"Permisi, Pak. Bapak tinggal di sini?"

 

"Tinggal. Dulu. Sebelum mereka datang."

 

"Siapa mereka?"

 

"Orang-orang dengan surat. Katanya tanah ini milik

negara. Katanya kami cuma numpang. Katanya pembangunan

harus berjalan."

 

Kakek itu menyerahkan secarik kertas kumal surat

keputusan penggusuran. Di sudutnya, catatan kecil

Lihat selengkapnya