Langit mendung sejak pagi.
Awan kelabu menggantung rendah seolah ikut berduka, menekan udara hingga terasa berat di dada. Tanah pemakaman masih basah oleh hujan semalam. Bau tanah lembap bercampur wangi bunga krisan, bunga mawar putih, bunga kamboja dan bunga Not Forget Me memenuhi udara.
Petinya diturunkan perlahan.
Adrian Aksara.
Nama itu terukir di nisan sementara yang masih tertutup plastik bening.
Tanggal lahir.
Tanggal kematian.
Terlalu cepat. Terlalu singkat.
Isak tangis terdengar di berbagai sudut.
Teman-teman kuliahnya berdiri berkelompok, beberapa menunduk, beberapa memeluk satu sama lain. Guru SMA nya datang, wajah mereka pucat dan tak percaya. Bahkan pelatih bela diri Adrian berdiri dengan rahang mengeras, tangan terkepal di samping tubuhnya.
"Bagaimana bisa Adrian meninggal?" bisik seseorang di belakang Adrestia.
"Aku dengar ada bekas luka di tubuhnya,”
"Katanya digebukin,"
"Dia itu jago bela diri. Siapa yang beraninya main keroyokan itu?"
Suara-suara itu menyusup ke telinga Adrestia seperti serpihan kaca.
Ia berdiri di samping Alvaro, tetapi rasanya seperti berdiri sendirian. Matanya terpaku pada peti yang perlahan menghilang di balik tanah. Hujan mulai turun tipis, membasahi rambut dan pipinya atau mungkin itu air mata yang tidak ia sadari.
Beberapa perempuan maju satu persatu membawa bunga untuk diletakkan di atas makam Adrian.
Adrestia mengenali sebagian dari mereka.
Siswi-siswi yang dulu sering dibully di sekolah, yang pernah pulang dengan mata sembab dan tas dirusak. Adrian yang berdiri di depan mereka, sendirian menghadapi sekelompok siswa laki-laki yang merasa diri paling kuat.
"Dia selalu datang waktu aku gak punya siapa-siapa." bisik salah satu perempuan, tangannya gemetar saat menaruh bunga.
"Dia gak pernah minta balasan."
Tangisan mereka lebih sunyi. Lebih tulus.
Adrian memang seperti itu. Tidak banyak bicara, tapi selalu bergerak ketika dibutuhkan.
Dan sekarang dia meninggal dan pelakunya masih belum ditemukan.
Adrestia menelan ludah.
Tidak.
Ada sesuatu yang salah.
Dan bukan hanya soal memar di tubuhnya.
Matanya bergerak pelan, menyapu kerumunan.
Di antara wajah-wajah yang berduka, ia melihat sesuatu yang tidak pas.
Tiga pria berdiri agak jauh dari yang lain. Pakaian mereka rapi, terlalu rapi untuk pemakaman yang berlumpur seperti ini.
Wajah mereka datar.
Tidak ada kesedihan.
Tidak ada empati.
Mereka tidak membawa bunga.
Mereka tidak mendekat.
Mereka hanya… mengamati.
Salah satu dari mereka berbicara pelan ke earphone kecil di telinganya.
Adrestia merasakan bulu kuduknya berdiri.
Ia memperhatikan lebih seksama.
Mereka tidak melihat peti.
Mereka melihat keluarga Adrian.
Melihat papanya.