Nenek Uti

Cerita Mikah
Chapter #4

Umak

“Dak tido, Mak? Lah sampe mane?”[1] tanyaku saat kulihat Umak melamun sedih menatap pemandangan di luar jendela kereta. Aku khawatir ketakutan Umak menaiki kereta yang selama berpuluh tahun dia hindari, menemukan celah dan masuk saat dia duduk di gerbong ini.

Umak menoleh ke arahku, menatap wajahku yang masih kusut karena kantuk. Dia tersenyum lembut, kemudian menjawab sambil berbisik mengingatkanku, “Lah dem tadi. Jangan beso ige sohe kau, kagek anak kau tebangun.”[2]

Aku mengangguk dan berbisik, “Umak dak lapo? Men lapo, ade mi kap.”[3]

Umak menggeleng seraya menjawab, “Kau tidolah lagi. Cak e, kau masih kepeyan ngen ngantuk. Dak usah mikiri aku.”[4]

Aku hendak membetulkan posisi kepala anak pertamaku yang bersandar di lengan Umak, tetapi Umak melarangku dengan gelengan halus. Aku menghela napas pendek, lantas kembali ke tempat dudukku. Sambil menyandarkan tubuh, aku melirik Umak yang kembali menatap kosong ke luar jendela sambil berteleku di pegangan bangku. Entah apa yang dia pikirkan saat memandangi kegelapan yang melesat di luar sana.

Hatiku sebenarnya jeri saat harus melepas Ezio ke Pulau Jawa untuk melanjutkan sekolah kejuruan. Anak laki-laki pertamaku itu mewarisi watak keras kepala suamiku. Beberapa kali pun dia dipukul dan dimaki bapaknya karena bandel, semua itu seakan tak berarti baginya. Ezio selalu kembali mengulangi kesalahan yang sama, seolah setiap pukulan dan makian tersebut tak membekas di hatinya. Aku takut di Kroya nanti dia malah terperosok pergaulan yang salah, menjadi liar tak terjaga.

Padahal, aku sengaja menyekolahkannya ke Pulau Jawa bukan tanpa sebab. Selain karena mutu pendidikan di kampung kami masih jauh tertinggal, letak sekolah-sekolah sangat jauh dari rumah dan akses jalan menuju ke sana pun sulit. Dan yang menjadi alasan utamaku mengirim Ezio menyeberang pulau sebenarnya demi menjauhkannya dari lingkungan yang buruk di kampungku. Di pulau tempatku hidup, peredaran narkoba begitu mengkhawatirkan. Aku takut anak laki-lakiku menjadi salah satu korbannya.

Namun, aku tetap merasa risau. Meski kecil kemungkinan Ezio terjerumus pergaulan salah di Kroya sana, hatiku tetap tak tenang. Di sana, dia dan Umak akan tinggal di rumah keluarga anak pertama Umak. Aku takut anak remajaku tak dapat menjaga tingkah lakunya, membuatku malu di hadapan kakak tiriku. Kebiasaan Ezio dalam memilih makanan pun selalu membuatku waswas. Dia sering menolak makanan yang sudah aku atau Umak masak. Tak selera katanya. Sebagai gantinya, dia lebih suka mengonsumsi makanan tak sehat seperti mi instan, sosis, dan nuget, atau makanan pedas seperti seblak. Segala yang masam seperti belimbing wuluh atau jeruk nipis yang dibubuhi cabai bubuk dan garam … ah, anak lelakiku itu memang kerap membuatku sesak terimpit kekhawatiran.

Sementara Umak, dia mulai sering pikun. Lupa di mana menyimpan ciputnya, lupa di mana menyimpan garam, lupa siapa nama kucing oranye milik Ezio, atau lupa apakah ayam-ayam sudah diberi makan atau belum. Bahkan suatu waktu, Umak pernah lupa kalau ayam jantan kesayangannya, si Bujang, sudah lama mati. Sepertinya Umak sudah terlampau tua sekarang, terlalu lelah untuk sekadar mengingat. 

Aku khawatir jika Ezio menanyakan di mana barang-barangnya yang selalu tercecer, seperti dasi pramukanya, celana seragam, atau bahkan celana dalamnya, Umak takkan tahu dan sama sekali tak punya petunjuk. Dan kalau sudah begitu, Ezio pasti marah-marah pada Umak. Sudah beberapa kali aku melihat dia membentak dan melawan omongan Umak. Aku takut sikap keras Ezio akan sering menyakiti hati Umak, yang padahal bersikeras mau ikut tinggal di Kroya demi menemani cucunya bersekolah. Kalau Ezio betul-betul menjadi liar … mak oi![5] Bagaimana nasib Umak? Bisakah Umak menasihati anak keras kepala itu? Atau, lebih tepatnya, maukah Ezio menurut kepada Umak?

Tapi, benarkah Umak tak apa-apa menaiki kereta lagi? Sebelum menanyakan mengapa dia tak tidur, aku sempat melihat Umak menyeka air matanya dengan selendang merah yang tersampir di bahunya. Aku heran mengapa Umak bersikeras mengenakan selendang itu. Aku sudah membelikan dua syal berwarna hijau dan biru, tapi hanya Umak simpan di tasnya bersama beberapa potong pakaiannya. Ketika kutanya mengapa dia hanya membawa beberapa potong pakaian saja, padahal dia akan ikut menetap di Kroya, Umak hanya tersenyum dan mengatakan dengan lembut untuk apa banyak-banyak pakaian, toh, aku hanya akan di rumah saja atau paling jauh ke warung.

Umak memintaku tak khawatir. Kalau ada pesta atau kondangan, dia sudah membawa dua potong pakaian bagus untuk acara-acara yang mengharuskannya tampil apik. Aku diam saja saat itu. Padahal aku hafal, pasti pakaian bagus yang Umak maksud adalah gamis hitam dan gamis krem miliknya. Gamis hitam biasa dia gunakan untuk melayat, sementara gamis kremnya sudah agak pudar, rasanya tak pantas dikenakan untuk acara pesta atau kondangan. Tapi, bila aku protes, pasti Umak akan mengatakan kalau dia sudah tua, takkan ada yang peduli atau memperhatikan pakaian yang dia kenakan. Buat Umak mungkin betul, tapi bagiku, sebagai anak perempuan satu-satunya Ba dan Umak, rasanya tak semestinya kubiarkan Umak mengenakan pakaian yang sudah agak kepam.

Lihat selengkapnya