Kamar Adrestia sunyi.
Lampu meja menyala redup, memantulkan cahaya lembut ke layar laptop Adrian yang masih terbuka. Kalimat ancaman itu tetap berada di sana, seolah menatapnya kembali.
You cut one limb. The body is alive.
We are still free
Nemesis has been added to priority target list.
Adrestia menelan ludah.
Tangannya terasa dingin.
Gadis itu tahu dunia gelap internet itu berbahaya, tapi membaca kalimat itu membuat segalanya terasa jauh lebih nyata.
Mereka tahu tentangnya.
Tentang Nemesis.
Dan sekarang mereka menjadikannya target.
Napasnya sedikit gemetar.
Tanpa berpikir panjang lagi, Adrestia mengambil ponselnya dan langsung menekan nomor terakhir yang baru saja berkomunikasi dengannya beberapa menit lalu.
Nomor Orion.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Lalu panggilan itu diangkat.
"Cepat sekali!"
Suara Orion terdengar santai di ujung telepon.
"Baru saja kita selesai telepon, sekarang kamu menelepon lagi?"
Ada nada menggoda dalam suaranya.
"Tidak bisa jauh dariku, ya?"
Namun Adrestia tidak menjawab godaan itu. "Orion…" yang ada justru suaranya sedikit gemetar karena ketakutan.
Di seberang sana, Orion langsung menyadari perubahan nada itu. Tawa pemuda itu berhenti ketika suara Adrestia terdengar tadi. "Ada apa?"
Adrestia menarik napas panjang sebelum berbicara.
"Aku… baru saja mendapat pesan."
"Pesan? Pesan apa?
"Pesannya berisi ancaman untukku." tanpa Adrestia sadari, air mata kembali turun ke pipinya.
Beberapa detik hening.
Adrestia mulai menjelaskan semuanya. Tentang notifikasi yang muncul di laptop Adrian. Tentang pesan anonim. Tentang kalimat-kalimat yang membuat jantungnya terasa seperti jatuh. Dia membaca ulang isi pesan itu dengan suara pelan untuk memberitahu Orion.
"You cut one limb. The body is alive. we are still free and Nemesis has been added to priority target list.”
Setelah Adrestia selesai bercerita, tidak ada suara dari Orion selama beberapa detik.
💻
Namun di ujung telepon yang jauh, suasana berubah.