Neng Zulfa: Menikah dengan Gus Dingin

Puput Pelangi
Chapter #9

Bab 8 - Mutiara Mesir

Zulfa Zahra El-Faza

Sugeng dalu, Cah Ayu.”

Tepat setelah kata itu berbisik di telingaku, buyar sudah rasa kantukku.

Tenggorokanku rasanya tercekat dan hidungku kehilangan fungsinya menghirup udara. Aku sampai membuka mulutku menarik masuk udara cukup banyak, jantungku menggila dan aku ingin menenangkannya.

Ya Allah …. Ini pertama kalinya aku dan Gus Fatih dekat sedekat ini, tidak dalam mimpi.

Darahku rasanya berdesir hebat sekarang. Apalagi bulu romaku, pasti sudah berdiri semua. Udara AC yang tadi sudah kusetel sedemikian rupa tidak terasa, suhu jadi gerah.

Sungguh, saat ini aku ingin membalikkan badanku tapi tidak bisa.

Tubuhku benar-benar membeku.

“Mas?” Sangat lirih aku akhirnya berhasil bersuara. Entahlah, sudah berapa kali tadi aku menelan saliva.

Tidak ada sahutan. Hanya ada kebisuan.

Aku menghela napas. Mungkin Gus Fatih sudah tidur.

“Kenapa, Fa?”

Suara bass yang sedikit mulai serak itu berhasil membuat sekujur tubuhku menegang lagi. Susah payah aku menelan air ludahku sendiri yang kembali mengeras.

“Kenapa, hm?” Gus Fatih mempererat rangkulannya.

“Eh. En-ndak, ndak pa-pa.” Aku kesulitan bersuara.

Kedua tanganku yang memang ada di depan tubuhku sekarang saling meremas gelisah.

Kondisi macam apa ini? Ya Allah, apakah memang secepat ini?

“Ya sudah. Tidur, ya!” Gus Fatih menyusupkan kepalanya.

Tubuhku semakin menggeletar. Kepalaku jadi berpikir yang tidak-tidak saja jadinya.

“Maafin, Mas,” bisik laki-laki yang ada di belakangku semakin menyusupkan hidung dan mulutnya ke rambut dan telingaku.

Dengan geletar di tubuhku aku menyiapkan mentalku. Tubuh Gus Fatih semakin condong ke arahku. Merengkuh seolah tidak ingin kehilangan lalu mengecup kepalaku.

“Besok aku ingin mengatakan sesuatu, Fa. Sekarang kita tidur dulu,” katanya yang tidak bisa segera mendapat respons dariku.

Nggeh.” Akhirnya aku menyahutinya tanpa suara. Lidahku rasanya kelu tak mampu melafalkan kata. Hatiku ketar-ketir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Setelah lama berharap ternyata aku belum terlalu siap rupanya.

Berdekatan dengan Gus Fatih seperti ini benar-benar membawa atmosfer tersendiri yang ‘aneh’ dan di luar pemahaman—setidaknya untukku.

Semenit.

Dua menit.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Napasku mulai normal.

Di sisi lain, tubuhku masih beku dan Gus Fatih juga tidak bergerak sama sekali di belakangku.

Genap lima belas menit perhitunganku, napas teraturnya yang kemudian tertangkap indra pendengaranku.

Aku menghela napas saat deru napas Gus Fatih berubah menjadi sebuah dengkuran. Dengkuran yang sangat halus.

Baiklah. Dia tertidur pulas di belakang sana. Dan ini juga adalah pertama kalinya karena sebelumnya Gus Fatih tak pernah mendengkur begini saat tidur di sampingku.

Perlahan aku memejamkan mata. Dunia mimpi segera menyambut.

Gus Fatih dan aku. Kami harus banyak istirahat dulu. Aku tahu.

***

Pagi, bangun dengan kecanggungan. Bukan canggung sebenarnya. Hanya saja masih bingung dengan suasana.

Lihat selengkapnya