Langit Kuala Lumpur masih berwarna biru gelap, ketika seorang pemuda berjalan keluar dari mobil hitam panjang yang berhenti di depan terminal keberangkatan internasional.
Bandara malam itu cukup ramai.
Orang-orang berjalan cepat sambil menarik koper.
Pengumuman penerbangan terdengar dari pengeras suara.
Di tengah keramaian itu, seorang pemuda tersebut terlihat menonjol.
Dia tinggi.
Bahunya lebar.
Kemeja hitamnya rapi, lengan sedikit digulung sampai siku.
Rambut hitamnya tertata santai, namun wajahnya tajam dan tenang seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan situasi.
Dia adalah Orion Ravindra.
Pemuda berjalan menuju pintu masuk terminal dengan langkah santai.
Namun beberapa meter di belakangnya, empat pria mengenakan jaket hitam mengikuti dengan jarak tertentu.
Mereka tidak berbicara.
Hanya berjalan dengan posisi yang secara alami melindungi Orion dari segala arah.
Salah satu dari mereka bahkan sesekali memperhatikan sekitar dengan tatapan waspada.
Orion sendiri sedang berbicara melalui earphone kecil di telinganya.
Di ujung panggilan itu adalah Papanya.
Seorang pria yang suaranya terdengar tenang namun penuh wibawa.
"Orion!"
"Ya, Papa!"
"Do you really have to go now?"
Orion tersenyum kecil sambil terus berjalan.
"Papa just has to send the assignment online. I will do it from Indonesia,"
Papanya tertawa kecil di seberang.
"You've never been away from work. Are you sure you can do it?"
Orion mengangkat alis, tidak mengerti maksud pertanyaan Papanya itu. Dia juga tidak sadar tengah digoda oleh Papanya itu.
"Business must continue, right?"
"Yes, even when the owner's son was chasing a girl.”
Orion hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Papa!"
Nada suaranya berubah sedikit malu.
Di belakangnya, salah satu pengawal hampir tersenyum mendengar percakapan itu.
Papanya kembali tertawa.
"So it's true?"
Orion menghela napas pelan.
Lalu dia berkata dengan nada pasrah.
"Ya!" dia tersenyum kecil. "She's that girl, Papa."
Beberapa detik hening di ujung telepon.
Lalu Papanya itu menjawab dengan nada lebih lembut.
"Then go. Meet her."
Orion mengangguk kecil meskipun Papanya tidak bisa melihatnya. "Ya, Papa."
"Good luck, son."
Panggilan itu berakhir.
Dia memasukkan ponselnya ke saku celana. Langkahnya terus menuju pintu pemeriksaan keamanan. Namun baru beberapa detik berjalan, Orion tiba-tiba berhenti. Alisnya sedikit terangkat.
"Sebentar!"
Dia mengeluarkan ponselnya lagi. Layar ponsel menyala. WhatsApp terbuka dan nama yang muncul di bagian atas chat membuat sudut bibirnya sedikit terangkat.
Adrestia.