Jakarta, September 2017.
Hujan baru saja berhenti ketika lima mahasiswa duduk mengelilingi sebuah meja kayu di kantin kampus. Lantainya masih basah, kipas angin di langit-langit berputar malas, sementara televisi kecil di sudut ruangan menayangkan berita politik yang suaranya hampir tenggelam oleh percakapan mahasiswa lain.
Di layar televisi, seorang pejabat berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Ia menyebut pembangunan, investasi, dan masa depan Indonesia dengan nada penuh keyakinan.
Di meja dekat jendela, seorang mahasiswa bernama Arga Pratama justru memandangi nasi dan telur di hadapannya.
Bukan karena ia tidak lapar. Ia sedang memikirkan ibunya yang pagi tadi menelepon dari kampung.
Uang kiriman bulan ini belum bisa dikirim.
Ayahnya, seorang buruh bangunan, sedang tidak mendapatkan pekerjaan tetap. Ibunya berjualan gorengan untuk menutup kebutuhan rumah. Arga sendiri kuliah dengan beasiswa dan sesekali bekerja membantu sebuah toko fotokopi dekat kampus.
Ia menatap layar televisi sekali lagi.
"Katanya ekonomi kita tumbuh," gumamnya.
Temannya, Nadia Putri, mengangkat kepala dari buku catatan.
"Memangnya kenapa?"
Arga mengaduk tehnya yang sudah dingin.
"Kalau negara kita makin maju, kenapa masih banyak orang yang harus bingung besok bisa makan apa atau tidak?"
Nadia tidak langsung menjawab.
Di hadapan mereka, Bima Saputra sedang membuka koran bekas yang ia beli dari pedagang dekat gerbang kampus. Ia mahasiswa teknik yang lebih menyukai angka daripada perdebatan, tetapi pertanyaan Arga membuatnya berhenti membaca.
"Pertumbuhan ekonomi itu angka, Ga," kata Bima. "Tapi angka yang naik belum tentu langsung bikin hidup semua orang lebih baik."
"Berarti ada yang salah dengan cara kita membangun negara?" tanya Arga.
"Mungkin bukan semuanya salah," jawab Bima. "Tapi kalau hasil pembangunan tidak dirasakan secara merata, berarti masih ada yang harus diperbaiki."
Di samping Bima, Sinta Maharani menutup buku sosiologinya. Ia berasal dari keluarga sederhana di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Ayahnya pegawai honorer, sedangkan ibunya menjahit pakaian dari rumah.
Sinta terbiasa melihat orang-orang bekerja keras tanpa pernah benar-benar keluar dari kesulitan.
"Aku pernah bertanya kepada bapakku," katanya pelan. "Kenapa orang miskin selalu disuruh sabar, berhemat, dan bekerja keras, sedangkan orang yang punya kekuasaan tidak selalu dituntut untuk membuktikan bahwa mereka bekerja untuk rakyat?"
Bima melipat korannya.
"Pertanyaanmu bisa bikin kita berdebat sampai besok pagi."
"Memangnya salah bertanya?" Sinta membalas.
"Bukan salah. Aku cuma bilang, jawabannya tidak sederhana."
Orang kelima di meja itu, Raka Adinata, sejak tadi sibuk memperbaiki kamera digital bekas miliknya. Mahasiswa ilmu komunikasi tersebut punya kebiasaan merekam hal-hal kecil yang dianggap tidak penting oleh orang lain: pedagang yang menunggu pembeli, mahasiswa yang bekerja paruh waktu, sopir angkutan yang mengeluh tentang harga kebutuhan, dan guru honorer yang pulang dengan sepeda motor tua.
Bagi Raka, kehidupan sehari-hari sering kali lebih jujur daripada pidato di atas panggung.
Ia meletakkan kameranya.
"Kalau kalian ingin tahu kenapa negara ini belum maju, menurutku kita harus mulai dari pertanyaan yang lebih sederhana."
Keempat temannya menoleh.
"Apa?" tanya Nadia.
Raka menunjuk televisi di sudut kantin.
"Siapa yang sebenarnya menikmati kemajuan itu, dan siapa yang cuma diminta percaya bahwa hidupnya akan lebih baik suatu hari nanti?"
Meja itu mendadak sunyi.
