Nemesis : Misi Balas Dendam Untuk GhostTrace

Azalea Rhododendron
Chapter #5

Di atas Langit Masih Ada Langit

Adrestia menghidupkan laptop Adrian membuat layar laptop itu menyala sempurna.

Logo sistem operasi muncul, lalu berganti menjadi halaman masuk dengan satu kolom sederhana:

Password.

Adrestia menatapnya lama.

Jantungnya berdetak tidak teratur. Jari-jarinya menggantung di atas keyboard, ragu untuk menyentuhnya.

“Bang… seriusan ya,” gumamnya pelan.

Ia mencoba satu tebakan pertama. Tanggal lahir Adrian.

Salah.

Tanggal lahir Mama.

Salah.

Kombinasi nama mereka bertiga.

Salah lagi.

Layar itu tetap dingin dan tak berperasaan.

Adrestia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya kosong, tapi pikirannya berlari.

Lalu tiba-tiba, sebuah kenangan muncul.

Tiga tahun yang lalu.

Ia sedang duduk di kamar Adrian, mengutak-atik laptop kakaknya itu dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

"Ressi," suara Adrian terdengar dari belakangnya. "Kamu lagi ngapain?"

Adrestia terlonjak. "Cuma lihat-lihat!"

"Lihat-lihat atau mau bobol?" Adrian menyeringai.

"Mana berani aku bobol? Itu ilegal, Bang."

Adrian tertawa kecil. "Ilegal itu relatif,"

Adrestia memutar kursi menghadapnya. "Relatif gimana?"

"Kamu tahu kan kerjaan Papa?" Adrestia mengangkat alisnya bingung.

"Banyak yang Papa lakukan demi profesinya… secara teknis juga ilegal. Tapi tujuannya buat lindungi orang. Bukan buat jahat bukan?"

Adrestia terdiam.

"Jadi kalau kamu suatu hari bisa bobol laptop aku demi sesuatu yang benar… aku izinin," lanjut Adrian santai.

"Hah? Bang Adrian serius?"

"Sangat."

"Itu sama aja ngajarin aku jadi hacker jahat!"

Adrian terkekeh. "Hacker itu bukan selalu jahat, Ressi. Ada ethical hacker. Ada white hat. Dunia cyber itu abu-abu. Tergantung siapa yang pegang."

Adrestia menyilangkan tangan. "Tetep aja aku nggak bisa. Keamanan laptop kamu pasti nggak kaleng-kaleng."

"Di atas langit masih ada langit," balas Adrian cepat.

"Maksudnya?"

"Hanya karena aku bisa, bukan berarti kamu nggak bisa lebih hebat dari aku."

Adrestia mendengkus. "Bang, level kamu itu beda!"

Adrian menepuk kepalanya pelan. "Kita lahir dari orang yang sama. Arkan Aksara. Keluarga Aksara dari dulu melek digital. Cyber itu bukan hal asing buat kita. Kamu cuma belum percaya diri!"

Adrestia menatapnya ragu.

"Kalau Abang ajarin? Gimana? Mau?" tanya Adrian.

"Coding? Serius?"

Adrian tersenyum lebar. "Serius! Tapi jangan setengah-setengah. Kalau mau masuk dunia ini, kamu harus siap jadi lebih dari sekadar pengguna."

Dan sejak hari itu, semuanya berubah.

Adrestia kembali ke masa kini dengan napas sedikit tercekat.

Kenangan itu terasa begitu hidup.

Lihat selengkapnya