Rumah itu akhirnya sunyi.
Setelah seharian dipenuhi pelayat, tangisan, dan bisik-bisik yang menyesakkan, kini hanya tersisa gema langkah kaki yang sesekali terdengar di lorong. Meja makan yang tadi siang penuh dengan piring dan gelas kini menyisakan tiga orang yang duduk dalam lingkaran kesedihan yang sama: Arkan, Alvaro dan Adrestia.
Mama mereka tidak ikut makan malam.
Sejak kembali dari pemakaman, ia mengurung diri di kamar, memeluk foto Adrian dengan tubuh yang gemetar oleh tangis. Tak ada yang berani mengganggunya. Bahkan Arkan Aksara pun hanya berdiri di depan pintu beberapa detik sebelum akhirnya mundur dengan rahang mengeras.
Di meja makan, sendok beradu dengan piring terdengar terlalu keras dalam keheningan.
Adrestia menyuap nasi perlahan. Setiap kali ia mengangkat sendok, air matanya jatuh tanpa suara. Ia tidak terisak. Tidak tersedu. Hanya air mata yang mengalir begitu saja, seperti tubuhnya sudah terlalu lelah untuk berisik.
Alvaro yang duduk di sampingnya melihat itu. Tanpa berkata apa-apa, ia mengusap punggung adik kembarnya perlahan. Tangannya yang hangat naik ke kepala Adrestia, mengusap rambutnya lembut seperti waktu mereka masih kecil.
Adrestia tidak menoleh. Tapi jemarinya mencengkeram sendok lebih erat.
Arkan memperhatikan.
Sebagai kepala keluarga, ia tahu ia tak boleh hancur. Setidaknya bukan di depan anak-anaknya. Wajahnya keras, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tak kalah rapuh.
Ia menarik napas panjang.
"Kalian libur berapa lama di sini?" tanyanya, berusaha terdengar biasa.
Alvaro yang menjawab. "Tiga minggu lagi, Pa."
Arkan mengangguk. "Sekolah asrama kalian... tetap mulai sesuai jadwal?"
"Iya," jawab Alvaro yang mengerti mengapa Papanya mengajaknya mengobrol.
"Kami masih menjalani jadwal dengan baik, tidak ada kendala sama sekali.”
Arkan mengangguk lagi. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan karena ia benar-benar ingin tahu detailnya. Ia tahu. Ia sudah tahu sejak lama. Kedua anak kembarnya memilih masuk asrama sejak SMP, keputusan mereka sendiri. Adrian, kakak mereka, justru memilih sekolah biasa.
Terkadang Adrian mengejek kedua adik kembarnya yang tidak sebebas dirinya yang sekolah biasa, bahkan ejekan itu pernah membuat Adrestia nangis histeris.
Namun, sekarang sosok itu telah tiada. Air mata Adrestia semakin deras keluar karena gadis itu mengingat kenangan sang kakak.
Makan malam berakhir tanpa banyak kata.
Arkan berdiri dan mulai mengumpulkan piring-piring kotor. "Kalian sudah masak. Biar Papa yang cuci."
Alvaro hendak membantu, tapi Arkan menggeleng pelan. "Naik. Istirahat!"
Keduanya menurut.
Tangga terasa lebih panjang dari biasanya. Alvaro berjalan sedikit lebih dekat pada Adrestia, tangannya tak pernah benar-benar lepas dari bahu atau punggung adiknya.
Protektif.
Terlalu protektif.
Tapi Adrestia tak protes.
Di depan kamar yang berlawanan arah, Alvaro tetap mengantar Adrestia sampai ke pintunya. "Langsung tidur ya, Ressi."
Adrestia mengangguk pelan.
"Kalau butuh apa-apa, ketuk pintu."
Ia mengangguk lagi.
Alvaro akhirnya pergi ke kamarnya sendiri, langkahnya berat tapi tetap tegak.
💻
Begitu pintu kamar tertutup, sunyi kembali menyelimuti Adrestia.
Ia berdiri beberapa detik di ambang pintu, menatap kamar yang terasa asing meski sudah ia tempati bertahun-tahun. Semuanya sama. Meja belajar rapi. Rak buku tersusun. Tirai tertutup setengah.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Adrian tidak ada.