Nemesis : Misi Balas Dendam Untuk Adrian

Azalea Rhododendron
Chapter #23

Kesabaran

Sore di kamar Adrestia terasa berbeda.

Piring kotor dan gelas kosong tergeletak di samping laptop pink Adrestia. Gadis itu baru saja selesai makan siang yang terlambat.

Denisa sudah sejak tadi tengah hari mengirimkan makan siang, tapi gadis keras kepala itu justru baru memakannya beberapa menit yang lalu.

Monitor laptopnya memancarkan cahaya biru pucat yang memantul di dinding kamar. Jam menunjukkan pukul 16.02 sore hari. Dunia di luar rumahnya cukup ramai, terdengar banyak sekali tawa dan suara orang-orang dibalik korden yang Adrestia tutupi. Ditambah sinar sore menembus celah tirai jendela kamarnya.

Di layar, sebuah folder terbuka.

Isinya bukan sekadar file.

Itu adalah kehidupan orang-orang yang telah hancur.

Folder pertama berjudul:

Victim_Data

Adrestia membuka file spreadsheet itu.

Ratusan nama.

Usia.

Negara.

Status.

Sebagian besar berusia antara sembilan sampai enam belas tahun.

Beberapa bahkan lebih muda.

Tangannya berhenti di atas keyboard.

Dada Adrestia terasa berat.

Tangannya langsung menggulir layar perlahan.

Beberapa kolom berisi catatan dingin yang ditulis seperti laporan bisnis:

Condition: Healthy

Shipment: Confirmed

Buyer: Verified

Payment: Completed

Matanya menutup sejenak.

Ini bukan sekadar perdagangan manusia.

Ini adalah industri dan orang di baliknya bukan kriminal jalanan.

Dia salah satu Dewan Perwakilan Rakyat negara.

Chat window berkedip.

|CipherArcher: Kamu masih di sana?

Adrestia mengetik cepat.

|Nemesis: Aku ingin mempublikasikan semuanya malam ini.

Beberapa detik hening.

Lalu balasan datang.

|CipherArcher: Jangan.

Adrestia langsung mengetik lagi.

|Nemesis: Apa maksudmu jangan?

|Nemesis: Kita punya data korban.

|Nemesis: Lalu kita punya bukti transaksinya

|Nemesis: kita punya video.

|Nemesis: Apa lagi yang kamu tunggu?

Titik tiga muncul.

Menghilang.

Muncul lagi.

Akhirnya pesan muncul.

|CipherArcher: Aku menunggu bukti yang tidak bisa dia bantah.

Adrestia menatap layar dengan kesal.

|Nemesis; Dia sudah selesai.

|Nemesis Kalau kita bocorkan ini ke media internasional sekarang, dia langsung jatuh.

Balasan datang.

|CipherArcher: Atau dia kabur.

Kalimat itu membuat Adrestia terdiam.

Cipher melanjutkan.

|CipherArcher: Kamu tahu bagaimana orang seperti dia bertahan selama ini?

|CipherArcher: Karena dia selalu satu langkah lebih cepat.

|CipherArcher: Begitu berita keluar, dia akan menghilang.

|CipherArcher: Paspor diplomatik, Jet pribadi, akun luar negeri dan semua bukti yang kita punya akan dianggap manipulasi.

Adrestia menggertakkan gigi.

Dia benci mengakuinya.

Tapi Orion benar.

Adrestia bersandar di kursinya.

Dia menatap folder lain.

Video_Archive

Dia membuka satu file.

Video itu hanya berdurasi dua menit.

Ruangan gelap.

Seorang pria berbicara dengan seseorang di luar kamera.

Suara pria itu jelas.

Tenang.

Sombong.

Suara seorang pejabat yang terbiasa berkuasa.

Pria itu berkata:

"Barang harus dikirim minggu ini."

"Pria Pembeli dari Eropa sudah menunggu."

Adrestia menghentikan video.

Dia tidak perlu melihat lebih jauh.

Tangannya gemetar.

|Nemesis: Kalau ini bukan bukti, lalu apa?

Cipher menjawab dengan cepat.

|CipherArcher: Ini bukti.

|CipherArcher: Tapi belum cukup untuk menghancurkan dia.

Lihat selengkapnya