Nenek Uti

Cerita Mikah
Chapter #2

Perjodohan

Mata tua Sutiyem jatuh pada wajah cucu lelakinya yang sedang terlelap di sampingnya. Dada pemuda tanggung itu naik-turun seiring napasnya berembus pelan, kepala terkulai ke kanan, dan samar-samar ada air liur di sudut mulutnya yang sedikit terbuka. Sutiyem terus mengamati wajah cucunya. Perlahan rasa hangat merambati hatinya, membuatnya tanpa sadar tersenyum.

Aku rela kembali ke tanah asal yang penuh kenangan pahit ini, demi menemanimu memulai masa SMA.

Namun, tiba-tiba kekhawatiran melesak, memenuhi dada tuanya. Sesak itu menjalar cepat, serupa kereta yang melaju di rel panjang yang tak pernah benar-benar berakhir, melahirkan rentetan pertanyaan yang belum lagi terjawab dalam benaknya.

Akankah ia mendapatkan pasangan yang mencintainya sepenuh hati, bersama mengarungi hidup hingga maut memisahkan? Dapatkah perempuan pendamping cucuku kelak menerima kelebihannya yang dianggap cela di mata masyarakat? Tidak seperti Biyung yang—ah! Tapi siapa aku yang berani memimpikan cinta yang indah untuk cucuku, sementara aku sendiri menikah dua kali? Tak patut rasanya aku memikirkan kebahagiaan yang seolah abadi antara dua insan.


Pada suatu sore, ketika Sutiyem baru genap berusia delapan belas, Biyung yang telah bertahun-tahun bersikap acuh tak acuh kepadanya, mendadak memanggilnya ke pawon[1]. Perempuan yang sedang mencampur sayuran dan bumbu kacang itu memintanya mendekat. Sutiyem pun duduk di dipan, di samping Biyung yang sedang menyerok pecel dari cobek ke piring dengan suthil kayu, kemudian menyodorkan piring itu ke hadapannya.

“Makanlah, Nok.[2] Biyung tahu kau sangat suka dengan pecel buatanku,” ujar Biyung sambil tersenyum.

Sutiyem hanya dapat diam dan menatap ibunya dengan keheranan. Biyung menaruh piring tersebut ke pangkuan Sutiyem, lalu meletakkan selembar rempeyek udang di atasnya. “Kau makanlah dulu.”

Sutiyem mengangguk pelan. Ia muluk pecel dengan potongan peyek. Tangisnya hampir tumpah saat ia mengunyah kangkung, tauge, dan kacang panjang yang berbalur bumbu kacang dengan aroma dan rasa khas kecombrang. Dan rempeyek udang itu, sungguh penganan renyah yang paling Sutiyem rindukan selama delapan tahun diabaikan Biyung.

Biyung mengusap lembut pipi Sutiyem kala air mata remaja itu menetes. Perempuan itu tersenyum, kemudian berkata, “Sehabis makan, kau dandan yang ayu, ya, Nok.”

Sutiyem yang kehilangan kewaspadaannya saat suapan ketiga masuk mulutnya, menganggukkan kepala. Ia belum tahu apa rencana Biyung, tetapi hatinya benar-benar terasa hangat karena perempuan itu berhenti mengabaikannya. Seusai mandi, Biyung memakaikan kebaya cokelat muda dan kain jarik cokelat tua, menyanggul rambut hitam panjangnya, lalu mengoleskan gincu merah ke bibirnya sambil tersenyum. Sutiyem diam saja, menikmati setiap sentuhan yang selama bertahun-tahun ini ia rindukan.

Saat ketukan di pintu rumah mereka terdengar, Biyung bangkit dari pinggir kasur. Ia menatap Sutiyem dengan puas, lalu berkata, “Kamu ayu pisan, Nok. Kamu sudah siap menjadi seorang istri.”

“Istri? Maksud Biyung apa?”

Biyung tersenyum. “Nanti kau juga mengerti, Nok. Mari ikut Biyung.”

Meski tak mengerti maksud Biyung, Sutiyem mengikuti langkah perempuan itu. Ia teramat takut Biyung akan kembali mengabaikannya bila ia tak menurut. Namun, di sisi lain, batinnya berkecamuk.

Siap menjadi istri? Apa Biyung hendak mengawinkanku? Dengan siapa? Apakah yang mengetuk rumah kami seorang lelaki? Apakah itu calon suamiku nanti?

Begitu Biyung membuka pintu, tampaklah lelaki seusia ibunya. Ia tersenyum, memperlihatkan deretan giginya. Biyung tersenyum, kemudian mempersilakannya masuk. “Duduklah dulu, kita bicara di dalam.”

"Cah lanange nyong ora teyeng melu, deweke kudu sinau nggo ujian Carik,”[3] kata lelaki itu lugas.

Biyung tampak kecewa saat mendengar penjelasan lelaki itu. Namun, dengan cepat senyuman manisnya menggantikan gundah di wajahnya. Ia melambaikan tangan kanannya. “Ah, tak apa. Tak jadi soal. Tak ada yang lebih penting dibandingkan ujian. Lagi pula kau bisa membawanya serta saat kau berkunjung lagi. Duduklah, biar kuambilkan minum. Mau teh hangat atau air putih?”

“Teh manis hangat. Kan kamu sudah tahu sendiri, kalau aku dari dulu suka teh manis hangat,” jawab lelaki itu sambil menjatuhkan tubuhnya ke kursi bambu. Suaranya berat dan tanpa basa-basi, khas orang yang berbicara tanpa saringan. Tanpa peduli keberadaan Biyung dan Sutiyem, ia mengamati rumah tersebut dengan mata menyelidik terang-terangan.

Nok, kamu temani dulu Pakde Suyitno. Biyung buatkan minuman dulu.”

Nggih, Biyung,” balas Sutiyem sambil menggenggam tangannya keras-keras.

Begitu Biyung masuk ke dapur, lelaki bernama Suyitno itu memperhatikan Sutiyem. Sutiyem yang merasa tak nyaman, langsung menundukkan kepalanya.

“Siapa namamu, Cah Ayu?”

“Sutiyem, Pakde …”

"Biyungmu sudah cerita kalau Pakde ini teman masa kecilnya?” tanya Suyitno sambil mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat lebih jelas wajah Sutiyem.

“Belum, Pakde …” jawab Sutiyem sambil menggeleng pelan, tetap menunduk.

Lihat selengkapnya