Neng Zulfa: Menikah dengan Gus Dingin

Puput Pelangi
Chapter #8

Bab 7 - Bulan Madu

Zulfa Zahra El-Faza

Bulan madu?

Aku menertawakan diriku. Bagaimana tidak? Kata-kata Ibu itu terus terngiang-ngiang di telingaku setibanya aku dan Gus Fatih di Kediri, seperti ada yang menekan tombol repeat di kepalaku berkali-kali.

Tentu saja, aku dipenuhi harapan saat ini. Pondok orang tuaku memang menyediakan tempat privat untuk pasangan yang baru menikah, khususnya para santri yang dulunya menjadi bagian pesantren ini. Entah ide siapa, sejak aku kecil tempat itu memang sudah ada.

Aku tidak pernah tertarik mengetahui sejarahnya.

Tempat itu masih berada di area dekat ndalem yang sekelilingnya dibangun dinding dari batako. Aku hanya pernah dua kali masuk ke sana. Dalamnya seperti taman dengan berbagai tanaman hias dan bunga. Dan, ya, sebuah gazebo berdiri agung di tengahnya, dan aku tidak pernah memasukinya selain melihat ikan hias cantik yang ada di kolam besar sampingnya.

Aku tidak tahu harus menuruti Umi yang menyuruhku bermalam di gazebo itu atau menolaknya lagi kali ini.

Dulu seusai resepsi yang diadakan di sini, Umi sudah menyuruhku dan Gus Fatih beristirahat di gazebo itu. Aku yang sudah terlalu lelah menyalami tamu undangan yang jumlahnya ribuan menolak, memilih istirahat di kamarku sendiri. Tidak ada apa-apa yang terjadi malam itu. Kupikir Gus Fatih juga kelelahan sepertiku, tetapi itu berulang terus selama di Jombang, dan sampai sekarang.

Baiklah. Mungkin aku memang harus menerima tawaran itu. Siapa tahu gazebo itu memang ditakdirkan Allah menjadi saksi keberhasilan usahaku. Saksi bisu cintaku.

Namun, bagaimana aku mengatakannya pada Umi? Bagaimana juga pandangan Gus Fatih nanti jika aku yang meminta sendiri ke Umi?

Sungguh, gengsi itu mahal. Apalagi aku sudah masuk ke kamar ini dan memindahkan baju-baju dari koper kami ke lemari. Masa iya harus menunggu Umi menawari lagi?

“Fa, kamu dicari Umi.”

Aku menoleh pada asal suara bariton milik Gus Fatih yang baru saja masuk ke kamarku.

Ralat! Bukan kamarku lagi, tetapi kamar kami.

Ia melepas kopyahnya ke atas meja dan menanggalkan kemeja biru tuanya sehingga menyisakan kaus oblong putih dan sarung cokelat bermotifnya. Melihat raut mukanya yang beda dari yang tadi membuatku penasaran apa yang habis dibicarakannya dengan Abah dan Umi. Aku tadinya mau bergabung tetapi dilarang Umi. Katanya urusan laki-laki, tetapi Umi? Ah, sudahlah.

“Buruan ke Umi. Sudah ditungguin tadi,” ucap Gus Fatih saat aku sedang memperhatikan rambutnya yang sudah mulai panjang.

“Ah. Nggeh, Mas,” kataku lalu tersenyum kemudian beralih ke pintu.

Sesaat sebelum pintu kututup, aku sempat melirik ke arahnya. Ia membaringkan tubuh di sofa samping tempat tidur dengan ponsel yang menyala di tangannya. Tidak biasanya Gusku itu tersenyum sampai terlihat giginya yang putih di depan ponsel.

Aku pun segera menutup pintu saat Gus Fatih melihat sekilas ke arahku dan segera beranjak mencari keberadaan Umi.

Beginilah aku. Pada lisanku memanggilnya dengan sebutan Mas, tetapi jika dalam hati masih menyebutnya Gus. Dia Masku tetapi belum benar-benar menjadi Masku. Hatiku belum mampu menerima itu. Kiranya jika Gus Fatih sudah benar-benar menerimakulah hatiku dengan sendirinya akan menyebutnya Mas.

Mas, Kang Mas.

***

Setelah bertanya dan diberitahu salah seorang mbak ndalem di mana keberadaan Umi, aku langsung mendatanginya yang ternyata ada di kamar.

Sebelum benar-benar masuk, aku sempat terkunci di depan pintu memandang Umi dengan sesuatu yang ada di tangannya. Pikiranku jadi melayang ke mana-mana.

“Masuklah, sini, Fa!”

Terdengar suara Umi yang menyadari keberadaanku.

