November 2019 — Jakarta
Sejak pertemuan terakhir mereka setelah wisuda Nadia, Arga semakin jarang muncul di grup WhatsApp Ruang Nalar.
Dulu, dialah yang sering mengirimkan artikel tentang pendidikan, kemiskinan, dan kehidupan masyarakat desa. Sekarang, pesan-pesannya hanya berupa balasan singkat. Kadang-kadang, bahkan pesan dari Raka yang menanyakan kabarnya hanya dibaca tanpa jawaban.
Nadia mengira Arga sedang sibuk menyelesaikan skripsi. Bima berpikir Arga mungkin sedang mencari pekerjaan sambil kuliah. Sinta merasa ada sesuatu yang berbeda, tetapi ia tidak ingin terlalu jauh mencampuri urusan pribadi temannya.
Mereka semua punya kesibukan masing-masing.
Bima mulai mencari pekerjaan di bidang teknik. Sinta sibuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan pertamanya. Nadia membantu usaha keluarganya sekaligus menikmati kehidupan setelah lulus. Sementara itu, Raka terus mengembangkan kanal YouTube mereka.
Hanya Arga yang seolah berjalan tanpa tujuan yang jelas.
Suatu malam, Raka mengirim pesan ke grup.
Raka: “Minggu ini kumpul, yuk. Ada ide video baru tentang pendidikan di daerah.”
Nadia: “Boleh. Sabtu aku bisa.”
Bima: “Aku ikut kalau nggak ada panggilan kerja.”
Sinta: “Arga gimana?”
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Tidak ada jawaban.
Akhirnya, Arga hanya mengetik:
Arga: “Maaf, aku belum bisa ikut. Ada urusan.”
Raka menatap layar ponselnya cukup lama.
“Urusan apa, sih, yang sampai bikin dia nggak pernah punya waktu?” gumamnya.
Namun, ia tidak membalas lagi.
Mereka belum tahu bahwa Arga sedang mengambil keputusan besar, sendirian, tanpa memberi tahu siapa pun.
Januari 2020 — Sebuah Pintu Kecil
Awal tahun itu, Arga mendapat tawaran mengajar di sebuah Madrasah Aliyah swasta di pinggiran Kota Cimahi, Jawa Barat.
Madrasah itu tidak besar. Gedungnya sederhana, beberapa ruang kelas membutuhkan perbaikan, dan fasilitas pembelajarannya jauh dari kata lengkap. Sebagian siswanya berasal dari keluarga yang harus berhitung berkali-kali sebelum mengeluarkan uang untuk kebutuhan sekolah.
Arga datang untuk wawancara dengan kemeja putih yang sudah beberapa kali ia pakai. Ia membawa map berisi ijazah terakhir yang dimilikinya, transkrip nilai, dan beberapa dokumen pendukung.
Di hadapan kepala madrasah, ia duduk dengan kedua tangan bertaut.
“Masih kuliah?” tanya kepala madrasah.
“Masih, Pak.”
“Skripsi sudah sampai mana?”
Arga terdiam sebentar.
“Belum selesai, Pak. Masih ada beberapa hal yang harus saya benahi.”
Kepala madrasah mengangguk. Ia tidak menghakimi, tetapi juga tidak memberikan janji yang berlebihan.
“Kami sedang membutuhkan guru. Untuk sementara, statusnya guru honorer. Gajinya belum besar, dan tugasnya bukan hanya mengajar. Kadang-kadang harus membantu kegiatan sekolah juga. Kamu bersedia?”
Arga melihat daftar mata pelajaran yang dibutuhkan. Ia membayangkan kelas-kelas sederhana, siswa yang duduk dengan buku seadanya, serta anak-anak yang mungkin memiliki masalah serupa dengan yang pernah ia alami.
Ia teringat alasan mengapa dulu memilih jurusan pendidikan.
“Saya bersedia, Pak.”
Jawabannya terdengar mantap. Namun, jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang belum selesai.
Arga mulai mengajar Sejarah Indonesia dan membantu beberapa kegiatan administrasi. Setiap pagi ia menyiapkan bahan ajar. Ia belajar menyampaikan materi dengan bahasa sederhana, karena ia tahu tidak semua siswa bisa langsung memahami penjelasan dari buku.
