Nenek Uti

Cerita Mikah
Chapter #3

Sawah Sehabis Hujan

Kereta melaju perlahan, kemudian berhenti ketika memasuki sebuah stasiun. Dengan hati-hati agar cucu yang bersandar di lengannya tak terbangun, Sutiyem menengok ke jendela. Di luar langit masih gelap. Ia menyipitkan mata, berusaha membaca plang nama stasiun tersebut. Cirebon. Ternyata perkiraannya salah. Sepur yang ia tumpangi baru sampai di Kota Udang—belum melewatinya. Ia mempererat sampur merah saga pudar di pundaknya, kemudian mendesah pelan.

Matanya kemudian terantuk pada sosok perempuan tua di bangku tunggu. Perempuan tua itu duduk menunduk sambil terkantuk-kantuk. Melihatnya, Sutiyem jadi teringat Biyung …

 

Keesokan hari setelah Suyitno berkunjung, Biyung mengungkap rahasia di balik janji perjodohannya dengan Karta, anak lelaki Suyitno. Jauh sebelum janji itu terlontar dari mulut Biyung, Suyitno muda rupanya telah lama menyimpan rasa pada Biyung. Sejak mereka berumur tiga belas tahun, Suyitno sudah menunjukkan gelagat jatuh hati pada teman masa kecilnya itu. Barulah saat menginjak usia enam belas, pemuda itu memberanikan diri menyatakan cintanya pada Biyung. Namun, gadis itu dengan cepat menolak mentah-mentah Suyitno. Bagi Biyung, mereka tak lebih dari teman sejak kecil. Biyung menegaskan bahwa ia tak pernah menginginkan kehadiran seorang lelaki dalam hidupnya. Ia merasa sudah cukup dengan dirinya sendiri.

Mendengar penolakan tersebut, Suyitno membalas bahwa secukup apa pun Sulastri dengan dirinya sendiri, seorang perempuan tetaplah membutuhkan seorang suami untuk menjaganya seumur hidup. Biyung tersenyum sinis mendengar kata-kata lelaki di hadapannya itu. Dengan tegas, ia mengatakan bahwa usaha kecilnya berjualan pecel sayur dan rempeyek udang sudah lebih dari cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Ia tak butuh seorang lelaki untuk menjaga dan menopangnya, apalagi seumur hidup. Ia tak perlu dan tak pernah ingin berbagi hidup dengan lelaki mana pun.

Wajah Suyitno merah padam. Ia meluapkan amarahnya dengan berkata, “Kamu jangan sombong, Lastri! Orang tuamu pasti menginginkan keturunan darimu! Dan jangan kau lupa, kamu takkan pernah bisa melawan masyarakat! Mereka pasti menuntutmu menikah!”

"Lha, wong gembungmu kuwe ora gur butuh mangan karo ngombe, gembungmu ya butuh dielus karo didekep sekang wong lanang!” [1] tambah Suyitno dengan suara bergetar.

Kali ini senyuman tak tampak di wajah Biyung. Ia menatap tajam Suyitno, lalu berkata tegas sambil bertolak pinggang dan menunjuk muka pemuda itu, “Tek buktekna mengko! Angger inyong nganti rabi terus nduwe keturunan, keturunan nyong kuwe bakalan tek kawinna karo keturunanmu. Kuwe supatah inyong!”[2]

Kemudian Biyung pergi meninggalkan saung di pinggir sawah itu. Hanya suara jangkrik yang terdengar saat Suyitno merasa sangat sesak karena hatinya telah patah di malam itu. Ada penyesalan yang bersarang di dadanya karena telah berkata kasar pada Sulastri—hanya demi memiliki teman masa kecilnya itu. Akhirnya pertahanannya runtuh. Tangis pemuda itu pecah seiring langkah kakinya yang berlari pulang menembus kegelapan.

 

Sutiyem mengingat semuanya sambil mengernyit.

Mengapa Biyung harus memakai kata supatah? Mengapa Biyung tak menggunakan kata janji atau sumpah saja? Bukankah supatah lebih dekat maknanya dengan kutukan takdir yang mengikat antargenerasi? Kutukan yang mengunci nasibku untuk harus menikah dengan Kang Karta? Menjadikannya tebusan untuk harga diri Biyung yang terluka.

Ketika Sutiyem tersadar dari lamunannya, sepur sudah melaju kencang lagi. Dari balik jendela, ia melihat hamparan persawahan mulai membentang. Sutiyem tersenyum. Ia sangat menyukai sawah sehabis hujan. Seandainya saja hujan turun saat ini. Petak-petak sawah yang membentang di luar sana mengingatkannya pada sosok Karta.

 

Sore itu, Sutiyem baru saja selesai berpakaian selepas mandi. Ia sedang menyisiri rambut panjangnya yang masih agak basah ketika terdengar ketukan di pintu. Awalnya ketukan itu terdengar pelan dan sopan. Namun, karena tak kunjung ada yang menyahut dan membukakan pintu, ketukan itu berubah menjadi agak keras dan ragu-ragu.

Saat Sutiyem membuka pintu, ia terkejut melihat Karta sudah berdiri di sana. Dengan rambut klimis belah kanan, pemuda itu tersenyum kaku salah tingkah sembari menyodorkan setangkai sedap malam yang bercecabang dan berbunga rimbun. Sutiyem terpaku menatap wajah Karta. Dari balik kulit sawo Karta, Sutiyem dapat melihat dengan jelas semburat malu yang menjalar di kedua pipi lelaki itu.

Apakah Kang Karta benar-benar hendak menjadikanku istrinya? Ia senang dengan perjodohan kami? Aku—aku belum yakin dengan perjodohan kami … aku—

“Bunga ini untukmu. Terimalah,” ujar Karta malu-malu.

Namun, karena Sutiyem tak bergeming, terdiam menatap bunga di tangan Karta, pemuda itu menatap Sutiyem dengan tatapan sedih dan bertanya, "Apa ... kamu tak suka bunga dariku?"

Sutiyem sempat terperangah menatap balik Karta, tapi ia secepatnya tersenyum manis sembari mengucap terima kasih dan menerima bunga itu. Demi menjaga harga diri pemuda yang berdiri di hadapannya, Sutiyem lantas menghirup dalam-dalam keharuman sedap malam itu—seolah ia baru pertama kali mencium aroma sewangi itu.

Lihat selengkapnya