Nenek Uti

Cerita Mikah
Chapter #5

Anak Pertama

Sutiyem menatap sedih ke luar jendela, memandangi kelebatan pepohonan yang berganti perumahan penduduk, persawahan, kemudian lahan kosong. Kesedihan yang berkaitan erat dengan putri pertamanya, terus membuat hatinya tak tenang. Anak itu terpaksa ia tinggalkan di Jawa ketika usianya masih sepuluh tahun, persis umur Sutiyem sendiri saat ia diabaikan Biyung dulu. Tak ada sedikit pun niat dalam dirinya untuk mengulang kekejaman serupa. Oleh karena itu, ia mencoba menebus kesalahan masa lalunya dengan menganggap setiap anak muda yang menumpang tinggal di rumahnya, di Sumatra, sebagai darah dagingnya sendiri.

 

Dulu ia terpaksa meninggalkan putrinya karena ia harus bekerja di Jakarta. Meski upah buruh di ibu kota terbilang minim, setidaknya masih jauh lebih cukup untuk menyambung hidup ketimbang bertahan di kampung. Selain itu, anak satu-satunya itulah yang menjadi alasan utama bagi Karta untuk terus mengejar dan mengusik hidupnya. Ia dan Karta sebenarnya sudah bercerai beberapa bulan setelah warga kampung membongkar dosa besar lelaki itu, tapi mantan suami Sutiyem itu kerap berdalih mereka harus tetap bertahan demi anak.

Sebenarnya, Sutiyem sudi berkorban demi putrinya dan rujuk dengan Karta. Namun, melihat kelakuan Karta yang sudah dipecat dari pekerjaannya lalu luntang-lantung, sembari tetap berjudi dan menenggak alkohol murahan, membuat Sutiyem jengah. Terlebih Karta kian ringan tangan dan kerap menantang duel setiap lelaki yang kedapatan menyapa Sutiyem di jalan atau di depan rumah Biyung.

Sutiyem berupaya mengingat-ingat sekuat tenaga beberapa jenak. Ingatannya berlabuh pada suatu siang, saat ia dan Suroto, sepupu jauh yang berusia dua tahun lebih muda darinya, sedang memetik cabai rawit di halaman rumah Biyung. Meski mereka baru bertemu lagi setelah sekian lama, percakapan mereka siang itu mengalir lancar dan penuh tawa. Sampai akhirnya Karta datang dengan roma ciu yang menguar kuat dari mulutnya. Lelaki itu langsung menunjuk muka Suroto dengan murka, menuduhnya sebagai kekasih gelap Sutiyem. Disergap kepanikan, Sutiyem serta-merta menyambar anak perempuannya yang sedang bermain di teras, mendekapnya erat, kemudian bergegas menyelamatkan diri ke dalam rumah.

Saat Sutiyem kembali keluar, ia terkejut mendapati Karta sudah tergeletak dengan pipi memar dan sudut bibir berdarah. Di dekat mantan suaminya itu, Suroto baru saja menurunkan kuda-kuda dan berdiri tegap. Sutiyem seketika menghela napas lega, Karta beruntung tidak dihajar hingga babak belur, mengingat sepupunya tersebut seorang guru Perguruan Pencak Silat Kembang Setaman. Ancaman Suroto pun tak main-main. Ketika Suroto memberi hitungan hingga tiga, Karta yang ketakutan langsung tunggang langgang melarikan diri sebelum bogem mentah berikutnya benar-benar membuat dirinya tak sadarkan diri.

Meski lega karena dirinya dan putrinya tak terluka sedikit pun berkat Suroto, Sutiyem benar-benar sadar Karta membuat hidup mereka tak lagi aman. Siang itu mereka beruntung karena ada Suroto, tapi di lain waktu, bisa saja ia tewas di tangan Karta yang akalnya telah digerus alkohol. Kenyataan pahit tersebut memantapkan keputusan Sutiyem untuk menitipkan anaknya pada Suyitno, sementara ia pergi menerima tawaran bekerja sebagai buruh di Jakarta lewat bantuan Suroto. Maka esok paginya, ditemani sepupunya, ia membawa anak perempuannya menuju rumah mantan mertua. Setidaknya Sutiyem yakin, meski harus berpisah, putrinya akan jauh lebih aman di bawah pengawasan Suyitno.

