Nemesis : Misi Balas Dendam Untuk Adrian

Azalea Rhododendron
Chapter #14

Motor Asing

Malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Jam sudah menunjukkan pukul 19. 30 Malam hari.


Rumah keluarga Aksara yang besar dan rapi itu dipenuhi keheningan yang aneh. Lampu ruang tamu masih menyala, tapi sebagian besar rumah sudah gelap. Arkan masih belum pulang dari kantor. Alvaro sedang di kamarnya. Denisa sudah tidur lebih awal karena kelelahan setelah seharian keluar rumah.


Namun di kamar Adrestia, satu lampu masih menyala.


Dan di depan meja belajar itu, Adrestia duduk dengan tubuh sedikit membungkuk ke arah layar laptop.

Matanya merah.

Bukan hanya karena kurang tidur.

Bibirnya luka karena dia gigit sampai berdarah.


Tadi Denisa bertanya kenapa bibir Adrestia luka, lalu gadis itu menjawab tidak sengaja dia gigit karena kesal dengan kesalahan waktu berkerja di laptop.

Dan Denisa percaya dan mengobati bibir Adrestia yang terluka, padahal kenyataannya bukan begitu.


Tapi karena video itu.

Video yang terus berputar di kepalanya sejak beberapa jam lalu.

Wajah Adrian yang memar.

Suara pukulan.

Dan kalimat terakhir yang membuat darahnya membeku.

"Pepatah mengatakan bahwa rasa ingin tahumu bisa membunuhmu!"

Adrestia menutup matanya sebentar.

Menarik napas panjang.

Namun bayangan itu tidak hilang.


Dia kembali membuka layar laptopnya.

Erebus Market masih aktif.


Forum itu tidak pernah benar-benar tidur. Selalu ada transaksi, selalu ada diskusi, selalu ada orang yang menjual sesuatu yang seharusnya tidak boleh dijual.

Manusia.

Data pribadi.

Narkoba.

Senjata.


Atau sesuatu yang bahkan lebih gelap dari itu.

Adrestia menggulir halaman forum perlahan.

Dia tidak ikut transaksi.

Tapi hanya mengamati.

Mengumpulkan bukti.

Mencatat username.

Menyimpan screenshot.


Dan di sudut layar, jendela chat dengan CipherArcher masih terbuka.


Kursor berkedip pelan.


Namun sebelum ia sempat mengetik sesuatu, sebuah notifikasi baru muncul di layar.

Bukan dari CipherArcher.

Bukan dari forum biasa.

Tapi dari pesan sistem Erebus Market.

Tulisan abu-abu muncul di layar hitam.

System Message:

Curiosity killed him.

Jantung Adrestia berhenti sesaat.

Tangannya langsung membeku di keyboard.

Matanya menatap kalimat itu lama.

Curiosity killed him.

Kalimat yang sama.

Kalimat yang mirip dengan apa yang diucapkan pria di video penyiksaan Adrian.


Napasnya mulai tidak stabil.

"Apa?"

Dia berbisik pelan.

Kursor masih berkedip di layar.

Pesan itu tidak memiliki username.

Tidak ada identitas pengirim.

Hanya System Message.

Seolah-olah forum itu sendiri yang berbicara padanya.


Adrestia langsung mengetik cepat di jendela chat.

| GhostTrace: Cipher!


Beberapa detik kemudian balasan datang.

| CipherArcher: Yeah.


Adrestia langsung mengirim tangkapan layar dari pesan tadi.


Beberapa detik tidak ada balasan.


Lalu Cipher mengetik.

| CipherArcher: Interesting.


Adrestia mengerutkan kening.

| GhostTrace: Interesting?!

| GhostTrace: That's a threat!

| GhostTrace: Did you see the sentence?


Beberapa detik kemudian balasan muncul.

| CipherArcher: I saw it.

| CipherArcher: Question is who sent it.


Adrestia menggigit bibirnya.

Itu juga yang ia pikirkan.

| GhostTrace: Erebus Admins?

| GhostTrace: Or the person who killed Adrian?


CipherArcher membalas cepat.

| CipherArcher: Could be both.

Lihat selengkapnya