Neng Zulfa: Menikah dengan Gus Dingin

Puput Pelangi
Chapter #13

Bab 12 - Menebas Jarak

Zulfa Zahra El-Faza

Aku tidak tahu berapa lama Gus Fatih menciumku. Dia terus memegangi kepalaku dengan kedua tangannya yang sesekali mengusap wajahku. Pagutan itu hanya ia lepaskan beberapa kali saat mengambil napas yang terasa sudah mau habis.

Tok! Tok! Tok!

“Dek, Adek!”

Suara di luar kamar menghentikan perbuatan Gus Fatih. Dia menjauhkan wajahnya dariku dengan tatapan laparnya yang menikam kedua manikku. Bersamaan menelan ludah, aku mengerjapkan mataku. Wajah Gus Fatih masih begitu dekat denganku. Napasnya bersahutan dengan milikku.

“Siapa?” lirihnya padaku sembari mengusapkan jari jempolnya ke bibirku yang basah—apalagi kalau bukan ulahnya. Sebentar kemudian Gus Fatih menopang tubuhnya dengan sebelah tangan. Sebelahnya lagi merapikan rambutku yang sedikit berserak ke wajah.

“M-Mas … Mas Adhim, Mas,” jawabku sedikit terbata.

Jujur saja, jantungku saat ini masih menggila. Aku yakin wajahku saat ini pasti merah luar biasa.

“Oh ….” Gus Fatih ber-oh ria. Seperti sebelumnya, Gus Fatih belum menjauhkan wajahnya sepenuhnya dariku. Sekarang ia malah tersenyum lembut dan menatapku penuh arti.

Aku dibuatnya malu sendiri.

“Dek, kamu di dalam?” Masih suara Mas Adhim dari luar.

Aku melirik pintu. Memutus mata rantai netra Gus Fatih yang belum puas melihatku agar melihat ke sana juga. Mas Adhim berdiri di luar sana. Tepat di balik pintu bercat putih itu.

“Ada Masku, Mas,” kataku masih merasa tatapan Gus Fatih yang terus menghujamiku, bukannya ikut menoleh ke arah pintu sepertiku.

“Iya,” sahutnya setelah beberapa lama membuatku kembali menegakkan kepala.

Kupikir Gus Fatih sudah mau meninggalkanku saat itu, tetapi nyatanya ia masih menatapku. Aku terkesiap untuk ke sekian kalinya saat tiba-tiba bibir ranumnya mencium kelopak mataku secara bergantian.

“Kita lanjut nanti malam, ya?” bisik Gus Fatih tepat di telingaku. Darahku langsung berdesir mendengar itu.

Bagus. Setidaknya Gus Fatih tidak melihatku saat mengatakannya. Pipiku panas. Wajahku pasti sudah merah matang sekarang karena apa yang dibisikkannya.

Aku segera memalingkan muka saat Gus Fatih mengangkat kepalanya. Jangan sampai dia melihat wajahku yang lebih merah dari yang sebelumnya. Karena jika iya, aku pasti akan lebih luar biasa malu.

Setelah Gus Fatih beranjak dari posisinya yang—ekhem—ada di atasku, aku langsung bangun dari ranjang dan menghilang di balik pintu kamar mandi.

Di dalam aku meraup oksigen sebanyak-banyaknya melalui mulut dan hidung. Jantungku benar-benar berdetak gila, jadi aku berusaha menetralkannya. Saat merasa lebih baik aku langsung membasuh wajah berantakanku dengan air dingin wastafel. Berkali-kali. Tanganku berhenti saat apa yang aku dan Gus Fatih lakukan tadi di kamar membayang. Wajahku yang terpantul di kaca tampak memerah lagi mengingatnya.

Allah ….

Mulanya Gus Fatih hanya menciumi wajahku. Ia juga mengecup sekilas bibirku. Lama-kelamaan setelah saling pandang, Gus Fatih menciumku. Dan aku sendiri ... kami berciuman.

Ingat jika ada Mas Adhim di luar, aku segera mengenyahkan pikiran itu dan menyelesaikan basuhanku. Nanti saja memikirkan bagaimana perasaan suamiku padaku. Dia menciumku, jadi anggap saja kalau dia mencintaiku.

Aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Mas Adhim dan Gus Fatih yang sedang bercakap-cakap di depan pintu. Gus Fatih di dalam kamar sedangkan Mas Adhim berdiri di luar. Mereka berhenti sebentar saat melihatku, jadi aku menyunggingakan senyum.

Setelah interaksi wajah yang sebentar itu aku langsung melangkahkan kaki cepat ke lemari pakaian, mencari jilbab sekenanya untuk kukenakan. Begitu lemari terbuka dan mataku menangkap sebuah jilbab warna hijau tua ada di tumpukan paling atas, aku langsung mencomotnya dan memakainya. Masa bodoh jika jilbab itu serasi atau tidak dengan gamisku yang berpadu dua warna muda, merah jambu dan biru.

Selepas menengok sebentar keakuratan pemakaian jilbab di kepala pada cermin meja rias dan menguncinya dengan sebutir jarum pentul, aku langsung menghampiri dua laki-laki tampan itu.

Mas Adhim tersenyum menyambutku sedangkan Gus Fatih hanya diam menatapku. Tatapan datar dengan sorot dalam yang tadi melumerkan hatiku. Tidak sampai gelagapan kualihkan fokusku pada Mas Adhim.

“Mas Adhim kapan sampainya?” ujarku seraya meraih tangan Mas Adhim untuk kucium. Hanya pertanyaan basa-basi sebenarnya karena aku tadi juga tahu kapan kakak berambut gondrongku ini sampai. Aku hanya mengalihkan atensiku dari Gus Fatih.

“Siang tadi.” Mas Adhim menjawab singkat. Beberapa saat ia melihat bergantian padaku dan Gus Fatih.

Dari tatapannya, Mas Adhim jelas ingin bicara banyak denganku tetapi merasa tidak enak karena ada Gus Fatih. Terlihat jelas Mas Adhim sedang serba salah saat ini. Dia ingin masuk ke dalam tetapi ragu.

“Ya sudah, Gus. Monggo mlebet. Aku masih ada perlu sebentar sama Gus Alim.”

Seperti mengerti keadaan, Gus Fatih bicara santai pada Mas Adhim yang sebenarnya seumuran dengannya kalau ia mau menemui Mas Alim.

Alasan yang bagus, Gus! seruku dalam hati.

Dia pasti sengaja memberi kesempatan untukku dan Mas Adhim bicara berdua.

Aku tersenyum.

Percayalah! Mengenai suami dan kakak keduaku ini, di mataku mereka adalah dua buah kutub magnet yang saling bertolak belakang dan sama-sama kuat. Mereka punya aura yang sama tetapi penampilan dan rasa yang berbeda. Setidaknya itu adalah perumpamaan yang kusimpulkan seandainya mereka adalah makanan. Kepribadian mereka sama, tetapi berbeda. Entahlah, aku tidak bisa mendeskripsikannya. Kesulitan tepatnya.

Lihat selengkapnya