Setelah Sutiyem membeberkan seluruh kelakuan Karta setelah mereka bercerai berikut rencana kepergiannya, Suyitno terdiam sejenak. Lelaki tua itu memecah keheningan dengan menggebrak meja sambil merutuki kelakuan putranya. Suyitno lantas meminta maaf atas kebodohan Karta, lantas memohon agar Sutiyem memikirkan kembali keputusan nekatnya untuk bekerja di ibu kota dan meninggalkan putrinya.

Sutiyem menatap sepasang mata ringkih mantan mertuanya, sebelum akhirnya menunduk perlahan. Ia berkata dengan nada rendah, tetapi sarat ketegasan, “Menerima bukan berarti pasrah sepenuhnya, Rama. Melainkan menerima keadaan dengan lapang dada, kemudian bergerak mencari jalan yang terang. Aku sudah mengalah selama menikah dengan putra Rama. Selama itu pula aku juga berusaha mengingatkannya, tetapi Karta tak juga mengubah sikap buruknya. Bahkan kini setelah kami bercerai, ia masih merecoki kehidupanku. Sudah saatnya aku bangkit menjemput jalan yang terang itu.”

Suyitno terkesiap mendengar jawaban mantan menantunya. Ia menghela napas pelan, kemudian memandang Sutiyem dengan tatapan sedih yang dalam. “Tapi biyungmu wis langka, Nok. Nyong mesti kangelan ngopeni bocah kuwe dewekan, tanpa welas asihe wong wadon. Mesake anakmu, Nok. Rungokna omonganku, mbukane nganah-nganah Denok bakal getun karo keputusanmu kiye,”[1] lirih Suyitno.

“Tanpa mengurangi rasa hormatku kepada Bapak, aku benar-benar butuh bantuan Bapak untuk mengurus dan mendidik satu-satunya anakku. Bapak tak usah khawatir, putriku penurut dan tahu sopan santun, ia takkan merepotkan Bapak. Sungguh. Setiap Lebaran kelak, aku pasti akan mengusahakan untuk pulang, dan akan sowan ke rumah ini untuk menjemput anakku,” balas Sutiyem sembari mengangkat wajah, menatap Suyitno dengan penuh keteguhan.

“Tapi rumahmu—”

“Rama tak usah khawatir, rumah itu akan tetap ditinggali dan diurus Anto,” potong Sutiyem cepat.

Suyitno menatap mata Sutiyem beberapa jenak. Perlahan, ia menggelengkan kepala, lantas mendesah, “Kau memang mirip biyungmu, Nok. Kalau sudah menetapkan kemauan, tak ada yang mampu menggoyahkannya.” Lelaki tua itu berhenti sejenak, menelan kepahitan, sebelum melanjutkan, “Baiklah, Rama akan mengurus anakmu, cucuku. Kau tak usah khawatir, Rama janji Karta takkan pernah menyakitinya. Jagalah dirimu baik-baik selama di Jakarta nanti.”

Sebelum pergi, Sutiyem mendekap erat anak perempuannya. Ia mencium pipi putrinya berkali-kali sembari sekuat tenaga menahan tangis yang menyesak di dada. Perempuan itu membisikkan wejangan terakhir, meminta putrinya untuk selalu menuruti perkataan kakeknya. Sutiyem tersenyum haru sekaligus lega saat bocah perempuannya mengangguk dengan mantap. Begitu tautan jemari mereka terlepas, dengan berat hati, Sutiyem pun melangkahkan kaki ke Jakarta bersama Suroto.

 

Pandangan Sutiyem memburam karena matanya berkaca-kaca. Perempuan tua itu terus menatap lekat pemandangan di luar jendela yang berkelebatan, berusaha menyembunyikan dukanya agar tak tertangkap mata putri dan cucunya. Sudah berapa tahun aku dan anak perempuan pertamaku tidak bertemu? Selama bekerja di ibu kota sebagai buruh di pabrik lampu, hanya beberapa kali ia sempat pulang saat Lebaran. Setelah sembilan tahun lamanya ia menghabiskan hari dengan memeriksa jutaan lampu yang akan dikirim keluar pabrik, perempuan tersebut bertemu dengan calon suami keduanya.

 

Dada Sutiyem berdesir. Ingatannya mendadak terikat pada awal kedekatannya dengan lelaki keduanya. Setelah hubungan mereka kian erat, calon suaminya berkisah ia telah memiliki empat orang anak, dua putri dan dua putra. “Tapi kau tak usah risau, istri saya telah tiada. Saya menduda bukan karena bercerai, melainkan karena ditinggal mati,” ucap lelaki itu sembari menatap lekat-lekat sepasang mata Sutiyem.

“Seserius apa kamu denganku, Zakaria?”

Lihat selengkapnya