Ada satu hal yang kupelajari selama tujuh belas tahun hidup sebagai putri keluarga Lin.
Jangan pernah terlalu percaya pada rekomendasi nenek Zhao Wei.
Terutama jika rekomendasi itu berkaitan dengan calon suami.
Dua puluh kali.
Ya, ini adalah perjodohan ke-20 yang diatur nenekku.
Aku tidak tahu apakah beliau benar-benar ingin melihatku menikah atau sekadar ingin menghabiskan waktu setelah meninggal.
Namun, kali ini aku punya strategi baru.
Aku membawa dua orang saksi.
Lin Zhen dan Lin An.
Sepupu kembarku yang berusia dua tahun.
Mereka memang masih kecil, tetapi kemampuan pengamatan keduanya luar biasa. Terlebih lagi, mereka bisa melihat arwah dan tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan rahasia.
Sangat cocok dijadikan penyelidik.
Setidaknya menurutku.
"Jie, kita mau ke mana?"
Zhen duduk di sebelah kiriku sambil memegang kue kacang.
"Ke rumah orang."
"Rumah siapa?"
"Rumah calon suami Jie."
An yang sedang memangku boneka kecil langsung mengangkat kepala.
"Suami Jie?"
"Iya."
"Om?"
Aku mengangguk.
An berpikir sebentar, kemudian bertanya dengan polos.
"Om punya susu?"
Aku menatapnya.
"Kenapa bertanya begitu?"
"An mau susu."
Aku tertawa kecil.
Baiklah. Mungkin membawa dua bocah ini bukan keputusan yang sepenuhnya tepat.
"Kalau ada, nanti Jie minta."
Zhen mengangguk puas.
"Anak baik."
Aku mencubit pipinya.
"Siapa yang anak baik?"
"Zhen!"
"Kalau An?"
An langsung menunjuk dirinya sendiri.
"An nakal!"
Aku tertawa.
Setidaknya dia jujur.
### Kediaman Marquis Qin
Keluarga Qin merupakan salah satu keluarga bangsawan yang memiliki hubungan perdagangan dengan keluarga Lin.
Kepala keluarga mereka adalah Marquis Qin, seorang pria yang kabarnya cukup disegani di lingkungan istana.
Putra sulungnya, Qin Yuchen, menjadi calon yang direkomendasikan untukku.
Menurut informasi yang disampaikan nenek Zhao Wei, pemuda itu berpendidikan, tampan, dan berasal dari keluarga terhormat.
Aku hanya berharap kali ini tidak ada kejutan.
Kereta berhenti di depan gerbang besar.
Seorang pelayan menyambut kami.
"Nona Lin, Tuan Marquis sudah menunggu."
Aku turun dengan hati-hati, kemudian menggendong An.
Zhen berjalan sambil memegang tanganku.
Kami melewati halaman depan yang cukup luas.
Belum sampai ke aula, terdengar suara anak-anak tertawa dari taman samping.
Dua bocah laki-laki berlari ke arah kami.
Usianya kira-kira sama dengan Zhen dan An.
"Adik kecil!"
Salah satunya menunjuk si kembar.
"Mau bermain?"
Zhen langsung bersembunyi di belakang kakiku.
An memeluk leherku.
Aku tersenyum kepada mereka.
"Maaf, mereka agak pemalu."
Namun, seorang perempuan muda muncul dari paviliun.
Ia mengenakan pakaian sutra berwarna merah muda dengan perhiasan yang cukup mencolok.
"Anakku, jangan berlari terlalu jauh."
Aku melirik perempuan itu.
Pelayan yang mengantarku segera berbisik.
"Nona, beliau adalah selir Tuan Muda Qin."
Aku terdiam.
Selir?
Aku memandang dua anak yang sedang berdiri di hadapan kami.
Kemudian kembali menatap perempuan tersebut.
"Anak-anak itu?"