═════════════════
NEGERI TOPENG MONYET
─────────────────
DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH
DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI
BERKAS ISTANA, ARSIP 006
STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI
TINGKAT AKSES: PUBLIK
═════════════════
─────────────────
BERKAS ISTANA NEGERI TOPENG MONYET
Arsip 006:
Arsip Kegagalan, Akhir Berkas
Dibawakan oleh Nawapes, Filsuf Istana & Pencatat DIM
─────────────────
Ini adalah arsip terakhir.
Jika kalian sudah sampai di sini setelah lima arsip,
setelah Kakek Warto, Surya, Bram, Morekey, setelah
enam provinsi dan tiga prinsip maka kalian tahu bahwa
berkas ini tidak akan berakhir bahagia. Tapi ia akan
berakhir. Dan itu sendiri sudah merupakan sesuatu.
Malam ini, saya akan menyelesaikan apa yang sudah
dimulai. Morekey akan tiba di tempat terakhir. Prinsip
Keempat dan Kelima akan ditemukan. Dua belas Faksi
akan menghadapi cermin yang tidak bisa mereka hindari.
Dan seorang kakek yang selama ini menceritakan di tepi
tempat tidur cucunya akan menyelesaikan ceritanya.
───
Provinsi Gudang. Tempat semua ingatan disimpan. Dan
dilupakan.
Bayangkan bangunan-bangunan rendah dari batu kelabu
berjajar rapi terlalu rapi, seperti kuburan. Bayangkan
udara yang kering, berdebu, sunyi. Tidak ada antrean
seperti di Lorong. Tidak ada hingar-bingar seperti di
Panggung. Hanya keheningan yang dalam.
Di atas gerbangnya, sebuah tulisan yang hampir tidak
terbaca: "Provinsi Gudang Tempat Ingatan Disimpan."
Dan di bawahnya, seseorang telah mencoret dengan arang:
*"...dan dilupakan."*
Morekey menatap coretan itu. Ia teringat DIM #001:
Nama Diganti, Jiwa Tetap. Di sinilah semua ingatan
tentang nama-nama lama disimpan. Di sinilah kebenaran
tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelum nama-nama
diganti masih tersimpan. Terkubur. Menunggu.
Seorang lelaki tua berdiri di depan gerbang. Punggungnya
bungkuk. Tangannya gemetar. Tapi matanya... matanya
setajam pisau yang baru diasah.
"Kau datang juga," katanya. "Aku sudah menunggumu."
"Siapa Anda?"
"Aku Penjaga Gudang. Generasi ketujuh. Sebelum aku,
ada enam Penjaga lainnya. Masing-masing menunggu
seseorang yang tidak pernah datang. Ayahku menunggu.
Kakekku menunggu. Kakeknya kakekku menunggu." Ia
menatap Morekey. "Aku berharap akulah yang terakhir."
"Menunggu siapa?"
"Pembaca Siklus. Pencari Piagam. Auditor. Morekey."
Ia menyebutkan nama-nama itu seperti menyebutkan gelar-
gelar kehormatan. "Kau memiliki banyak nama, anak
muda. Tapi yang paling penting adalah yang terakhir:
Harapan."
───
Mereka berjalan melewati halaman depan. Debu. Daun-
daun kering. Bangunan-bangunan tanpa jendela.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Morekey. "Kenapa
keluargamu mengorbankan tujuh generasi hanya untuk
menjaga arsip-arsip tua?"
Penjaga itu berhenti. "Karena kami percaya. Bukan pada
sistem. Bukan pada Baginda. Tapi pada sesuatu yang
lebih tua dari semuanya."
"Apa?"
"Kebenaran. Kebenaran tidak bisa dihancurkan. Ia hanya
bisa disembunyikan. Dan selama ada satu orang yang
tahu di mana ia disembunyikan... ia tetap hidup."
───
Mereka memasuki ruang pertama. Rak-rak kayu menjulang
sampai langit-langit. Puluhan ribu map cokelat.
"Ini adalah laporan dari seluruh negeri," kata
Penjaga. "Semuanya ada di sini. Proyek Irigasi Maju
Lancar selesai 100%. Proyek Jembatan Harapan selesai
100%. Proyek Pasar Modern Cemerlang selesai 100%."
Morekey membuka satu map. Foto-foto peresmian: Baginda
tersenyum, Menteri tersenyum, kontraktor tersenyum.
Di halaman terakhir, stempel: "SELESAI 100%." Di
bawahnya, catatan: *"Lampiran: Foto spanduk. Jembatan
menyusul."*
"Semuanya bohong," bisik Morekey.
"Tentu. Tapi itulah yang dilaporkan. Dan itulah yang
disimpan di sini. Inilah akar dari semua DIM yang kau
temukan."
───
Ruangan kedua. Lebih kecil. Lebih personal. Kotak-
kotak kayu berisi surat-surat.
"Surat-surat dari rakyat," kata Penjaga. "Selama lima
ratus tahun. Tidak satu pun yang sampai ke Baginda."
Morekey membacanya satu per satu. Surat dari seorang
ibu yang anaknya sakit. Surat dari seorang petani yang
tanahnya dirampas. Surat dari seorang janda yang