NEGERI YANG BELUM SEMBUH

Dwi Agus Setyawan
Chapter #6

Bab 6 — Rahasia di Balik Kesibukan

 Oktober 2026 — Bandung, Jawa Barat

Pertemuan mereka kali ini terasa berbeda sejak awal.

Setelah pertemuan sebelumnya, ketika Arga mengaku bahwa dirinya telah mengundurkan diri dari kampus, Nadia, Bima, Sinta, dan Raka masih menyimpan banyak pertanyaan. Mereka tidak mempermasalahkan keputusan Arga untuk menjadi guru honorer. Yang membuat mereka bingung adalah bagaimana Arga bisa menyembunyikan keputusan sebesar itu selama bertahun-tahun.

Maka, ketika mereka kembali berkumpul pada Oktober 2026, Raka langsung membuka pembicaraan.

“Ga, aku mau memastikan sesuatu. Kamu sekarang benar-benar sudah nggak kuliah lagi?”

Arga yang sedang mengaduk minumannya mengangkat wajah.

“Siapa bilang? Aku kuliah, kok.”

Keempat temannya langsung menatapnya.

“Lah, bukannya kamu sudah mengundurkan diri?” tanya Bima.

“Dari kampus yang dulu, iya. Tapi sekarang aku kuliah di Universitas Terbuka. Sistemnya online. Bulan ini aku sudah semester tiga.”

Nadia mengernyitkan dahi.

“Sebentar. Jadi, kamu sudah kuliah lagi sejak kapan?”

“Sudah beberapa waktu lalu. Aku mulai lagi setelah mempertimbangkan semuanya.”

Sinta menghela napas lega, meskipun masih terlihat bingung.

“Kenapa baru cerita sekarang, Ga?”

Arga tersenyum kecil.

“Karena kali ini aku ingin memastikan dulu kalau aku benar-benar bisa menjalaninya. Aku nggak mau banyak bicara, terus berhenti di tengah jalan lagi.”

Raka mengangguk perlahan.

“Masuk akal. Tapi kamu tahu, kan, kami bukan orang asing yang harus kamu beri kabar setelah semuanya berhasil?”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu selalu begitu?” tanya Nadia.

Arga terdiam sebentar.

“Entahlah. Mungkin aku sudah terlalu terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri.”

Percakapan itu seharusnya menjadi awal yang baik. Mereka bahkan sempat bercanda soal tugas kuliah online, ujian, dan kesibukan Arga sebagai guru honorer.

Namun, belum sampai satu jam mereka berkumpul, ponsel Nadia bergetar berkali-kali.

Ia membuka salah satu pesan dari grup keluarga.

Kemudian ia membuka pesan lainnya.

Lalu sebuah foto dokumen yang dikirimkan oleh saudaranya.

Wajah Nadia berubah.

“Ga, ini kamu, kan?”

Ia menyodorkan layar ponselnya kepada Arga.

Di layar itu terdapat sebuah unggahan yang sedang ramai dibicarakan di kalangan tenaga pendidik dan operator madrasah di Cimahi. Unggahan tersebut membahas seorang operator yang dinilai sangat teliti dan membantu banyak lembaga pendidikan, mulai dari jenjang RA, MI, MTs, hingga MA.

Nama Arga tercantum di dalamnya.

Bukan hanya karena pekerjaannya sendiri, tetapi juga karena kebiasaannya membantu sekolah lain menyelesaikan berbagai persoalan administrasi, merapikan data, dan memahami alur pengelolaan sistem pendidikan.

Di bagian akhir unggahan, seseorang menulis:

“Kalau mencari operator yang teliti, sabar, dan mau membantu tanpa banyak bicara, salah satu nama yang sering disebut di Cimahi adalah Arga. Banyak lembaga terbantu karena dia tidak segan berbagi pengetahuan.”

Raka membaca unggahan itu dua kali.

“Sebentar. Jadi, selama ini kamu bukan cuma mengajar?”

Arga menggaruk kepalanya.

“Ya, aku juga membantu administrasi madrasah.”

“Ini bukan sekadar membantu administrasi, Ga,” kata Bima. “Dari RA sampai MA? Kamu membantu banyak lembaga?”

“Kalau mereka bertanya dan aku bisa membantu, ya aku bantu.”

Nadia masih menatap layar ponselnya.

“Sekolah saudaraku juga pernah dibantu kamu, tahu nggak?”

Arga menoleh.

“Sekolah saudaramu?”

“Iya. Madrasah tempat saudaraku bekerja. Dia pernah cerita ada orang yang membantu mereka merapikan data dan memahami proses administrasi. Katanya, orang itu sabar banget menjelaskan. Aku baru tahu namanya sekarang.”

Arga terdiam.

“Kalau itu, mungkin memang aku yang membantu. Tapi aku nggak tahu kalau dia saudaramu.”

Nadia tertawa kecil, tetapi ekspresinya tetap menunjukkan keheranan.

“Dunia ini ternyata sempit sekali.”

Sinta kemudian membuka percakapan lain yang berisi ucapan terima kasih dari beberapa guru.

“Ga, ini juga tentang kamu?”

Arga melihat layar tersebut.

Ternyata, beberapa guru dari madrasah tempatnya mengajar telah mengabarkan bahwa mereka memperoleh kesempatan mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) setelah Arga membantu mereka memahami informasi, persyaratan, dan proses administrasi yang perlu dipersiapkan.

“Sebagian memang aku bantu,” jawab Arga. “Tapi mereka yang belajar, melengkapi persyaratan, dan mengikuti prosesnya sendiri. Aku cuma membantu supaya mereka nggak bingung.”

Bima menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Jadi, kamu membantu guru-guru mengurus PPG, membantu sekolah lain, menjadi operator, mengajar, dan masih kuliah semester tiga?”

Arga mengangguk.

“Kurang lebih.”

Raka tertawa pendek, tetapi bukan karena menganggapnya lucu.

“Ga, kamu sadar nggak, dari tadi kamu menjelaskan semuanya seolah-olah itu hal biasa?”

Arga terdiam.

“Memangnya harus bagaimana?”

“Bukan begitu maksudku,” jawab Raka. “Kami cuma merasa ada banyak hal tentang dirimu yang baru kami ketahui sekarang.”

Kalimat itu membuat suasana kembali hening.

Mereka senang mengetahui bahwa Arga tetap berusaha melanjutkan pendidikan. Mereka juga bangga mendengar bahwa pekerjaannya membantu banyak orang. Namun, bersamaan dengan itu, muncul perasaan aneh yang sulit mereka jelaskan.

Lihat selengkapnya