Pagi itu negara terbangun dalam kekacauan.
Berita pertama muncul sekitar pukul tujuh pagi.
Sebuah artikel investigasi dari media finansial internasional memuat laporan panjang tentang aliran dana mencurigakan yang menghubungkan seorang pejabat tinggi Indonesia dengan jaringan perdagangan manusia internasional.
Nama yang muncul di judul artikel itu membuat publik terkejut.
Argo Pratama.
Salah satu Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Awalnya hanya satu media yang menulis.
Namun dalam waktu kurang dari satu jam, berita itu mulai menyebar ke mana-mana.
Portal berita nasional mengutipnya.
Media asing ikut menulis ulang.
Lalu media sosial meledak.
Tagar pertama muncul di X.
#ArgoPratama
Lima belas menit kemudian muncul tagar kedua.
#HumanTrafficking
Kemudian tagar ketiga.
#JusticeForTheChildren
Dalam waktu dua jam saja, seluruh timeline media sosial dipenuhi satu topik yang sama.
Skandal perdagangan manusia.
Di layar televisi berbagai stasiun berita menayangkan potongan dokumen yang bocor.
Grafik transaksi kripto.
Screenshot akun di forum Erebus Market.
Foto-foto gudang penyimpanan korban.
Jurnalis investigasi mulai membahas hubungan antara yayasan sosial milik kementerian dengan jaringan kriminal internasional.
Beberapa aktivis HAM bahkan muncul di siaran langsung.
Mereka berbicara dengan suara marah.
"Ini bukan hanya korupsi!" seru seorang aktivis perempuan dengan mata merah karena emosi.
"Ini perdagangan anak. Ini kejahatan terhadap kemanusiaan!"
Di luar gedung DPR, kerumunan mulai berkumpul.
Awalnya hanya puluhan orang.
Namun menjelang siang jumlahnya meningkat menjadi ratusan.
Mahasiswa.
Aktivis.
Warga biasa yang marah.
Mereka membawa poster.
"HENTIKAN PERDAGANGAN ANAK!"
"ARGO PRATAMA MUNDUR DAN ORANG-ORANG ITU HARUS TURUN DARI JABATANNYA!"
Suara teriakan mereka menggema di jalan.
Beberapa orang melemparkan botol air ke arah pagar kantor.
Polisi mulai berdatangan untuk menjaga situasi.
Menjelang tengah hari, konferensi pers darurat digelar.
Argo Pratama muncul di depan kamera dengan wajah serius.
Setelan jasnya rapi seperti biasa.
Namun matanya terlihat tegang.
Di belakangnya berdiri beberapa pejabat kementerian dan pengacara.
Rahman berbicara dengan suara tegas.
"Saya dengan tegas membantah semua tuduhan yang beredar."
Dia menatap langsung ke arah kamera.
"Ini adalah serangan siber yang bertujuan merusak reputasi saya dan pemerintah."
Beberapa wartawan langsung mengangkat tangan.
"Bagaimana dengan bukti transaksi kripto yang menunjukkan aliran dana ke jaringan Erebus Market?"
Argo tersenyum tipis. "Data digital sangat mudah dimanipulasi."