Sutiyem terjaga ketika kereta menggilas wesel. Derak prak-tak-tak dari gerbong itu menggema dalam kepala, menyentak, lalu menyeret sepotong kenangan masa kecilnya. Bayangan dirinya yang melonjak kegirangan setiap kali Rama dan Biyung mengajaknya naik kereta langsung berkelebat. Kala itu, kereta merupakan gerbang menuju negeri dongeng yang penuh marabahaya.
Kereta pun menjelma Sedana, ular sawa raksasa yang ia tunggangi. Deretan pohon kapuk beralih rupa menjadi gerombolan raksasa yang mengejar dan berupaya meringkusnya, sementara beringin di tanah lapang mendadak bangkit sebagai Kala Gumarang yang beringas memburunya. Tumpukan jerami kering di tengah sawah itu menyerupai Punakawan yang sedang menyamar. Sekawanan burung kuntul yang sedang terbang rendah berubah menjadi ratusan anak panah yang dilontarkan Dewa Wisnu. Tepat di kelokan setelah sawah, rimbun hutan bambu menjelma juntaian rambut Lampor yang siap mencengkeram dan menarik jatuh dirinya, sang Dewi Sri, dari atas Sedana, lalu mengurungnya dalam keranda. Dan jauh di depan, seiring desis napas Sedana yang kian memburu, asap hitam Rahwana membumbung tinggi, siap menelan mereka utuh-utuh!
Namun, tak selamanya perjalanan naik kereta adalah petualangan.
Ada masa-masa Sutiyem mesti duduk kaku, patuh dalam balutan kebaya dan kain jarik ketat. Berdandan rapi menurut Biyung, yang disertai wejangan tajam, “Kau harus menjaga sikapmu.” Rama, yang sering memihak dan membelanya, hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, menatap lembut wajahnya yang memerah menahan kesal. Itu adalah masa-masa yang membuatnya sesak. Perjalanan duka para kerabat. Saat ia harus menekan kuat-kuat keinginannya untuk berlari dan melompat bebas di dalam gerbong atau bersorak riang kala berdiri di bangku kayu, sementara angin menerpa rambutnya dan menabrak-nabrak wajah.
Ketika Mbah Putri dari Biyung berpulang, kedua orang tuanya seolah memasuki sebuah lorong gelap. Sutiyem berjalan mengikuti mereka sambil menatap punggung keduanya yang perlahan kian jauh meninggalkannya seorang diri. Ia tidak sedih seperti kedua orang tuanya (karena mengapa harus bersedih? Perempuan tua yang baru saja pergi itu hanya menghabiskan waktu dengan berbaring. Ia tak mewariskan banyak kenangan). Namun, melihat Biyung yang biasanya tegas bermuram durja dengan mata sembap, sambil sesekali mengusap air matanya yang terus mengalir, ia pun memilih untuk duduk diam, mematuhi apa-apa yang dikatakan Rama. Sementara itu, Rama sibuk mengusap lembut punggung Biyung, berulang-ulang.
Tak ada lagi Sedana.
Tak ada lagi perjalanan mendebarkan.
Malam itu, Sutiyem belum juga pulang ketika suluh dan lampu minyak mulai dinyalakan. Begitu muazin di surau selesai mengumandangkan azan Magrib, Rama langsung keluar rumah dengan langkah terburu-buru hingga sandal jepitnya terseret-seret di tanah. Ia mencari sang putri sambil menenteng sentir, menyisiri lapangan tempat Sutiyem biasa bermain lompat tali, petak umpet, dan engklek bersama teman-temannya. Namun, lapangan itu telah sepi, dan Sutiyem tak ada di sana.