Zulfa Zahra El-Faza
Seharian aku terus menghindari Gus Fatih. Dia juga tampak baik-baik saja tanpaku—karena tentu saja, memangnya siapa aku? Dan sepanjang aku diam-diam memperhatikan, Gus Fatih tampak selalu sibuk dengan ponselnya saat tidak ada Umi, Abah, maupun Mas Alim yang mengajaknya bicara.
Bahkan tadi di meja makan, dia hanya bersikap pasif saat Umi membahas rencana perjodohan Mas Adhim dengan Dewi, sahabatku.
Siapa tahu Gus Fatih punya pendapat.
Dia baru bicara saat Abah yang menanyainya perihal santri ndalemnya.
Alasan Abah tidak bertanya padaku adalah karena Dewi sahabatku. Dia sudah seperti saudaraku sendiri. Jadi menurut Abah pasti hanya kebaikan Dewi yang akan aku katakan nanti. Lain lagi dengan Umi. Sejak Mas Adhim belum kuliah di Bandung, Umi sudah gencar menjodohkannya dengan sahabatku itu, tetapi Masku saja yang tidak mau. Padahal di mataku mereka cukup serasi.
Aku juga tidak terlalu mengerti kenapa Umi berpikir mau menjodohkan Mas Adhim lagi dengan Dewi. Apakah karena penolakan Mas Adhim selama ini kepada kandidat-kandidat calon istrinya yang lain, jadi Umi berpikir menjodohkan Mas Adhim lagi dengan Dewi?
Entahlah. Keputusan nantinya tetap ada di tangan Mas Adhim. Toh, siapa juga yang tahu isi hatinya? Dan Dewi, kepadaku dia selalu menyimpan sendiri masalahnya, termasuk urusan hatinya juga. Dan aku menghargainya.
“Ya sudahlah, Bah. Nanti Umi tanya Nyai Fatimah saja. Besan kita pasti lebih tahu bagaimana perangai santrinya.”
Umi yang akhirnya memutuskan pembicaraannya tadi.
Menghela napas, pandanganku masih tetap ke arah luar kaca jendela.
Menatap Gus Fatih yang ada di sana.
Dia sedang duduk di beranda sayap kiri rumah, tadinya ngobrol dengan Mas Alim, tetapi setelah Mas Alim pergi karena sebuah kepentingan mendadak, Gus Fatih disibukkan lagi dengan ponselnya.
Jadi, beginikah juga kegiatannya saat Gus Fatih di luar rumah saat di Jombang?
Jujur saja, aku tidak tahan jika terus memikirkan apa hubungan suamiku itu dengan perempuan yang disebutnya Mutiara Mesirnya itu.
"FA!" seru Mbak Ratna yang tiba-tiba ada di sampingku.
Aku terlonjak, hampir saja stoples yang baru kuambil dari bufet di tanganku jatuh.
“Lama banget ngambil toplesnya?” cecarnya.
Setelah memandangku sekilas, Mbak Ratna ikut melihat ke arah pandangku tadi. Mbak Ratna tersenyum lebar.