Neng Zulfa: Menikah dengan Gus Dingin

Puput Pelangi
Chapter #6

Bab 5 - Sepucuk Surat Cinta

Assalamu'alaikum,

Kaukah gadis berkerudung ungu yang tak sengaja berpapasan denganku di dapur hari itu? Aku hanya ingin memastikan apakah surat ini benar-benar sampai padamu.

Maafkan aku karena tidak bisa menahan diriku. Juga maafkan aku atas kelancanganku berkirim surat seperti ini padamu. Ketahuilah, sejak hari itu aku rasa aku sudah jatuh hati padamu.

Zulfa, kalau boleh aku langsung mengucap namamu. Berhari-hari kamu memenuhi kepalaku. Aku sudah mencegah diriku memikirkanmu tapi hati dan pikiranku tidak mau bekerja sama.

Paras cantikmu yang selalu membayangiku saat menutup mata, senyum cerahmu yang menyinari ruang tamu kala orang tua kita saling mengenalkan menghantui setiap malamku.

Rasanya aku sudah hampir gila memikirkanmu. Dan kegilaan itulah yang mendesakku menulis surat ini untukmu. Berhari-hari rasanya aku baru bisa menuliskannya. Tanganku bergetar saat ini jika kamu mau mempercayainya.

Zulfa. Zulfa Zahra El-Faza. Jika kamu mengizinkannya, aku ingin menyebut namamu dalam setiap doa. Menyematkannya dalam lubuk terdalam hati ini.

Sekali lagi maafkan kelancanganku. Seperti kamu yang berhasil memasuki hatiku, izinkanlah aku memasuki hatimu. Anggap saja surat ini adalah aku yang sedang mengetuk pintu hatimu. Menginginkanmu menjadi kekasihku.

Seseorang yang mengharap balasan iya darimu,

Fatih Thoriqul Firdaus

Jemari Zulfa bergetar membacanya. Setitik kristal dari matanya berhasil mengaburkan tinta hitam di atas kertas berwarna putih yang tertimpa butir bening itu. Kertas yang kini ada di tangannya itu adalah surat pertama yang didapatnya dari Fatih dulu. Awal dari segala emosi dan rasa yang berkecamuk hebat di hatinya saat ini.

Sungguh, kalau bisa Zulfa tidak ingin menyesalinya, ia ingin mempercayai setiap huruf yang merangkai kata demi kata yang dituliskan Fatih dalam kertas itu, tetapi kenyataan lebih dulu menghempas keinginan itu.

Ceklek ....

Dengan gerakan cepat, Zulfa mengusap air matanya kasar dan melipat suratnya, menyembunyikan kertas lusuh itu di balik jilbab tosca yang dipakainya sembari memutar tubuhnya yang duduk di tepi ranjang untuk membelakangi pintu.

“Zulfa.” Fatih berjalan mendekat. Tangannya kini memegang sisi kanan pundak istrinya yang sebenarnya rapuh tanpa sepengetahuannya.

Zulfa mendongakkan kepala. Ia membalikkan badannya setelah menyimpan surat yang ia pegang ke dalam tas bersama surat-surat lainnya dalam kotak sebelum berdiri di depan Fatih. Senyuman ranum berhasil ia ciptakan di selipan bibirnya.

Sebentar Fatih menatapnya, tidak lama karena laki-laki itu segera berpaling dan berjalan ke pintu dengan tubuh yang menghadap Zulfa hanya dari samping. Zulfa semakin menarik sudut bibirnya, kali ini bukan tersenyum tentunya. Sebuah cebikan atas rasa kecewa. Itu saja.

“Bagaimana? Mas Fatih jadi kan mengentarku pulang ke Kediri? Aku sudah sangat kangen Abah-Umi,” kata Zulfa menentang tas berisi beberapa potong pakaian miliknya itu. Tidak banyak karena ia ingat masih memiliki banyak pakaian di rumahnya. Malah menciptakan masalah jika ia pergi dengan koper besar, apalagi dengan seluruh pakaian dan barang miliknya.

“Mas,” tegur Zulfa. “Jadi, kan? Mas sudah bilang Ibu dan Abah, kan?”

“Iya.” Fatih menganggukinya. Terjadi jeda. “Tapi sepertinya tidak hari ini, Fa,” kata Fatih memutar tubuh penuh membelakangi Zulfa.

“Hah? Kenapa?” Zulfa mengendurkan jemarinya yang memegangi tas tangan. Bingung dengan penuturan laki-laki yang ada di depannya itu. Kedua alis tebalnya hampir menyatu berkat kerutan di dahi proporsionalnya.

“Ibu yang akan mengatakannya. Aku sendiri belum tahu kenapa. Sekarang Ibu menunggu kita di kamarnya,” ucap Fatih melangkahkan kaki.

Zulfa pun meletakkan tasnya lalu berjalan mengekori suaminya itu dengan mata yang menatap penuh punggung kokoh di depannya.

Ada apa sebenarnya?

Pikirannya melayang pada apa yang mau dikatakan ibu mertuanya.

Cek!

Mata Zulfa membola. Terkejut. Baru saja Fatih berbalik dan menggenggam tangannya.

***

Perlahan Fatih memutar handel pintu jati berwarna tulang itu. Membuat nuansa terang dan hangat yang ada di dalamnya tersingkap.

Zulfa yang mematung di balik punggungnya tercekat saat tangan besarnya meraih tangan mungil gadis itu lagi, membawanya dalam pegangan hangatnya

Lihat selengkapnya