NEGERI YANG BELUM SEMBUH

Dwi Agus Setyawan
Chapter #3

Bab 3 — Riuh di Luar, Gelisah di Dalam

Jakarta, Oktober–Desember 2017.

Pagi itu, Raka datang ke kantin kampus dengan wajah kusut. Rambutnya berantakan, tasnya hanya disampirkan di satu bahu, dan tangan kanannya memegang dua bungkus nasi uduk.

"Selamat pagi, calon-calon pengubah Indonesia!" serunya sambil meletakkan makanan di meja.

Bima yang sedang membaca artikel di laptop langsung mendongak.

"Pengubah Indonesia apaan? Tugas kuliah aja belum kita ubah jadi selesai."

Nadia tertawa kecil. Sinta menggeleng sambil membuka buku catatannya, sedangkan Arga sibuk menghitung uang receh untuk membayar minuman.

Begitulah kehidupan mereka sehari-hari. Di luar obrolan besar tentang masa depan Indonesia, mereka tetap mahasiswa biasa yang dikejar tugas, pusing memikirkan nilai, dan sesekali bingung mencari uang untuk makan.

Kanal YouTube Ruang Nalar juga belum berkembang jauh. Video pertama mereka hanya ditonton puluhan orang. Video kedua tentang pendidikan dan kemiskinan mulai mendapatkan beberapa komentar, tetapi belum cukup ramai untuk membuat mereka dikenal.

Meski begitu, mereka tetap mengerjakannya.

Setiap akhir pekan, mereka mencari berita, membaca laporan, mencatat persoalan yang ditemukan, lalu berdiskusi di kamar kos Raka.

Mereka belum berani menyebut kegiatan itu sebagai gerakan besar. Bagi mereka, itu cuma riset kecil-kecilan untuk belajar memahami negeri sendiri.

"Menurutku, kita harus mulai dari masalah yang dekat sama kehidupan sehari-hari," kata Nadia suatu sore.

"Contohnya?" tanya Arga.

"Kenapa banyak anak yang sebenarnya pintar, tapi kesulitan melanjutkan sekolah? Kenapa orang yang kerja seharian belum tentu bisa hidup tenang? Hal-hal begitu."

Sinta menambahkan, "Dan jangan sampai kita cuma mengambil cerita yang cocok dengan pendapat kita. Kalau ada fakta yang berbeda, kita harus berani mengakuinya."

Bima mengangguk.

"Setuju. Kita bukan tim pembela pendapat sendiri. Kita lagi belajar."

Raka menyalakan kamera digitalnya, lalu berpura-pura menjadi pembawa acara.

"Baik, pemirsa. Hari ini kita akan membahas kenapa lima mahasiswa belum juga kaya meskipun sudah rajin membahas ekonomi."

Mereka langsung tertawa.

Untuk beberapa saat, persoalan Indonesia terasa jauh. Yang ada hanya lima sahabat, sebungkus makanan murah, dan mimpi yang masih mereka rawat diam-diam.

Mereka belum tahu bahwa dalam beberapa minggu ke depan, suasana di luar kampus akan semakin ramai. Dan untuk pertama kalinya, mereka akan merasakan bagaimana sebuah peristiwa nasional bisa memengaruhi hubungan antarteman, keluarga, bahkan percakapan sederhana di meja makan.

1. Ketika Jakarta Mulai Ramai Dibicarakan

Memasuki November 2017, suasana di kampus mulai berubah.

Di lorong fakultas, di kantin, bahkan di grup percakapan mahasiswa, orang-orang ramai membicarakan aksi yang dikenal sebagai Aksi 212, yang berkaitan dengan rangkaian mobilisasi massa sejak 2016 dan kembali menjadi perhatian pada 2 Desember 2017.

Berbagai pandangan muncul.

Ada yang melihatnya sebagai bentuk penyampaian aspirasi umat. Ada yang menganggapnya sebagai peristiwa politik yang perlu dicermati. Ada pula yang merasa khawatir karena perbedaan pandangan soal agama dan politik mulai memengaruhi hubungan antarmasyarakat.

Di kantin, Arga mendengar dua mahasiswa berdebat cukup keras.

"Kalau orang punya keyakinan dan merasa ada sesuatu yang harus diperjuangkan, ya wajar mereka turun ke jalan," kata seorang mahasiswa.

Temannya langsung menyahut, "Aku nggak bilang mereka nggak boleh. Tapi jangan sampai orang yang punya pendapat berbeda langsung dianggap musuh."

Percakapan itu berlanjut semakin panas. Beberapa mahasiswa lain ikut menimpali, sementara yang tadinya hanya ingin makan akhirnya ikut mendengarkan.

Arga diam saja.

Ia tidak merasa punya cukup pengetahuan untuk menyimpulkan siapa yang benar dalam semua perdebatan itu. Namun, ia mulai menyadari sesuatu: persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan pendapat. Cara orang memperlakukan satu sama lain juga mulai berubah.

Malamnya, ia menceritakan kejadian itu kepada teman-temannya.

"Di kampus tadi, orang-orang sampai berdebat cuma gara-gara beda pandangan," katanya.

Sinta menyandarkan punggung ke kursi.

"Memang begitu kalau isu yang dibahas menyentuh sesuatu yang dianggap penting dalam hidup seseorang. Agama, identitas, keadilan, politik. Semuanya bisa terasa sangat pribadi."

"Tapi kenapa harus sampai saling curiga?" tanya Arga.

"Karena kadang orang bukan cuma ingin pendapatnya didengar," jawab Nadia. "Mereka juga ingin merasa bahwa kelompoknya dihargai. Begitu merasa diserang, mereka bisa menganggap orang lain sebagai lawan."

Bima menutup laptopnya.

"Masalahnya, kalau semua orang sibuk mempertahankan kelompok masing-masing, siapa yang membahas masalah bersama?"

Raka yang duduk di lantai sambil memindahkan berkas video ikut berbicara.

"Makanya aku kepikiran bikin video tentang ini."

Nadia langsung menoleh.

"Hati-hati, Rak. Jangan sampai kita bikin video cuma berdasarkan kejadian yang kita lihat di kantin."

"Iya, aku tahu. Kita cari informasi dari beberapa sumber, kita pahami kronologinya, baru kita bahas."

Sinta mengangguk.

"Dan kita jangan menyamaratakan peserta aksi, orang yang tidak ikut, atau orang yang punya pandangan berbeda. Setiap orang punya alasan masing-masing."

Raka mencatat kalimat itu di buku kecilnya.

Malam itu, mereka sepakat bahwa video berikutnya tidak akan membahas siapa yang harus didukung atau siapa yang harus dibenci.

Mereka ingin membahas pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana masyarakat bisa berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa kemanusiaan?

2. Grup Keluarga yang Mendadak Panas

Masalah ternyata tidak hanya muncul di kampus.

Pada suatu malam, Arga menerima beberapa pesan dari grup WhatsApp keluarganya di kampung. Grup yang biasanya berisi foto makanan, kabar saudara, dan pengumuman hajatan itu mendadak ramai oleh kiriman berita dan potongan video mengenai situasi politik nasional.

Salah seorang pamannya mengirim pesan panjang.

Ia merasa masyarakat perlu berani menyampaikan aspirasi ketika menganggap ada persoalan yang menyangkut kepentingan mereka.

Tidak lama kemudian, sepupunya membalas dengan kekhawatiran bahwa perbedaan pandangan bisa membuat hubungan antarkeluarga ikut rusak.

Lihat selengkapnya