Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM

Tourtaleslights
Chapter #16

Arsip Kegagalan, Akhir Berkas

═════════════════

NEGERI TOPENG MONYET

─────────────────

DIREKTORAT INVENTARIS MASALAH   

DIVISI ARSIP & DOKUMENTASI             


BERKAS ISTANA, ARSIP 006         

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI        

TINGKAT AKSES: PUBLIK                       

═════════════════

─────────────────

BERKAS ISTANA NEGERI TOPENG MONYET

Arsip 006:

Arsip Kegagalan, Akhir Berkas

Dibawakan oleh Nawapes, Filsuf Istana & Pencatat DIM

─────────────────

 

Ini adalah arsip terakhir.

 

Jika kalian sudah sampai di sini setelah lima arsip,

setelah Kakek Warto, Surya, Bram, Morekey, setelah

enam provinsi dan tiga prinsip maka kalian tahu bahwa

berkas ini tidak akan berakhir bahagia. Tapi ia akan

berakhir. Dan itu sendiri sudah merupakan sesuatu.

 

Malam ini, saya akan menyelesaikan apa yang sudah

dimulai. Morekey akan tiba di tempat terakhir. Prinsip

Keempat dan Kelima akan ditemukan. Dua belas Faksi

akan menghadapi cermin yang tidak bisa mereka hindari.

Dan seorang kakek yang selama ini menceritakan di tepi

tempat tidur cucunya akan menyelesaikan ceritanya.

 

───

 

Provinsi Gudang. Tempat semua ingatan disimpan. Dan

dilupakan.

 

Bayangkan bangunan-bangunan rendah dari batu kelabu

berjajar rapi terlalu rapi, seperti kuburan. Bayangkan

udara yang kering, berdebu, sunyi. Tidak ada antrean

seperti di Lorong. Tidak ada hingar-bingar seperti di

Panggung. Hanya keheningan yang dalam.

 

Di atas gerbangnya, sebuah tulisan yang hampir tidak

terbaca: "Provinsi Gudang   Tempat Ingatan Disimpan."

Dan di bawahnya, seseorang telah mencoret dengan arang:

*"...dan dilupakan."*

 

Morekey menatap coretan itu. Ia teringat DIM #001:

Nama Diganti, Jiwa Tetap. Di sinilah semua ingatan

tentang nama-nama lama disimpan. Di sinilah kebenaran

tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelum nama-nama

diganti masih tersimpan. Terkubur. Menunggu.

 

Seorang lelaki tua berdiri di depan gerbang. Punggungnya

bungkuk. Tangannya gemetar. Tapi matanya... matanya

setajam pisau yang baru diasah.

 

"Kau datang juga," katanya. "Aku sudah menunggumu."

 

"Siapa Anda?"

 

"Aku Penjaga Gudang. Generasi ketujuh. Sebelum aku,

ada enam Penjaga lainnya. Masing-masing menunggu

seseorang yang tidak pernah datang. Ayahku menunggu.

Kakekku menunggu. Kakeknya kakekku menunggu." Ia

menatap Morekey. "Aku berharap akulah yang terakhir."

 

"Menunggu siapa?"

 

"Pembaca Siklus. Pencari Piagam. Auditor. Morekey."

Ia menyebutkan nama-nama itu seperti menyebutkan gelar-

gelar kehormatan. "Kau memiliki banyak nama, anak

muda. Tapi yang paling penting adalah yang terakhir:

Harapan."

 

───

 

Mereka berjalan melewati halaman depan. Debu. Daun-

daun kering. Bangunan-bangunan tanpa jendela.

 

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Morekey. "Kenapa

keluargamu mengorbankan tujuh generasi hanya untuk

menjaga arsip-arsip tua?"

 

Penjaga itu berhenti. "Karena kami percaya. Bukan pada

sistem. Bukan pada Baginda. Tapi pada sesuatu yang

lebih tua dari semuanya."

 

"Apa?"

 

"Kebenaran. Kebenaran tidak bisa dihancurkan. Ia hanya

bisa disembunyikan. Dan selama ada satu orang yang

tahu di mana ia disembunyikan... ia tetap hidup."

 

───

 

Mereka memasuki ruang pertama. Rak-rak kayu menjulang

sampai langit-langit. Puluhan ribu map cokelat.

 

"Ini adalah laporan dari seluruh negeri," kata

Penjaga. "Semuanya ada di sini. Proyek Irigasi Maju

Lancar selesai 100%. Proyek Jembatan Harapan selesai

100%. Proyek Pasar Modern Cemerlang selesai 100%."

 

Morekey membuka satu map. Foto-foto peresmian: Baginda

tersenyum, Menteri tersenyum, kontraktor tersenyum.

Di halaman terakhir, stempel: "SELESAI 100%." Di

bawahnya, catatan: *"Lampiran: Foto spanduk. Jembatan

menyusul."*

 

"Semuanya bohong," bisik Morekey.

 

"Tentu. Tapi itulah yang dilaporkan. Dan itulah yang

disimpan di sini. Inilah akar dari semua DIM yang kau

temukan."

 

───

 

Ruangan kedua. Lebih kecil. Lebih personal. Kotak-

kotak kayu berisi surat-surat.

 

"Surat-surat dari rakyat," kata Penjaga. "Selama lima

ratus tahun. Tidak satu pun yang sampai ke Baginda."

 

Morekey membacanya satu per satu. Surat dari seorang

ibu yang anaknya sakit. Surat dari seorang petani yang

tanahnya dirampas. Surat dari seorang janda yang

Lihat selengkapnya