Nemesis : Misi Balas Dendam Untuk Adrian

Azalea Rhododendron
Chapter #18

Pria Di balik Topeng

Pagi hari di rumah keluarga Aksara selalu terasa tenang.


Terlalu tenang.


Rumah besar itu berdiri di kawasan elit Jakarta, dikelilingi pagar tinggi dan taman luas yang selalu dirawat sempurna. Burung-burung kecil hinggap di pohon kamboja putih di halaman, sementara angin pagi bergerak pelan di antara dedaunan.


Namun di dalam salah satu kamar di lantai dua, suasananya jauh dari kata damai.


Adrestia duduk di depan laptop Adrian, setelah bangun dari tidurnya, sehabis mandi dan setelah sarapan.


Tirai kamarnya setengah tertutup, membuat cahaya matahari masuk hanya dalam garis tipis yang jatuh di meja belajar. Di sana terdapat laptop hitam milik Adrian, beberapa catatan dan secangkir susu yang sudah dingin sejak tadi pagi.


Layar monitor menampilkan puluhan jendela program.

Terminal.

Peta jaringan.

Database IP global.

Dan satu nama pengguna yang berkedip di tengah layar: CipherArcher


Adrestia mengetuk meja dengan jarinya.


Dia baru saja membaca seluruh arsip yang diberikan hacker itu malam sebelumnya.

Perdagangan perempuan.

Perdagangan anak.

Daftar pembeli.

Nama-nama besar yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Dan di balik semua itu, ada satu orang yang sejak awal selalu berada di sisi Adrian.


CipherArcher.


Atau siapa pun dia sebenarnya?


Adrestia menatap layar dengan mata menyipit.


"Siapa kamu sebenarnya?" gumamnya pelan.


Selama ini mereka hanya berkomunikasi melalui pesan terenkripsi. Tanpa identitas.

Tanpa wajah.

Tanpa jejak.


Tapi jika Adrian bisa menemukan semua bukti itu bersama hacker tersebut.


Maka orang ini pasti bukan hacker biasa.


Dan rasa penasaran Adrestia terlalu besar untuk diabaikan.


Dia menarik napas dalam.


"Baiklah." bisiknya.


Jari-jarinya mulai bergerak di keyboard.

Klik.

Terminal baru terbuka.

Baris kode mulai muncul.


Adrestia memulai dengan metode paling sederhana: trace log koneksi lama dari akun CipherArcher yang pernah berinteraksi dengan GhostTrace.


Dia menelusuri paket data lama.

Server relay.

Node VPN.

Jalur enkripsi.

Namun seperti yang ia duga, hacker itu sangat berhati-hati.


IP address berubah setiap beberapa menit.

Singapura.

Thailand.

Vietnam.

Filipina.

Bahkan sempat muncul di Jepang dan Korea.


Adrestia mendengkus kesal.

"Licik sekali."


Ini seperti mengejar bayangan.


Namun ia tidak menyerah.


Karena satu hal yang ia pelajari dari Adrian adalah:

Tidak ada sistem yang sempurna.

Dan setiap hacker, selalu membuat satu kesalahan kecil.

Satu saja.


Waktu terus berjalan.


Jam di dinding menunjukkan pukul 9 pagi.

Kemudian 10 pagi.

Kemudian 11 yang mana peralihan pagi ke siang.


Tangan Adrestia mulai pegal.


Namun matanya tetap fokus pada layar.


Dia mulai menganalisis pattern routing.

Bukan IP yang berubah.

Tetapi jalur perubahan.


Jika seseorang sering berpindah server, biasanya ada lokasi dasar tempat koneksi pertama muncul sebelum dialihkan.


Adrestia menjalankan script analisis.


Data bergerak di layar seperti hujan angka.

Kemudian, satu titik muncul di peta digital.


Dia berhenti bernapas.

"Ketemu!"

Namun dia belum yakin.

Adrestia menjalankan verifikasi kedua.

Lalu ketiga.

Hasilnya sama.


Lokasi asal koneksi yang paling konsisten muncul dari satu tempat.

Wilayah Asia Tenggara.

Negara: Malaysia


Adrestia mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke layar.


Script lain berjalan.

Trace lebih dalam.

Node terakhir akhirnya muncul.

Sebuah kota.

Jantung Ibukora Malaysia.

Kuala Lumpur.


Adrestia menatap layar beberapa detik.

"Serius?"


Lihat selengkapnya