Di luar kantin, mahasiswa berlalu-lalang dengan jas almamater. Sebagian membicarakan ujian, sebagian lagi sibuk merencanakan kegiatan organisasi. Dunia berjalan seperti biasa.
Namun, bagi kelima mahasiswa itu, sebuah percakapan sederhana baru saja membuka pintu menuju pertanyaan yang jauh lebih besar.
Mereka tidak membenci negara sendiri.
Justru karena mencintai negeri itulah mereka mulai gelisah.
1. Lima Kehidupan, Satu Kegelisahan
Mereka berasal dari jurusan yang berbeda, memiliki keluarga yang berbeda, dan menyimpan cita-cita yang tidak sama.
Arga kuliah di jurusan pendidikan. Ia ingin menjadi guru, tetapi diam-diam takut bahwa kelak ia hanya akan mewariskan kesulitan yang sama kepada murid-muridnya.
Nadia mengambil jurusan ekonomi. Ia percaya kemiskinan tidak cukup dijelaskan dengan kalimat bahwa orang miskin kurang bekerja keras. Ada persoalan kesempatan, kualitas pendidikan, akses modal, dan kebijakan yang perlu dipahami secara serius.
Bima belajar teknik. Baginya, Indonesia tidak akan bisa berdiri sejajar dengan negara maju apabila terus bergantung pada teknologi yang dibuat orang lain. Ia ingin suatu hari nanti melihat mesin, perangkat elektronik, dan teknologi industri buatan Indonesia digunakan di seluruh dunia.
Sinta mempelajari sosiologi. Ia tertarik pada hubungan antara kekuasaan, masyarakat, dan ketimpangan. Ia sering bertanya mengapa orang yang lahir dalam keluarga sederhana harus berjuang berkali-kali lebih keras hanya untuk mendapatkan kesempatan yang sama.
Sementara itu, Raka ingin menjadi pembuat film dokumenter dan kreator konten. Ia percaya kamera tidak harus digunakan untuk mencari popularitas. Kamera juga bisa menjadi alat untuk membuka mata orang terhadap persoalan yang selama ini dianggap biasa.
Mereka belum memiliki jabatan.
Tidak ada di antara mereka yang punya pengaruh besar.
Mereka bahkan masih sering menghitung uang sebelum membeli makan.
Namun, mereka memiliki satu kesamaan: mereka tidak ingin menghabiskan masa muda hanya dengan mengeluh tentang keadaan tanpa mencoba memahami penyebabnya.
"Kita ini mahasiswa," kata Nadia suatu sore. "Seharusnya kita belajar bukan cuma untuk mendapatkan ijazah, tetapi juga untuk memahami masyarakat yang nantinya akan kita hadapi."
Arga mengangguk.
"Tapi kita bisa melakukan apa? Kita bahkan belum punya uang untuk membuat kegiatan besar."
"Kita tidak harus memulai dengan kegiatan besar," jawab Raka. "Kadang-kadang orang terlalu sibuk memikirkan cara mengubah dunia sampai lupa bahwa mereka bisa memulai dari lingkungan sendiri."
Sinta tersenyum tipis.
"Jangan-jangan kita cuma sedang berkhayal."
"Kalau cuma berkhayal, kita bisa pulang sekarang," kata Bima. "Tapi kalau kita mau belajar, setidaknya kita bisa mulai memahami masalahnya."
Malam itu mereka berpisah di depan gerbang kampus.
Tidak ada deklarasi.
Tidak ada spanduk.
Tidak ada janji heroik bahwa mereka akan menyelamatkan Indonesia.
Hanya ada lima mahasiswa yang pulang dengan kepala penuh pertanyaan.
Dan terkadang, sebuah perubahan memang dimulai dari pertanyaan yang tidak bisa lagi diabaikan.
2. Mereka Memilih Jalan yang Berbeda
Beberapa minggu kemudian, kampus mereka ramai membicarakan rencana demonstrasi mahasiswa terkait sejumlah persoalan nasional.
Poster-poster ditempel di papan pengumuman. Diskusi berlangsung di berbagai sudut fakultas. Sebagian mahasiswa menganggap demonstrasi sebagai bentuk penting dari kebebasan berpendapat, sementara sebagian lainnya memilih tidak ikut.