Di kelas, ia tidak hanya bercerita tentang masa lalu Indonesia. Ia juga mengajak siswa memikirkan masa depan mereka sendiri.
“Menurut kalian, kenapa ada anak yang punya banyak kesempatan untuk sekolah, sementara anak lain harus berjuang hanya supaya bisa tetap masuk kelas?”
Seorang siswa di bangku belakang mengangkat tangan.
“Karena orang tuanya beda-beda, Pak. Ada yang punya uang, ada yang nggak.”
Arga mengangguk.
“Itu salah satunya. Tapi jangan berhenti di situ. Kita perlu bertanya lagi. Kenapa kesempatan bisa berbeda? Apa yang bisa dilakukan sekolah, masyarakat, dan pemerintah supaya perbedaan itu tidak membuat seseorang kehilangan masa depannya?”
Kelas menjadi lebih tenang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga merasa pertanyaan-pertanyaan yang selama ini hanya memenuhi kepalanya memiliki tempat untuk dibicarakan.
Ia belum menyelesaikan skripsi. Ia belum punya pekerjaan dengan penghasilan layak. Ia bahkan belum tahu apakah suatu hari bisa membuat perubahan besar.
Namun, setiap kali seorang siswa mulai memahami materi yang sebelumnya terasa sulit, Arga merasakan sesuatu yang sudah lama hilang: dirinya masih berguna.
Setidaknya, itulah yang ia yakini saat itu.
Maret 2020 — Dunia Berubah
Kemudian, berita tentang virus corona semakin memenuhi layar televisi dan ponsel.
Awalnya, Arga mengikuti kabar itu seperti kebanyakan orang. Ia membaca berita tentang penyebaran virus, rumah sakit yang mulai kewalahan, dan negara-negara yang membatasi kegiatan masyarakat.
Namun, keadaan berubah cepat.
Pada Maret 2020, Indonesia mulai menerapkan berbagai pembatasan untuk menekan penyebaran COVID-19. Sekolah-sekolah menghentikan pembelajaran tatap muka dan beralih ke pembelajaran jarak jauh.
Madrasah tempat Arga mengajar ikut menyesuaikan diri.
Masalahnya, pembelajaran jarak jauh bukan perkara sederhana bagi semua siswa.
Sebagian memiliki telepon pintar sendiri. Sebagian harus bergantian menggunakan ponsel orang tua. Ada yang kesulitan membeli kuota internet. Ada pula yang tinggal di tempat dengan jaringan tidak stabil.
Pada rapat guru pertama setelah kebijakan pembelajaran dari rumah diterapkan, kepala madrasah menjelaskan bahwa kegiatan belajar harus tetap berjalan.
“Kita usahakan semampunya. Jangan sampai anak-anak kehilangan kesempatan belajar hanya karena keadaan sedang sulit.”
Arga memandangi catatan di tangannya.
Bagaimana caranya mengajar siswa yang bahkan tidak selalu memiliki akses internet?
Ia mulai membuat materi dalam bentuk dokumen ringan, mengirimkan tugas melalui WhatsApp, dan menyiapkan penjelasan singkat agar siswa tidak harus menghabiskan banyak kuota untuk memahami pelajaran.
Untuk siswa yang sulit mengakses materi daring, ia membantu sekolah menyiapkan bahan cetak yang bisa diambil sesuai aturan dan kondisi yang berlaku saat itu.
Tidak semua berjalan lancar.
Ada siswa yang terlambat mengumpulkan tugas. Ada yang menghilang berminggu-minggu dari grup kelas. Ada pula yang menjawab jujur bahwa ia harus membantu orang tuanya bekerja.
Suatu sore, seorang siswa mengirim pesan kepadanya.
“Pak, maaf saya belum mengerjakan tugas. HP dipakai ibu untuk jualan, sedangkan saya harus bantu di rumah. Nanti kalau sudah bisa, saya kerjakan.”
Arga membaca pesan itu berulang kali.
Ia tidak langsung membalas dengan teguran.
Ia mengetik pelan:
“Tidak apa-apa. Kalau sudah ada kesempatan, kerjakan semampumu. Kalau ada materi yang belum kamu pahami, bilang ke Bapak. Kita cari cara supaya kamu tetap bisa belajar.”
