Jakarta, Januari 2018 – Oktober 2019.
Tahun berganti. Kalender di kamar kos Raka sudah menunjukkan Januari 2018. Bagi sebagian orang, tahun baru adalah kesempatan untuk memulai sesuatu yang lebih baik. Bagi lima mahasiswa itu, tahun baru berarti satu hal yang tidak bisa dihindari: mereka mulai memasuki tahun-tahun terakhir perkuliahan.
Mereka masih punya mimpi yang sama. Mereka masih ingin melihat Indonesia menjadi negara yang lebih adil, lebih maju, dan tidak membiarkan rakyatnya terus-menerus berjuang sendirian menghadapi kesulitan hidup.
Namun, semakin lama mereka memikirkan masa depan negeri ini, semakin mereka sadar bahwa masa depan mereka sendiri juga belum jelas.
"Mulai semester ini, kita harus serius," kata Nadia saat mereka berkumpul kembali di kantin kampus.
"Serius apanya? Perasaan dari dulu juga serius," jawab Raka sambil mengaduk es teh.
"Serius lulus, Rak. Jangan sampai nanti kita sibuk membahas masa depan Indonesia, tapi masa depan sendiri malah nggak jelas."
Bima tertawa. Sinta ikut tersenyum, sedangkan Arga hanya diam sambil memandangi buku catatan di depannya.
Belakangan ini, Arga memang lebih sering diam.
Tidak ada yang terlalu memperhatikannya. Mereka semua sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Nadia mulai membantu sebuah usaha kecil untuk menambah penghasilan. Bima semakin sering menghabiskan waktu di laboratorium kampus. Sinta mulai mengumpulkan bahan penelitian. Raka sibuk mengembangkan kanal YouTube mereka meskipun penontonnya belum banyak.
Arga sendiri masih berusaha menyelesaikan beberapa tugas yang tertunda.
Awalnya, ia menganggap semua itu biasa.
Ia pikir, dirinya hanya sedang lelah.
Ia tidak tahu bahwa tahun 2018 akan menjadi awal dari masa yang panjang, ketika ia mulai kehilangan arah dan perlahan menjauh dari mimpi yang dulu begitu ia yakini.
1. Januari 2018 — Semua Orang Punya Tujuan
Pada awal semester, mereka membuat kesepakatan sederhana.
Mereka akan tetap menjalankan Ruang Nalar, tetapi tidak boleh mengorbankan kuliah. Setiap orang harus menyelesaikan tanggung jawab akademiknya masing-masing.
Raka menyusun jadwal unggahan video. Nadia mulai mengumpulkan data ekonomi dan pendidikan. Bima mengerjakan proyek teknik. Sinta mempersiapkan rancangan penelitian tentang ketimpangan sosial.
Arga berjanji akan mulai menyusun rencana penelitian untuk tugas akhirnya.
"Aku mau mengangkat masalah pendidikan di desa," katanya ketika mereka berdiskusi di kamar kos Raka.
"Bagus. Kamu kan punya pengalaman sendiri," jawab Sinta.
"Aku ingin meneliti kenapa anak-anak dari keluarga sederhana sering kesulitan melanjutkan pendidikan. Bukan cuma karena biaya, tapi juga karena informasi dan kesempatan."
Nadia mengangguk.
"Topiknya menarik. Tapi kamu harus mempersempit masalahnya. Jangan sampai semua persoalan Indonesia kamu masukkan ke satu penelitian."
Mereka tertawa.
Malam itu, Arga pulang dengan semangat. Ia membuka laptop, membuat folder baru, lalu mengetik judul sementara penelitiannya.
Pendidikan dan Kesempatan bagi Anak dari Keluarga Sederhana.
Ia memandangi judul itu cukup lama.
Dalam pikirannya, penelitian tersebut bukan sekadar syarat kelulusan. Ia ingin memahami persoalan yang selama ini dekat dengan kehidupannya sendiri.
Namun, beberapa hari kemudian, masalah mulai muncul.
Uang kiriman dari rumah terlambat. Ayahnya belum mendapatkan pekerjaan tetap, sementara ibunya sedang sakit ringan dan tidak bisa berjualan seperti biasa.
Arga mulai mengambil pekerjaan tambahan di tempat fotokopi.
Awalnya hanya beberapa jam setelah kuliah. Lama-kelamaan, ia menerima lebih banyak pekerjaan karena membutuhkan uang untuk membayar kebutuhan sehari-hari.
