Siang itu rumah keluarga Aksara terasa lebih hidup dibandingkan beberapa hari terakhir.
Aroma masakan memenuhi ruang makan besar di lantai bawah. Meja kayu panjang yang biasanya terasa sunyi kini dipenuhi piring, mangkuk sup hangat, dan gelas air dingin yang berkabut.
Untuk pertama kalinya sejak sepuluh hari terakhir, ada sesuatu yang terasa normal.
Adrestia duduk di kursinya, di sisi kiri meja makan. Di depannya sepiring nasi dengan lauk sederhana yang dimasak langsung oleh Mamanya.
Dia menatap makanan itu beberapa detik sebelum akhirnya mengambil sendok.
Di seberangnya duduk Alvaro, adik kembar laki-lakinya. Rambutnya masih sedikit berantakan seperti biasa, tapi ekspresinya jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya.
Di ujung meja duduk papanya.
Arkan Aksara.
Pria itu biasanya terlihat sangat tegasbahkan saat sedang makan bersama keluarga. Namun siang ini wajahnya sedikit lebih lembut.
Dan di sisi kanan meja.
Denisa Aksara.
Mama mereka. Makan siang bersama mereka setelah sekian lama.
Perempuan itu sedang menuangkan sup ke mangkuk Alvaro sambil tersenyum kecil.
Senyum yang selama seminggu lebih hampir tidak pernah terlihat.
Adrestia memperhatikan mamanya diam-diam.
Satu minggu lebih.
Sudah satu minggu lebih sejak kematian Adrian.
Dan rumah ini sempat terasa seperti tempat yang kehilangan napasnya.
Denisa hampir tidak keluar kamar selama beberapa hari pertama. Bahkan makan pun sering dilewatkan.
Tapi hari ini.
Da terlihat lebih cerah.
Masih ada kelelahan di matanya, tapi setidaknya ia tersenyum.
Alvaro memecah keheningan.
"Supnya enak banget, Ma!"
Denisa tertawa kecil pujian anak bungsunya itu.
"Karena kamu yang makan, jadi kelihatannya enak."
"Lah, emang enak beneran!"
Adrestia ikut tersenyum tipis. Dia mengambil sedikit sup ayam yang dihidangkan padanya dan mencicipinya.
Hangat.
Rumah.
Hal sederhana seperti ini tiba-tiba terasa sangat berharga.
Arkan menaruh sendoknya pelan.
"Kalian masih berkomunikasi dengan teman-teman kalian, kan?"
Alvaro langsung menjawab.
"Iya, pah. Cuman…" dia melirik ke arah Mamanya.
Alvaro berhenti sebentar.
"Orang-orang masih nanya tentang Kak Adrian."
Suasana meja makan mendadak sedikit lebih sunyi.
Denisa menunduk sebentar, tapi ia tidak terlihat hancur seperti sebelumnya.
Adrestia bisa merasakan Mamanya itu menarik napas pelan.
"Memang wajar mereka penasaran,"
Adrestia menggenggam sendoknya sedikit lebih kuat.
Kematian Adrian masih menjadi misteri.
Polisi sudah menyelidiki.
Berita sempat muncul di media lokal.
Namun sampai hari ini.
Pembunuh Adrian Aksara masih belum tertangkap.
Arkan berbicara dengan nada tenang.
"Polisi masih bekerja."