Nemesis : Misi Balas Dendam Untuk Adrian

Azalea Rhododendron
Chapter #13

Video

Sinar matahari menembus kamar Adrestia dengan suasana yang hangat.


Adrestia duduk di kursi meja belajarnya, tubuhnya condong ke depan, wajahnya diterangi cahaya biru dari layar laptop.


Di layar terbuka beberapa jendela program sekaligus.


Forum Erebus.

Chat terenkripsi.

Folder arsip yang berhasil ia salin dari server.


Dan sebuah direktori baru yang barusan saja ia temukan beberapa menit lalu.


Namanya sederhana.

/ARCHIVE_BLACK/


Jantung Adrestia berdegup lebih cepat.


Dia menggerakkan kursor perlahan.


Klik.


Folder itu terbuka.


Di dalamnya ada beberapa file video.


Nama-namanya tidak jelas.


Format file panjang, penuh angka dan hash enkripsi.


Namun satu file langsung menarik perhatiannya.

capture_0417_final.mp4


Kata final membuat tenggorokannya terasa kering.


Adrestia menelan ludah.


Tangannya sedikit gemetar di atas mouse.

"Apa ini?"


Dia melihat ukuran file.

1.8 GB

Video panjang.


Dia menarik napas dalam.

Kursor bergerak.

Klik.


Video mulai dimuat.

Beberapa detik pertama hanya layar hitam.

Kemudian muncul suara.

Suara statis kamera.

Lalu gambar mulai terlihat.

Ruangan gelap.

Lampu neon menggantung di langit-langit, berkedip samar.

Dinding beton.

Lantai kotor.

Seperti gudang kosong.

Atau ruang penyimpanan bawah tanah.

Adrestia mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke layar.

Lalu,

Tubuhnya membeku.

Di tengah ruangan ada sebuah kursi logam.

Dan seseorang duduk di sana.

Tangan diikat ke belakang.

Kepala tertunduk.

Rambut hitam acak-acakan.

Wajahnya penuh luka.

Darah mengering di sudut bibir.

Napas Adrestia langsung berhenti.

"..."


Beberapa detik ia tidak bisa bergerak.

Matanya membesar.

Bibirnya terbuka sedikit.

Kemudian suara keluar dari tenggorokannya dengan sangat pelan.

"...Bang…"

Itu Adrian.

Tidak mungkin salah.


Meskipun wajahnya bengkak dan memar, ia tetap mengenali kakaknya.

Kamera merekam dari sudut ruangan.

Seperti CCTV.

Suara langkah kaki terdengar.

Beberapa orang masuk ke ruangan.

Wajah mereka tidak terlihat jelas.

Hanya bayangan.


Salah satu dari mereka mendekat ke Adrian.

"Jadi…"

Suara pria.

Dingin.

"Ini si GhostTrace itu?"

Adrestia merasakan tangannya mulai dingin.


GhostTrace.

Akun Erebus milik Adrian.


Pria itu menarik rambut Adrian ke belakang.

Memaksa kepalanya terangkat.

Adrian mengerang pelan.

"Ng…h…"


Lihat selengkapnya