Zulfa Zahra El-Faza
Seorang perempuan sebelum menikah adalah tanggung jawab ayahnya, orang tuanya. Kewajibannya pun berbakti kepada mereka tepat setelah urutan berbakti kepada Allah. Namun setelah menikah, seorang perempuan adalah tanggung jawab laki-laki yang menikahinya—suaminya. Kewajiban berbakti kepada orang tua pun digantikan kewajibannya untuk berbakti kepada suami. Berbakti kepada orang tua menjadi urutan kedua setelah berbakti kepada suaminya itu.
“Salat di kamar saja, nanti kubilang ke Umi kalau kamu sedang enggak enak badan.”
Gus Fatih sempat berbisik padaku tadi sebelum pergi mandi dan bersiap ke masjid pondok. Sebentar lagi salat Asar, tadi pun Umi sudah memanggil kami untuk segera bersiap-siap.
Aku menghela napas. Baru saja Gus Fatih meninggalkan kamar terang ini setelah mengenakan kopyahnya yang sebelumnya ada di atas nakas.
Ya, kamar terang. Setelah berbisik padaku ia menyalakan lampu utama kamar ini lalu pergi mandi. Di sisi lain tirai di jendela dibiarkannya tetap dalam keadaan tertutup seperti semula karena sekarang sudah sore.
Duduk bersandar di punggung ranjang, setelah kepergian Gus Fatih aku meraih segelas air putih yang ada di nakas sisiku dan langsung menandaskannya sekali minum.
Aku ingat jika punya kaca kecil di laci nakas. Malas berdiri dan bercermin di depan meja rias, aku membuka nakas sisiku dan mengeluarkan kaca berbingkai kayu cokelat itu. Wajahku tidak keruan. Jilbab hitam yang kukenakan pun berantakan seperti celak mataku yang sudah mbleber ke mana-mana oleh lelehan air mata. Aku meringis melihat wajahku sendiri yang sudah seperti hantu di televisi-televisi itu.
Benar kata Gus Fatih—yang secara tidak langsung termasuk perintahnya itu. Lebih baik aku salat di kamar dan tidak keluar untuk beberapa lama. Umi pasti akan bertanya-tanya jika melihatku dengan wajah seperti ini. Yang lain juga. Aku tidak mau membuat mereka cemas, meski di sisi lain, aku berpikir ini kesempatan yang bagus juga untuk memberi pelajaran pada Gus Fatih.
Mana ada di dunia ini orang tua yang diam saja saat anak perempuannya disia-siakan oleh suaminya sendiri seperti aku? Orang tuaku pasti tidak terima. Kemungkinan besarnya Gus Fatih pasti akan habis menerima kemarahan Abah dan Umi.
Abah memang sangat jarang marah ketimbang Umi, hampir tidak pernah malahan. Namun, jika Abah tahu bagaimana Gus Fatih memperlakukanku, Abah tidak mungkin mentolelir itu.
Hubungan pesantren asuhan Abah dan Abah Kiai pasti akan terganggu juga jika mereka sampai tahu semua perilaku Gus Fatih. Belum lagi kedua kakakku, Mas Alim dan Mas Adhim. Entah apa yang akan mereka lakukan padanya.
Namun tentu saja, aku tidak ingin semua itu terjadi. Aku harus bisa berpikir lebih dewasa. Gus Fatih suamiku. Aku harus menjaga kehormatannya sebagai imamku. Bagaimanapun kehormatan suamiku adalah kehormatanku juga. Sebagai istri, sudah jadi kewajibanku menjaga wibawa dan harga dirinya.
Aku melihat ke kasurku, seprai, sarung bantal dan selimut sudah basah oleh air mata. Dan berantakan juga. Kupikir lebih baik aku menggantinya.
Drtt .... Drtt ....
Suara getaran yang disusul ringtone menarik atensiku yang baru berdiri dari ranjang. Kulihat di atas nakas sisi Gus Fatih, ponselnya menyala. Ada panggilan masuk saat aku menghampirinya.
