Blurb
Sutiyem (Nenek Uti) memiliki trauma mendalam terhadap kereta api semenjak bapaknya, mantan seorang seniman tari tradisional, tewas mengenaskan di atas rel puluhan tahun yang lalu. Namun, ketakutan itu terpaksa ia tanggalkan demi menemani Ezio, cucu laki-lakinya, melanjutkan sekolah di Kroya. Di balik penampilan maskulin sang cucu, Sutiyem adalah orang pertama yang menyadari keistimewaan Ezio. Perempuan itu melihat bayangan keluwesan mendiang bapaknya hidup kembali saat Ezio berlatih menari untuk perpisahan kelas enam SD. Sementara Rindu, sang ibu, jengah dan khawatir akan keselamatan Ezio bila memiliki watak lemah lembut. Sutiyem justru siap pasang badan menjadi pelindung yang menerima keluwesan cucunya apa adanya.
Di dalam gerbong, derak roda menggilas wesel menarik kembali ingatan masa lalu Sutiyem. Kenangan masa kecil yang perih, luka pengabaian ibunya setelah bapaknya tiada, lika-liku pernikahannya dengan Karta dan Zakaria, hingga anak-cucunya berkelebatan, menguji ketahanannya di atas rel. Sutiyem sempat berharap perjalanan yang membuatnya getas itu tak pernah dimulai.
Sutiyem cemas lingkungan baru akan mematahkan hati cucunya yang rentan. Namun, ia tak pernah menduga bahwa perjalanan ini sedang mengantarnya pada sebuah takdir sunyi. Ia lumpuh akibat stroke dan menjadi saksi bisu bagi rahasia besar Ezio yang diam-diam dipendam sendirian. Ezio telah membuat keputusan nekat untuk mendalami akar budaya leluhur mereka yang sempat terputus.
Mampukah cinta tak bersyarat seorang nenek yang kini terperangkap dalam kebisuan tubuhnya sendiri memberi restu terakhir bagi jalan sunyi sang cucu?
Nenek Uti, sebuah novelet mengenai perjalanan melintasi waktu, trauma masa lalu, dan benturan tradisi yang akan menyentuh hati Anda.