Setelah penangkapan Argo Pratama, dunia maya masih bergolak.
Namun sesuatu yang aneh mulai terjadi. Erebus Market offline di hari yang sama setelah penangkapan Argo Pratama.
Forum gelap yang selama ini menjadi pusat perdagangan ilegal itu tiba-tiba menghilang dari jaringan. Banyak pengguna mencoba mengaksesnya melalui Tor, namun halaman itu hanya menampilkan satu pesan sederhana.
Maintenance.
Di berbagai forum dark web, para pengguna mulai berspekulasi.
Ada yang mengatakan servernya disita.
Ada yang percaya administratornya sedang membersihkan bukti.
Namun sebagian besar orang memiliki teori yang berbeda.
Mereka percaya satu hal.
GhostTrace telah menghancurkan sistem mereka.
Nama itu kini menjadi legenda digital.
Di mana nama itu benar-benar menjadi hantu yang mengadili para penjahat di Erebus Market.
Namun semua orang tahu bahwa skandal besar yang menjatuhkan seorang menteri dimulai dari bocoran data yang luar biasa presisinya.
Dan setelah penangkapan itu, Erebus Market tiba-tiba menghilang.
Di kamar lantai dua rumah keluarga Aksara, Adrestia duduk di depan laptop Adrian pada jam 21.00
Layar laptop menampilkan halaman kosong dari browser Tor.
Dia mencoba membuka Erebus Market lagi.
Masih sama.
Offline.
Adrestia menghela napas pelan.
"Mereka sedang menghilangkan jejak?" gumamnya.
Dia ingin bertanya pada Orion, karena biasanya hacker arogan itu pasti tahu banyak hal.
Namun, sebelum dia sempat mengetik pesan di chat terenkripsi mereka. Ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Adrestia menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Dia melihat nomor itu berasal dari luar negeri. Kode negara yang tidak ia kenali. Dia tidak mau mengangkatnya.
Panggilan itu berhenti. Namun lima detik kemudian ponselnya berdering lagi. Nomor yang sama.
Adrestia menghela napas kesal.
"Siapa sih? Ganggu aja!" sungutnya kesal. Tapi dia tetap tidak menjawab.
Panggilan itu berhenti lagi. Namun beberapa detik kemudian, berdering lagi.
Adrestia mulai merasa kesal. Dia mengambil ponselnya itu sambil melihat nomor itu terus menelponnya. "Spam kah?”
Adrestia sebenarnya tipe orang yang tidak suka ada nomor asing yang menelponnya, terlebih dia tidak memberikan nomornya ke sembarangan orang. Bahkan Adrestia tipe yang mengancam orang-orang terdekatnya agar nomornya tidak diberikan pada orang asing.
Dia hampir memblokir nomor itu. Sebelum dia sempat melakukannya, notifikasi baru muncul di laptopnya.
Adrestia terkejut karena mendapatkan pesan dari CipherArcher.
Pesan Orion muncul di layar.
|CipherArcher: Angkat teleponnya.
Adrestia membeku.
Matanya perlahan berpindah dari layar laptop ke ponselnya yang masih berdering di tangannya. Nomor asing itu masih menelpon.
Dadanya tiba-tiba terasa berdebar.
"Jangan bilang?" bukannya mengangkat telpon itu, Adrestia justru membalas pesan CipherArcher.
|Nemesis: Nomor itu punyamu? Kamu menelponku?
Lalu balasan dari Orion datang.