Demi apa pun, hatiku sangat sakit melihat nama Lu'lu'il Misri menari-nari di atas layar itu dengan profil wanita cantik yang sama dengan tadi siang. Aku mengerjapkan mata sekali berharap yang kulihat salah tetapi tentu saja, semua ini bukan mimpi.
Haruskah kuangkat?
Kesempatan kan aku bisa mencari tahu siapa wanita itu? Punya hubungan apa dia dengan suamiku?
Setelah bergolak dengan hati dan pikiranku, kuputuskan untuk tidak mengangkatnya.
Kubiarkan layar yang masih menampilkan foto wanita cantik itu memanggil-manggil dalam getarnya. Aku terus menatap bingkai ponsel itu sampai akhirnya beberapa menit kemudian layar itu padam dengan sendirinya.
Mungkin aku belum siap menerima kenyataan. Kalau wanita itu adalah seseorang yang penting dalam hidup Gus Fatih.
Aku menghela napas. Mencoba tidak peduli atau memikirkan siapa Lu'lu'il Misri itu. Tidak ada untungnya buatku. Hanya sakit hati dan kecemburuan yang kudapat semakin menyiksa. Dan kalau dipikir-pikir, sikapku tadi sungguh sangat memalukan. Gus Fatih pasti hanya akan semakin menertawakanku, menertawai kecengenganku.
Setelah mengganti seprai dan sarung bantal, menyiapkan baju ganti dan handuk, aku segera masuk ke kamar mandi. Bathtub kupenuhi dengan air hangat dan busa sabun. Kupikir baik jika aku berendam sebentar. Sekadar relaksasi badan. Pikiranku benar-benar penat dengan semua ini.
Aku keluar dari kamar mandi. Seketika aku dikejutkan dengan keberadaan Gus Fatih. Ia duduk di sofa dengan salah satu novelku di tangannya. Ponsel silvernya tergeletak tidak jauh dari sisinya. Dahinya tampak berkerut-kerut seperti seseorang yang tengah membaca bacaan yang serius.
Seharusnya tampak lucu melihat laki-laki seperti Gus Fatih berekspresi seperti itu di depan novel Hujan bersampul biru karya Tere Liye, salah satu penulis kesukaanku itu. Namun sebaliknya, aku malah kesal melihat ekspresi wajah itu. Spesifiknya ... aku kesal melihat wajahnya.
Aku melirik jam dinding yang ternyata sudah setengah lima sore.
Pantas saja, salat jemaah di masjid pondok sudah selesai. Aku jadi sadar sesuatu, berapa lama tadi aku berdiam diri di bathtub kamar mandi? Aku lupa waktu. Padahal niatnya hanya berendam sebentar cari suasana tenang.
Tanpa memedulikan keberadaan Gus Fatih yang telah membuatku menangis sepanjang siang, aku melangkah cepat ke lemari baju, mengambil mukenaku dan sajadah untuk salat.
Aku sudah ganti baju di kamar mandi tadi. Lupakan soal menyisir rambut yang masih sedikit basah, aku bisa melakukannya nanti jika Gus Fatih sudah pergi. Meja riasku ada di dekat sofa tempatnya duduk, aku tidak mau menghampirinya.
Setelah mengenakan mukena terusan aku segera menggelar sajadah merahku di atas karpet lantai menghadap kiblat.
Gus Fatih tampak menatapku tadi saat aku berbalik dari lemari dan tidak sengaja melihatnya dari sudut mata. Dia masih di posisinya yang semula. Semoga saja selesai aku salat nanti dia sudah tidak ada.
Namun rupanya dugaanku salah. Sampai rakaat terakhir salat Asar, telingaku sama sekali tidak menangkap suara pintu kamar yang terbuka dan tertutup. Itu berarti satu, suamiku itu masih ada di sofa samping kiri jauh beberapa meter di belakangku.