Mayat itu tergantung di tengah gedung kosong, sebuah tubuh muda yang tampak terlalu sempurna untuk sekadar bunuh diri.
Gedung tua itu telah lama ditinggalkan. Debu menempel di lantai retak, dinding bernoda jamur, dan cahaya sore masuk melalui jendela yang pecah, membentuk garis-garis pucat di lantai.
Tali nilon putih melilit leher pemuda itu. Simpulnya rapi. Sepatu hitamnya nyaris menyentuh lantai. Tidak ada kursi terjatuh, tidak ada benda penyangga. Hanya tubuh yang perlahan berayun di udara dingin, sunyi, dan mematikan.
"Area steril!" teriak salah satu petugas polisi, langkahnya cepat menutup akses orang-orang yang mulai menyorot.
Seorang penyidik mendekat, menatap wajah korban yang membiru.
"Identitas?" tanyanya datar.
"Adrian Aksara. Dua puluh satu tahun," jawab rekannya.
Beberapa petugas saling pandang. Nama itu bukan sembarangan. Adrian adalah putra pertama Arkan Aksara, Salah satu pengamat forensik digital. Orang yang menolong banyak kasus cyber di Kota ini.
"Putra pak Arkan Aksara?" seorang petugas menelan ludah pelan.
"Ya."
Seorang petugas medis menurunkan tubuh Adrian dari balok baja. Ia membuka bagian atas bajunya, memeriksa tulang rusuk dan lengan korban.
Memar hitam memenuhi beberapa bagian tubuh seperti bekas pukulan berkali-kali.
"Dokumentasikan semua!"
Ruangan menjadi hening, suara kamera forensik berdengung tanpa henti.
đź’»
Di sebuah rumah besar di pinggiran kota, telepon berdering tepat pukul 16.42.
Seorang wanita dewasa dengan sanggul indah di kepalanya mengangkat telpon. Senyum tipis masih tersisa di wajahnya, tetapi nada di ujung telepon segera menghapusnya.
"Apa?!"
Suara itu pecah ketika terdengar kabar yang tidak pernah ingin didengar.
"Putra Anda… Adrian Aksara… ditemukan… meninggal dunia."
Di ruang keluarga, dua anak kembar yang baru saja pulang dari sekolah asrama seminggu lalu. Anak-anak lain liburan, namun mereka berdua justru hanya di rumah menunggu kabar sang kakak yang telah hilang seminggu, serta berharap kakak pertama mereka itu dapat ditemukan dengan selamat.
Mata hitam Alvaro menatap sang Mama yang tampak kaku tidak bergerak.
"Ma?"
Adrestia berdiri dari duduknya dan mendekat pada sang Mama, membuat rambut cokelat panjangnya terhempas mengikuti arah tubuhnya.
Alvaro sudah berdiri di samping Mamanya, tubuhnya tegang. Adrestia spontan meremas ujung kaosnya.
"Ditemukan tewas tergantung. lanjut suara di telepon.
Telepon itu terjatuh dari tangan Mama mereka, suara jatuhnya seakan menghantam lantai keras, meninggalkan gema panjang yang mengisi ruangan.