Fatih Thoriqul Firdaus
Hari ini suasana pesantren begitu ramai, semarak sekaligus meriah.
Panggung besar didirikan di halaman utama yayasan dengan kursi-kursi berjajar memanjang sepanjang timur ke barat, menghadap panggung yang kebetulan—dan bisa dibilang selalu berada sejajar dengan pintu utama ndalem.
Aku berdiri di belakang jendela kantor madrasah diniyah. Terpaku melihat seorang gadis yang duduk di bangku wisudawati dengan ratusan santri putri lain yang rencananya hari ini akan diwisuda.
Ia tampak memesona dengan balutan gamis biru tua dan pashmina senada yang melekat sempurna di tubuhnya, dresscode yang sama dengan para wisudawati lainnya.
Sesekali gadis itu tertawa dengan teman-temannya. Salah satunya kukenali menjadi khodimah di ndalem pondok, Dewi, kata Ibu dia santri putri yang sejak lama bersahabat dengan gadis yang sedang menyedot perhatianku kini.
Entah, sudah berapa lama aku memperhatikannya dari sini. Acaranya bahkan sudah dimulai, meski belum ke inti tetapi aku tidak bosan sama sekali. Rasanya kedua kakiku sulit sekali diajak beranjak, pergi bergabung dengan dewan asatidz lain yang sudah duduk di kursi-kursi yang disediakan di depan panggung.
Senang saja melihatnya begini. Lagi pula, jika aku duduk di sana aku akan kesulitan melihatnya, tidak bisa malahan. Tempat duduk asatidz ada di depan sedangkan wisudawan di belakang.
Ingat, wisudawan. Bukan wisudawati!
Semua tempat duduk laki-laki dan perempuan disekat oleh tabir. Jadi aku tidak akan bisa melihatnya jika sudah duduk di sana.
Gadis cantik itu selalu berhasil menarik perhatianku. Tawanya, senyumnya, tatapan mata, cara bicara, dan jalannya. Aku menyukainya. Seolah semua kualitas yang ada dimiliki semua olehnya. Mungkin, karena itu juga aku jatuh padanya. Meski tak sepenuhnya, hatiku telah memilihnya.
Dia Zulfa. Zulfa Zahra El-Faza. Gadis yang sejak pertama melihatnya membuatku langsung tertarik padanya. Dialah gadis yang seminggu lagi akan menjadi menantu di keluarga ndalem pesantren ini.
Tidak kupungkiri. Alasan lain aku memilihnya adalah karena dia mirip seseorang.
Seseorang yang saat ini berada jauh di sana, di seberang Pulau Jawa yang menjadi tempatku berpijak saat ini. Gadis cantik bermata sendu yang berada dua semester di bawahku saat kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir dulu. Putri tunggal seorang dosen kesayanganku, Syekh Utsman As-Sanwani, Sabrina. Perempuan yamg sampai saat ini masih melekat di hatiku, cinta pertamaku.
Aku tahu sangat salah masih memikirkannya. Gadis itulah yang membuatku uring-uringan karena penolakannya. Dia menolak untuk kunikahi saat aku melamarnya. Padahal aku tahu sebelumnya, Sabrina juga mencintaiku.
Syekh Utsman As-Sanwani sendiri yang bahkan berbicara langsung padaku mengenai perasaan Sabrina itu. Beliau juga terang-terangan mengatakan kalau aku sudah dianggap putranya sendiri dan menginginkanku menjadi menantunya, suami putri semata wayangnya. Namun, begitu aku melamarnya setelah aku diwisuda dan mendapat gelar sarjana, Sabrina malah tidak menerimanya.
Aku yang saat itu sudah begitu mengharapkannya menjadi ratu di hidupku pun berakhir seperti mayat hidup.
Sepulang dari Mesir aku tidak langsung kembali ke rumah. Aku pergi mondok ke pondok lamaku di Paculgowang mememui kiaiku, menceritakan semua masalah, kekecewaan, dan sakit hatiku pada beliau. Dan saat semuanya dirasa mulai terkendali, aku baru pulang menemui Abah dan Ibu, mereka tidak kubiarkan tahu mengenai patah hatiku. Aku beralasan kangen pondokku saat mereka bertanya alasanku tidak langsung pulang.
Dan tidak lama setelah itulah, aku bertemu Zulfa. Gadis yang memiliki sihir di matanya itu yang kemudian mengusik pikiranku selain Sabrina. Dia benar-benar mencuri perhatianku sejak pertemuan tidak sengajaku dengannya.
Saat itu aku baru saja selesai wudu di kamar mandi ndalem yang ada di dapur karena kamar mandi kamarku yang sudah kehabisan air sedangkan kerannya tidak bisa dinyalakan gara-gara saluran air ndalem yang hari itu rusak. Aku berakhir wudu di sana karena hanya kamar mandi itulah yang airnya tersedia. Pengairannya memang dari sumur dengan kerekan timba.
Aku dan Zulfa. Kami berpapasan di sana. Aku langsung terpesona seketika saat melihat dirinya yang hari itu kebetulan memakai pakaian serba ungu, warna favoritku. Dan siapa sangka, hari itu juga aku dikenalkan dengannya—hal yang membuatku semakin penasaran kepadanya.
“Mari, Gus, ke depan panggung. Wisudanya sebentar lagi ini!”
Sebuah suara menarik atensiku.
Aku menoleh dan melihat Ustaz Imam berdiri di depan pintu, kepalanya menyembul ke arahku. Aku segera mengiyakan dan menyuruhnya pergi dulu untuk melihat ke luar jendela lagi. Mencari sosok periku yang ternyata sudah membentuk barisan untuk diwisuda.