Neng Zulfa: Menikah dengan Gus Dingin

Puput Pelangi
Chapter #11

Bab 10 - Gus Adhim

Lelaki tinggi dengan rambut gondrong itu berdiri di depan pintu. Tubuhnya cukup atletis mengingat laki-laki itu suka nge-gym dan tidak jarang ikut hiking dan climbing dengan kelab pecinta alam kampusnya.

Laki-laki dengan senyum menawan itu melepas jaket kulitnya, menampilkan kaus putih oblong yang ia kenakan. Dan yang membuat semua orang ingin meliriknya selain wajahnya yang rupawan adalah celana levis sobek-sobeknya yang menjadi pemandangan kontras di antara pemuda lain yang notabenenya adalah santri di lingkungan ndalem Kiai Hisyam itu.

Sebab, bagaimana tidak? Semua laki-laki yang ada di sana tidak ada yang memakai celana seperti itu. Kebanyakan mereka memakai sarung. Kalau tidak, yang mereka kenakan adalah celana training atau celana kain.

“Baru sampek?”

Seorang lelaki yang tidak kalah tampan dengan setelan baju koko biru tua dan sarung senada menyambut laki-laki yang baru datang itu. Kopyah hitam bertengger sempurna di kepalanya. Ia mengambil alih tas punggung milik laki-laki berambut gondrong yang digeletakkan di lantai tadi setelah mengucap salam masuk dan memindahkannya ke atas sofa.

“Kirain molor sampai malam sampeknya,” ujar laki-laki berkopyah hitam setelah selesai memeluk si rambut gondrong sebentar kemudian melepaskannya.

“Iya, Mas.” Laki-laki yang baru dipeluk tadi itu mengangguk lantas menatap sekeliling. Mencari keberadaan seseorang yang begitu disayanginya dengan mengedarkan mata elangnya.

“Cari siapa, Dhim?” Laki-laki yang mengenakan setelan baju koko dan sarung menepuk lengan laki-laki yang ada di depannya. Orang itu adalah Alim, kakak Zulfa. Sedangkan yang baru saja datag adalah adik pertamanya, Adhim.

“Zulfa, Mas. Mana tikus jelek itu? Masnya pulang kok nggak ikutan nyambut? Udah jauh-jauh ini.” Laki-laki bernama Adhim itu mendumal, menatap sekilas pada kakaknya lantas kembali mengedarkan kepala.

Alim tersenyum kecil karenanya.

“Oh …. Jadi kalau di rumah ndak ada Zulfa kamu ndak pulang, Le?” Nyai Azizah yang tadinya berada di pondok putri datang setelah mendengar putra keduanya sudah tiba. Beliau muncul secara tiba-tiba dari dalam.

Adhim hanya meringis kemudian meraih tangan uminya dan menciumnya.

“Le …. Adek kesayanganmu itu ada di kamarnya. Istirahat. Jangan diganggu!” Nyai Azizah menatap tajam pada putranya.

Adhim mendesis lirih mendengarnya. “Dasar tikus jelek itu .... Mentang-mentang sudah punya suami jadi lupa sama aku.”

“Heh!” Nyai Azizah langsung memukul lengan sang putra. “Tikus jelek-tikus jelek. Enak saja! Memangnya kapan Umi punya anak tikus? Orang cantik begitu!” sungutnya sembari membulatkan mata.

Alim yang menyaksikan kelakuan adik pertama dan uminya renyah tertawa.

Nggeh, Mi. Enggeh,” kata Adhim kemudian merangkul Nyai Azizah.

“Heh .... Culno, culno! Apa-apaan ini?! Bau ndak enak begini kok peluk-peluk Umi. Jangan bilang dua malam kamu perjalanan ke sini nggak mandi?” Nyai Azizah berusaha melepaskan dekapan putranya.

Wes, mandi dulu sana! Setelah itu segeralah menghadap abahmu, tapi ingat jangan pakek baju kayak gitu,” tukas Nyai Azizah.

Adhim yang baru mau melepaskan pelukannya mendengkus sembari mengangguk malas. “Nggeh,” lirihnya kemudian menenteng tas miliknya masuk menuju kamar.

Nyai Azizah dan putra pertamanya hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Senyum yang sama mekar di wajah keduanya.

“Anak satu itu! Masih sama saja kelakuannya!”

Alim hanya mengangguk membenarkan ucapan uminya.

***

Samar-samar di luar terdengar keributan. Pasti Mas Adhim sudah pulang. Zulfa membatin.

Bagaimana kabar kakaknya itu? Zulfa sudah sangat merindukannya. Ia sangat ingin menemui Adhim, tetapi mengingat kondisinya yang sekarang, lelaki itu pasti akan khawatir dan banyak bertanya padanya.

Wajah Zulfa sembap dan matanya luar biasa bengkak. Dan yang paling Zulfa takutkan, kakaknya itu akan tahu segalanya begitu melihatnya. Hanya di depan masnya yang satu itu Zulfa tidak bisa menyimpan rahasia.

Zulfa kembali menarik selimut hingga kepala saat Nyai Azizah sang umi mendatanginya di kamar. Nyai Azizah mengatakan perihal kedatangan Adhim yang sesuai seperti dugaan Zulfa. Namun ia memilih tetap diam. Bukannya Zulfa berniat tidak sopan, tetapi ia tidak mau uminya sampai tahu ia tengah menangis. Biarlah uminya mengira ia sudah terlelap dalam tidur.

Menghela napas, Zulfa langsung bangkit dari ranjang sepeninggal sang umi. Berjalan ke pinggir ruangan untuk menutup jendela kamar beserta tirai-tirainya yang membuat ruang kamarnya menjadi lebih temaram.

Setelah itu, diraihnya remot AC dari nakas lalu diaturnya suhu ruangan. Selepasnya Zulfa ke kamar mandi sejenak, mencuci muka sekaligus wudu lalu kembali meringkuk di balik selimut.

Zulfa tidak ingin menangis lagi, tetapi mengingat semua sikap Fatih padanya, rasanya dada Zulfa sangat sesak. Dengan mudah Fatih membuatnya merasa terbang ke angkasa, tetapi dengan satu hentakan dia menjatuhkannya begitu saja.

***

Setelah menerima wejangan dari abahnya sekitar satu jaman, Adhim akhirnya bisa keluar dari kamar abah dan uminya itu. Apalagi yang mau dikatakan abahnya kalau tidak menyuruh Adhim untuk segera menikah? Alasannya dari kedua saudaranya, tinggal ia saja yang masih melajang.

Semuanya gara-gara Zulfa, desis lelaki itu dalam hati. Zulfa sudah menikah lebih dulu darinya, membuat kedua orang tuanya semakin gencar memaksa Adhim untuk segera menikah juga.

Omong-omong soal Zulfa, Adhim jadi ingin menjailinya. Sudah lama lelaki itu tidak melihat adik tersayangnya itu.

Lihat selengkapnya