Nemesis : Misi Balas Dendam Untuk Adrian

Azalea Rhododendron
Chapter #19

Rasa Kagum

Lampu ruang makan menyala hangat, kontras dengan layar laptop di kamar Adrestia yang masih menyala redup.


Adrestia kembali ke kamarnya setelah makan siang. Percakapan dengan Orion atau lebih tepatnya CipherArcher masih terngiang di kepalanya. Perdebatan mereka tadi terasa seperti dua orang yang sama-sama keras kepala, saling menantang, tapi tidak benar-benar ingin memutus komunikasi.


Dia menutup pintu kamar perlahan.


Laptopnya masih terbuka di atas meja. Layar chat Erebus Market belum tertutup.


Adrestia duduk kembali di kursinya.


Kursor berkedip di kolom pesan.


Beberapa detik ia hanya menatap layar itu.


Lalu ia mengetik.

| Nemesis: Kamu masih di sana?


Balasan datang lebih cepat dari yang dia duga.

| CipherArcher: Selalu.


Adrestia menatap satu kata itu agak lama.


Seolah-olah pria itu memang tidak pernah benar-benar pergi dari balik layar.


Gadis itu menghela napas kecil.

| Nemesis: Jadi sekarang kita sudah selesai berdebat?


| CipherArcher: Tidak.

| CipherArcher: Kita hanya menunda.


Adrestia mendengkus pelan.


Arogan. Tetap saja arogan.


Tangannya kembali bergerak di keyboard.

| Nemesis: Aku sudah tahu siapa kamu.


Beberapa detik tidak ada balasan.


Layar tetap diam.


Untuk pertama kalinya sejak mereka berkenalan, CipherArcher tidak langsung menjawab.


Adrestia menyilangkan tangannya di dada sambil menatap layar.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Lima belas detik.


Lalu pesan muncul.

| CipherArcher: Iya aku tahu


Adrestia memutar matanya.


Kali ini jedanya lebih lama.


Adrestia hampir bisa membayangkan pria itu sedang menyandarkan tubuhnya di kursi di suatu tempat di Kuala Lumpur, menatap layar sambil menyeringai.


Lalu pesan baru muncul.

| CipherArcher: Kamu lebih cepat dari yang kuduga.


Adrestia mengetik cepat.

| Nemesis: Kamu meninggalkan jejak.


| CipherArcher: Tidak banyak orang yang bisa menemukannya.


| Nemesis: Aku bukan (banyak orang) itu


Ada jeda lagi.


Kemudian muncul balasan yang membuat Adrestia tanpa sadar tersenyum tipis.

| CipherArcher: Ya.


Aku mulai menyadarinya.


Tangannya berhenti mengetik beberapa detik.


Nama Orion Ravindra masih terlintas di kepalanya.


Anak kedua CEO dari salah satu perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara.


Keluarga yang hampir tidak tersentuh hukum.


Lihat selengkapnya