“Tutup pintunya sekalian, ya!” imbuh Umi saat selangkah aku memasuki kamar bernuansa abu-abu tuanya.

Sedikit kikuk aku duduk di sampingnya. “Ini apa, Mi?” tanyaku sejenak setelah duduk dan melihat senyum Umi.

“He he.” Umi tertawa kecil. “Ya, apa lagi? Jelas-jelas lingerie begini.”

Aku kesulitan menelan ludahku melihat potongan-potongan kain itu.

Kuhitung-hitung semuanya ada empat atau lima. Eh! Tujuh tenyata. Semuanya berbeda warna dan model.

“Lalu ... Umi manggil Zulfa buat ngomong apa?” tanyaku berusaha mengenyahkan atmosfer tidak nyaman yang saat ini mengerubungiku.

Umi yang sibuk melihat-lihat dan melipat lingerie-lingerie itu berhenti kemudian menatapku. “Apa lagi? Ya, Umi mau kasih ini lah, Fa. Kamu ini bagaimana? Memangnya nggak kasihan sama suamimu tiap hari lihat lingerie-mu yang dulu, itu-itu mulu,” kata Umi lalu melanjutkan pekerjaannya.

Mataku langsung membola—melotot lebih tepatnya. Setengah tidak mempercayai kata-kata Umi. Lingerie sebanyak ini? Lingerie-ku yang sejak pengantin baru saja belum pernah aku memakainya. Sekarang mau ditambah lagi. Lengkap sudah selusin bakal memenuhi lemari.

Ndak usah lah, Mi.” Aku mencegah tangan Umi yang mengalihkan kain-kain itu ke pangkuanku. “Kan Zulfa sudah punya lima.” Senyumku di depannya. Dan belum Zulfa pakai semua, lanjutku dalam hati.

Ndak bisa!” Umi menatapku dengan jengkelnya. “Pokoknya kamu harus terima. Umi sendiri lho yang memilihkannya!” tukas Umi menekankan tumpukan kain itu di tanganku. Membuatku mau tidak mau harus menerimanya.

“Padahal kan ada istrinya Mas Alim juga!” gerutuku sengaja.

Umi hanya melirik sekilas dari posisinya sekarang yang beralih membuka laci nakas.

“Mereka bukan manten baru lagi. Anaknya sudah satu, Fa. Lagian Mbakmu sudah punya banyak,” kata Umi duduk lagi di sampingku.

Mas Alim adalah kakak pertamaku. Dua tahun yang lalu dia sudah menikah dengan wanita pilihan Umi, Mbak Ratna. Keluarganya pengasuh pesantren juga di Nganjuk. Dulunya Mbak Ratna nyantri di sini, jadi santri ndalem atas usulan orang tuanya. Sedari lama mereka berdua sudah dijodohkan.

“Ya, sudah. Buat istrinya Mas Adhim saja, Mi,” elakku tak mau kalah sembari sekuat tenaga menahan lengkungan senyuman di bibirku.

Umi langsung mendelik padaku. Aku menurunkan tatapan sehingga tahu kalau di tangannya Umi memegang sesuatu. Sebuah botol bening ukuran tanggung dengan cairan berwarna pekat di dalamnya. Umi pasti mengambil benda itu dari lacinya tadi.

“Seperti tidak tahu Masmu yang satu itu saja, Fa, Fa.” Umi menghela napasnya. “Umi jodohin seperti Masmu yang mbarep, ndak mau dia. Katanya mau cari sendiri, tapi lihat, sampai sekarang mana calonnya? Umi sudah sabar lho ini ngadepinnya.”

Aku kali ini benar-benar tertawa.

Mas Adhim, saudaraku yang tepat sebelumku lahir itu memang begitu. Dia suka aneh sekaligus nyeleneh. Sangarlah istilahnya. Dari tiga bersaudara hanya dia yang suka berbeda. Seperti saat lebaran semasa kami masih kecil dulu dan sama-sama belum ada yang dipondokkan, Masku yang satu itu sudah terlihat sangarnya.

Ketika aku dan Mas Alim sudah ribut pagi-pagi mau ikut salat Id di masjid, Mas Adhim malah santai-santai di depan televisi, padahal dia sudah rapi.

Saat ditanyai Umi, katanya dia tidak mau salat Id di masjid kami. Jemaahnya kurang banyak katanya. Dia maunya salat Id di Masjidil Haram Makkah sana atau setidaknya Masjid Istiqlal Jakarta. Umi langsung menjewer telinganya namun kemudian oleh Abah disuruh membiarkan. Berakhirlah Mas Adhim kecil ikut-ikutan salat Id di depan televisi yang menyiarkan siaran langsung salat Id dari Masjid Istiqlal.

Lihat selengkapnya