Nenek, Jangan Buat Masalah Lagi!

Willia Mangun Putr
Chapter #1

BAB 1 — RUMAH YANG DITAKUTI HANTU


Kediaman keluarga Lin memiliki enam paviliun.


Sebagai salah satu keluarga saudagar terkaya di Hangzhou, rumah kami cukup luas untuk menampung keluarga besar, puluhan pelayan, penjaga, dan tentu saja beberapa penghuni yang tidak lagi membayar pajak tempat tinggal.


Maksudku, arwah.


Keluarga Lin punya kemampuan melihat makhluk tak kasatmata. Ayahku, Lin Wuli, ibuku, Shu Yuen, pamanku, bibiku, keempat kakak laki-lakiku, aku sendiri, bahkan dua sepupu kembarku yang baru berusia dua tahun.


Satu-satunya yang tidak bisa melihat arwah hanyalah para pelayan.


Dan sejujurnya, aku kasihan kepada mereka.


Sebab mereka bekerja di rumah yang penghuninya lebih banyak daripada yang tercatat dalam daftar keluarga.


Namun, ada masalah yang jauh lebih besar daripada jumlah arwah di kediaman kami.


Namanya Lin Zhen dan Lin An.


Dua bocah kembar identik.


Dua tahun.


Belum lancar bicara.


Tetapi sudah memiliki daftar musuh dari alam baka.


Pagi hari, paviliun utama.


Aku sedang menikmati teh ketika seorang pria tua berambut putih muncul dari balik pintu.


Wajahnya pucat, pakaiannya compang-camping, dan langkahnya sedikit gemetar.


Dia adalah arwah yang sudah cukup lama tinggal di kediaman kami.


"Putri Lin..."


Aku menoleh.


"Ya, Kek?"


Pria tua itu menunjuk ke arah taman.


"Tolong... tolong bicarakan dengan orang tua kedua anak itu."


Aku mengerutkan dahi.


"Kenapa?"


Pria tua itu menarik napas panjang.


"Kemarin mereka bersembunyi di dalam peti mati tua, lalu ketika aku lewat, mereka tiba-tiba melompat keluar!"


Aku menahan tawa.


"Memangnya kenapa?"


"AKU SUDAH MENINGGAL! JANTUNGKU TIDAK SEKUAT DULU!"


Aku hampir menyemburkan teh.


"Kek, bukankah Kakek juga sudah tidak punya jantung?"


"Itulah masalahnya! Kalau tidak punya jantung, bagaimana aku bisa tahan kaget?!"


Aku menutup mulut.


Astaga.


Belum pukul delapan pagi, aku sudah menerima pengaduan dari alam baka.


Paviliun keluarga paman.


Aku menemukan Lin Zhen dan Lin An sedang duduk di bawah meja.


Keduanya memegang boneka kecil.


"Zhen, An."


Mereka menoleh bersamaan.


"Jie!"


Aku jongkok di depan mereka.


"Kalian kemarin mengganggu kakek tua?"


Zhen menggeleng.


An mengangguk.


Aku menatap mereka.


"Jadi yang benar siapa?"


Zhen menunjuk adiknya.


Lihat selengkapnya