Ia mulai sering pulang malam.
Tugas kuliahnya tertunda.
Pertemuan dengan dosen pembimbing beberapa kali ia lewatkan.
Ketika Raka bertanya mengapa ia jarang datang ke kamar kos, Arga hanya menjawab singkat.
"Lagi banyak kerjaan."
Ia tidak ingin teman-temannya khawatir. Ia juga tidak ingin dianggap tidak mampu mengatur waktu.
Padahal, masalahnya bukan sekadar waktu.
Untuk pertama kalinya, Arga mulai merasa bahwa perjuangan yang selama ini ia banggakan ternyata tidak sesederhana yang ia bayangkan.
2. April 2018 — Saat Semangat Tidak Cukup
Memasuki April, Ruang Nalar mulai mengalami sedikit perkembangan.
Salah satu video mereka tentang pendidikan mendapatkan lebih banyak penonton dibandingkan video sebelumnya. Beberapa orang meninggalkan komentar, meminta mereka membahas biaya kuliah, kesempatan kerja, dan sulitnya mendapatkan beasiswa.
Raka sangat senang.
"Ga, lihat ini! Ada yang minta kita bahas pendidikan di daerah terpencil."
Arga tersenyum ketika melihat layar ponsel temannya.
"Dulu kita berharap ada yang nonton saja sudah senang."
"Sekarang mulai ada yang ngajak diskusi. Lumayan, kan?"
"Iya. Bagus."
Namun, jawaban Arga terdengar berbeda dari biasanya.
Raka menatapnya sebentar.
"Kamu kenapa, sih? Dari kemarin kelihatan capek banget."
"Nggak apa-apa."
"Kalau ada masalah, cerita saja."
Arga ingin bercerita. Ia ingin mengatakan bahwa uangnya semakin menipis, tugas kuliahnya menumpuk, dan ia mulai takut tidak bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.
Namun, kata-kata itu tertahan.
Ia melihat Raka yang begitu bersemangat mengembangkan kanal mereka. Ia melihat Nadia yang mulai memahami persoalan ekonomi dengan lebih dalam. Ia melihat Bima dan Sinta yang terus maju dengan penelitian masing-masing.
Sementara dirinya?
Ia bahkan belum bisa memastikan kapan akan menyelesaikan proposal penelitian.
"Aku cuma kurang tidur," jawabnya akhirnya.
Raka tidak memaksa.
Hari-hari berikutnya, Arga semakin jarang mengikuti kegiatan Ruang Nalar. Ia masih membaca pesan di grup, tetapi lebih sering menjadi penonton daripada ikut berdiskusi.
Ketika teman-temannya membicarakan rencana video baru, ia memilih diam.
Ketika mereka mengajaknya bertemu, ia terkadang menolak karena harus bekerja.
Ia mulai merasa tertinggal.
Yang paling menyakitkan bukanlah melihat teman-temannya berhasil. Ia justru ikut senang ketika mereka mencapai sesuatu.
Yang menyakitkan adalah perasaan bahwa dirinya tidak lagi bergerak ke mana-mana.
Dulu, Arga yakin bahwa pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki keadaan. Kini, ia justru kesulitan menyelesaikan pendidikannya sendiri.
Suatu malam, ia membuka kembali catatan yang pernah ditulisnya pada 2017.
"Aku tidak ingin Indonesia hanya terlihat maju dari kejauhan. Aku ingin orang-orang yang hidup di dalamnya benar-benar merasakan kemajuan itu."
Ia membaca kalimat tersebut berulang kali.
Lalu menutup buku itu.
Malam itu, ia tidak tahu harus melanjutkan dari mana.
3. Oktober 2018 — Tiga Orang Wisuda
Oktober 2018 menjadi bulan yang tidak akan mudah dilupakan oleh mereka.
Setelah melewati berbagai tugas, ujian, revisi, dan urusan administrasi, Bima berhasil menyelesaikan kuliahnya. Pada bulan yang sama, Sinta juga dinyatakan lulus dan mengikuti wisuda.
Bagi mereka, itu adalah hasil dari perjalanan panjang yang tidak selalu mudah.
Raka datang membawa kamera. Nadia membawa bunga sederhana untuk diberikan kepada kedua sahabatnya.
Arga juga datang.
Ia mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Dari luar, ia terlihat seperti mahasiswa lain yang menghadiri acara wisuda teman-temannya.
Namun, di dalam tasnya, ada sebuah buku catatan lama yang selalu ia bawa.