Setelah mengirim pesan tersebut, Arga meletakkan ponselnya.
Ia teringat penelitian skripsinya tentang kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga sederhana. Dulu, ia membahasnya melalui teori, data, dan hasil wawancara.
Sekarang, masalah itu hadir di hadapannya setiap hari.
Pandemi membuat kesenjangan yang sebelumnya sering dibicarakan di ruang diskusi menjadi semakin nyata. Bagi sebagian keluarga, belajar dari rumah berarti memiliki waktu bersama anak. Bagi keluarga lain, hal itu berarti memikirkan biaya internet, perangkat belajar, pekerjaan yang hilang, dan kebutuhan makan dalam satu waktu.
Arga menyadari sesuatu yang menyakitkan: pendidikan tidak bisa hanya menuntut siswa untuk rajin apabila keadaan di sekeliling mereka tidak memberi kesempatan yang cukup.
Tetapi ia juga sadar bahwa niat baik seorang guru tidak otomatis menyelesaikan masalah yang begitu besar.
Ia hanya bisa mencoba membantu, satu siswa demi satu siswa.
Mei 2020 — Pertemuan di Layar Kecil
Di tengah situasi yang tidak menentu, Raka menghidupkan kembali diskusi Ruang Nalar melalui panggilan video.
Wajah mereka muncul satu per satu di layar.
Bima terlihat lelah setelah menjalani beberapa proses seleksi kerja. Nadia berada di sudut rumah yang sekaligus digunakan keluarganya untuk menjalankan usaha. Sinta baru selesai mengerjakan tugas dari tempat kerjanya. Raka menyiapkan catatan untuk video baru.
“Gila, ya,” kata Raka. “Dulu kita ngomongin masalah pendidikan. Sekarang semua orang dipaksa menghadapi masalah itu secara langsung.”
Nadia mengangguk.
“Dan dampaknya nggak sama buat semua orang. Ada keluarga yang bisa menyiapkan perangkat untuk anaknya, ada yang bahkan kesulitan membeli kuota.”
Bima menambahkan, “Kalau kita mau membahas ini, jangan cuma mengandalkan komentar di media sosial. Kita harus cari data dan dengar pengalaman orang yang benar-benar mengalaminya.”
“Setuju,” jawab Sinta. “Jangan sampai kita malah menjadikan kesulitan orang lain sebagai bahan konten.”
Mereka lalu membahas ide video tentang pembelajaran jarak jauh dan ketimpangan akses pendidikan.
Di tengah diskusi, Raka tiba-tiba teringat seseorang.
“Eh, Arga ke mana? Dari tadi belum masuk.”
Sinta melihat daftar peserta.
“Sudah aku kirim undangan. Pesannya juga dibaca.”
Nadia menghela napas.
“Jangan-jangan dia masih sibuk skripsi.”
Bima mengangkat bahu. “Kalau memang sibuk, tinggal bilang. Kita juga punya kesibukan masing-masing.”
Raka tidak langsung menanggapi.
Ia mengirim pesan pribadi kepada Arga.
“Ga, kamu baik-baik saja? Kami lagi bahas video pendidikan. Kalau ada waktu, ikutlah. Kangen diskusi kayak dulu.”
Pesan itu terkirim.
Namun, tidak ada balasan malam itu.
Sementara teman-temannya sibuk merancang video, Arga sedang memeriksa tugas-tugas siswa. Di sebelah laptopnya terdapat buku-buku kuliah yang sudah lama tidak ia buka.
Ia tahu ada pesan dari Raka.
Ia juga tahu dirinya seharusnya mulai mengurus skripsi lagi.
Tetapi setiap kali membuka berkas penelitian, ia merasa seperti sedang berhadapan dengan kehidupan lama yang tidak sanggup ia lanjutkan.
Ia menutup laptop.
Besok pagi, ia masih harus menyiapkan materi untuk siswa-siswanya.
Untuk saat itu, ia memilih menyelesaikan pekerjaan yang terasa paling dekat dan paling mungkin ia tuntaskan.
2021 — Mengajar di Tengah Ketidakpastian
Tahun berganti, tetapi pandemi belum berakhir.