Malam itu kamar Adrestia kembali sunyi. Lampu meja menyala redup, memantulkan cahaya lembut pada laptop Adrian yang terbuka di depannya. Layar itu masih menampilkan pesan ancaman yang beberapa menit lalu muncul.
You cut one limb. The body is alive.
We are still free
Nemesis has been added to priority target list.
Adrestia menatap tulisan itu tanpa berkedip. Jantungnya berdetak cepat dan tangannya terasa dingin. Dia baru saja menelpon Orion dan Orion sudah berjanji akan datang ke Indonesia.
Namun sekarang perasaan takut itu kembali muncul, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Adrestia tanpa sadar menelan ludah.
"Kenapa… mereka tahu Nemesis? Bukankah aku sudah melindungi akunku saat mencari bukti dan menjebak mereka?" gumamnya pelan.
Dia baru saja hendak menutup laptop untuk tidur, untuk mengistirahatkan pikirannya. Ketika tiba-tiba sebuah jendela chat baru muncul di layar.
Bukan dari Orion.
Bukan dari forum biasa.
Sebuah akun anonim.
Nama penggunanya hanya satu kata.
OBSERVER.
Adrestia membeku.
Nama itu tidak asing baginya.
Dia pernah melihatnya di Erebus Market.
Akun yang jarang berbicara, tetapi selalu muncul dalam diskusi besar.
Akun yang dia bercandai saat itu.
Dan yang paling aneh, akun itu pernah aktif di waktu yang sama dengan dua akun miliknya.
GhostTrace dan Nemesis.
Adrestia menelan ludah.
Pesan pertama muncul.
|Observer: Let's work together.
Adrestia mengerutkan dahi. "Kerja sama?"
Dia langsung membuka whatsApp dan mengetik pesan untuk Orion.
Orion.
Beberapa detik kemudian ia menambahkan pesan lagi.
Ada akun di Erebus yang menghubungiku.
Tanda centang dua berubah menjadi biru.
Dibaca.
Namun tidak ada balasan.
Adrestia menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Tidak ada balasan.
"Ke mana laki-laki itu?!"
Adrestia menggeram kesal.
Matanya kembali menatap layar laptop.
Akun Observer masih online.
Pesan baru muncul.
|Observer: We need to work together.
Adrestia langsung mengetik.
|Nemesis: For what?
Jawaban datang cepat.
|Observer: Sabotage all cctv as per my orders.
Adrestia membeku.
Beberapa detik kemudian file baru muncul di chat.
Sebuah peta digital.
Beberapa titik merah berkedip di layar.
Observer menambahkan pesan.
|Observer: The detention place of Argo Pratama and his colleagues who have been arrested by the Corruption Eradication Committee
File kedua muncul.
|Observer: Argo Pratama's family home
File ketiga.
|Observer: The homes of several people involved in the human trafficking network and still under investigation, have not been arrested.
Adrestia menatap layar dengan bingung.
|Nemesis: For what?
Dia menambahkan pesan lagi.
|Nemesis: My mission is complete
Balasan Observer datang lambat. Seolah dia sedang mempertimbangkan kata-kata yang tepat.
|Observer: Not yet.
|Observer: There is one last thing you have to do
Adrestia semakin bingung. Namun sebelum gadis itu sempat membalas, Observer mengirim pesan lain. Pesan yang membuat tubuhnya langsung membeku.
|Observer: Adrian's torture video.
|Observer: I was the one who sent it.
Adrestia merasa seperti ditampar.