Nemesis : Misi Balas Dendam Untuk Adrian

Azalea Rhododendron
Chapter #4

Misi Dimulai

Kata besok ternyata tidak pernah benar-benar datang.

Hari itu melompat menjadi tujuh hari kemudian.

Seminggu penuh Adrestia menunda niatnya. Bukan karena dia melupakan laptop itu, bukan karena rasa penasarannya hilang, justru sebaliknya. Setiap malam kalimat Adrian terus terngiang di kepalanya. Tapi ia terlalu sibuk menjalankan peran yang tak pernah dia pilih.

Menjadi penopang Mamanya.

Denisa Aksara hampir tidak keluar kamar selama tiga hari pertama. Matanya sembab, suaranya serak dan tubuhnya seperti kehilangan tenaga untuk sekadar duduk tegak. Arkan dan Alvaro sibuk mengurus proses hukum, hasil otopsi dan bertemu dengan pihak kepolisian. Mereka pulang larut dengan wajah tegang.

"Papa dan Alvaro akan urus ini," kata Arkan suatu malam.

"Dari hasil otopsi, kita bisa tahu lebih banyak. Pelakunya nggak akan lolos."

Alvaro mengangguk tegas. "Kami nggak akan diam."

Adrestia hanya mengangguk pelan. Dia awalnya ingin berkata tentang laptop.

Tentang kalimat Adrian.

Tapi dia bisa membayangkan jawaban mereka.

"Jangan terlalu banyak mikir, Ressi.."

"Kita serahkan ke polisi."

Dan dia tahu, mereka tidak akan percaya pada firasatnya.

Jadi dia akhirnya memilih untuk tetap diam.

💻

Selama seminggu, Adrestia mengajak Denisa berjalan di taman kecil dekat rumah, duduk di teras sore hari, bahkan sekadar menonton acara televisi bersama meski tak satu pun benar-benar menonton. Ia memegang tangan ibunya setiap kali tangisan itu datang tiba-tiba.

"Kamu nggak capek nemenin Mama?" tanya Denisa suatu sore, suaranya pelan.

Adrestia tersenyum lembut. "Enggak. Mama aja yang gak capek nangis."

Denisa tertawa kecil, walau terdengar rapuh.

Namun di hari ketujuh, sesuatu berubah.

💻

Pagi itu, bel rumah berbunyi membuat Adrestia yang duduk menonton televisi sendiri segera berjalan ke arah pintu untuk memeriksa siapa yang bertamu ke rumahnya. Begitu pintu Adrestia buka, dia melihat nenek dari pihak ibunya berdiri di sana bersama beberapa kerabat perempuan lainnya. Wajah-wajah dewasa yang hangat tapi penuh pengertian.

"Ressi cucuku!" sapa neneknya lembut. Panggilan favorite keluarganya

"Mana Mama kamu?"

"Mama ada dii kamar. Nek,"

Mereka masuk setelah berbincang singkat di sofa ruang tamu. Neneknya kemudian berkata dengan suara tenang namun tegas.

"Kami mau ajak Mama kamu keluar. Sesama perempuan. Nenek pernah kehilangan anak, jadi Nenek tahu rasanya."

Adrestia terdiam.

Lihat selengkapnya