Nenek, Jangan Buat Masalah Lagi!

Willia Mangun Putr
Chapter #3

BAB 3 — RAPAT DARURAT PARA HANTU


Kediaman keluarga Lin, malam hari.


Aku sedang menikmati waktu istirahat setelah perjodohan ke-20 kembali gagal.


Dua sepupu kembarku, Lin Zhen dan Lin An, sudah kembali ke paviliun keluarga paman. Menurut bibiku, mereka tidur lebih cepat malam ini.


Aku cukup lega.


Setidaknya tidak ada lagi laporan hantu yang mengadu karena dikejar dua bocah berusia dua tahun.


Sayangnya, aku terlalu cepat merasa tenang.


Karena malam itu, sesuatu yang tidak biasa terjadi di paviliun belakang.


Sebuah rapat besar sedang berlangsung.


Bukan rapat keluarga Lin.


Melainkan rapat para penghuni alam baka.


### 1\. Rapat tanpa undangan


"SEMUA SUDAH HADIR?"


Seorang kakek berjanggut putih berdiri di tengah ruangan.


Di hadapannya duduk sekitar dua belas arwah dari berbagai usia.


Ada perempuan tua yang masih mengenakan pakaian bangsawan, seorang prajurit dengan luka di kepala, seorang pedagang yang membawa timbangan, dan beberapa arwah lain.


Mereka berkumpul karena satu alasan.


Dua bocah kembar keluarga Lin.


"Saudara-saudara," ujar si kakek dengan wajah serius. "Kita harus membicarakan masalah yang sudah terlalu lama dibiarkan."


Seorang perempuan tua mengangkat tangan.


"Apakah ini tentang anak-anak itu?"


Kakek mengangguk.


"Benar."


Prajurit di sebelahnya langsung menggebrak meja.


"AKU SUDAH KEHILANGAN PEDANGKU!"


Seorang arwah perempuan menyahut.


"Pedangmu ditemukan di kandang bebek."


"Itu bukan masalahnya!"


"Masalahnya apa?"


"Mereka menyuruh bebek itu menjadi jenderal!"


Seluruh ruangan terdiam.


Kemudian seorang arwah tua menghela napas panjang.


"Anak-anak zaman sekarang..."


### 2\. Dua tamu tak diundang


Sementara itu, di paviliun keluarga paman...


Lin Zhen terbangun karena ingin minum.


Ia menggoyangkan tubuh adiknya.


"An."


Tidak ada jawaban.


"An!"


Adiknya membuka mata.


"Apa?"


"Air."


An mengucek matanya.


"Kakak ambil."


Zhen turun dari tempat tidur.


Namun, ketika melewati lorong, ia mendengar suara ramai dari paviliun belakang.


"Jangan biarkan mereka mendekati altar lagi!"


"Benar! Minggu lalu mereka menempelkan kumis palsu di wajahku!"


"AKU LEBIH PARAH! MEREKA MENYURUH AKU MENJADI KUDA!"


Zhen berhenti.


Ia menoleh ke arah suara.


Kemudian tersenyum.


"An..."


Adiknya berjalan tertatih-tatih menghampiri.


"Apa?"


"Main."


Keduanya saling pandang.


Lalu berjalan menuju paviliun belakang.


### 3\. Agenda pertama: pengaduan


Di dalam ruangan, rapat masih berlangsung.


Kakek berjanggut putih mengetuk meja.


"Agenda pertama, laporan kejadian selama tujuh hari terakhir."


Seorang arwah perempuan berdiri.


"Aku ingin mengadu!"


"Silakan."


"Anak bernama Lin Zhen menyembunyikan sisirku."


Arwah lain mengangkat tangan.


"Lin An mengambil gelang giokku!"


Prajurit kembali berdiri.


"Dan aku kehilangan pedang!"


Kakek mengangguk serius.


Lihat selengkapnya