Neng Zulfa: Menikah dengan Gus Dingin

Puput Pelangi
Chapter #14

Bab 13 - Kasih Sayang Adhim

Unknown diary

Dia dan aku selamanya hanya akan menjadi orang asing. Aku yang kesulitan bersikap di sekitarnya hingga seperti jadi asing dan dia yang begitu dingin.

Bukan! Bukan dingin.

Dia adalah orang termenyenangkan yang mungkin kau kenal, yang sayangnya, tak tersentuh karena kehangatannya itulah yang membuatmu ragu mendekat. Padahal dia begitu unik dan menarik untuk didekati. Dan kau sudah cukup terpaku hanya karena pesonanya, melihatnya, sehingga kau memilih berhenti di tempat untuk sekadar mengaguminya.

Titik.

Hanya untuk pekerjaan yang tak ‘melelahkan’ dan tidak menghasilkan itu, yang sayangnya cukup ‘membahagiakan’ buatmu.

Lalu ketika makhluk yang menjadi objek kekagumanmu—yang mungkin hanya kau temui di dunia mimpi—itu mendekat dan nyata memintamu. Kau malah menjauh. Merasa kurang dan jauh dari sekedar pantas untuk memimpikannya, bersanding bersama. Berpikir untuk melupakan segala sihirnya. Sebab menurutmu kau padanya hanya puas mengagumi. Bukan memiliki.

Maka cukuplah ini menjadi rahasiaku di antara kata-kata yang berbelit ini. Sebenarnya … kau yang kumaksud di sini adalah diriku sendiri. Jadi untuk ‘aku’, jangan lagi mengingkari hatimu!

Paragraf pertama hanya akan menjadi tapi jika dia bukan milikku.

Iya. Itu hanya berlaku kalau dia bukanlah seseorang yang menjadi hakmu.

Semuanya berhenti di titik itu. Dan aku tidak mau.

Fatih Thoriqul Firdaus. Aku yakin belum terlambat untukku mengatakan aku mencintaimu. Jadi kumohon, jangan lagi mengabaikanku.

Maafkan kebodohanku yang dulu memilih untuk cukup mengagumimu. Karena nyatanya lebih dari kamu, akulah yang sangat ingin dan membutuhkanmu.

Tertanda, kekasihmu ....

***

Zulfa. Gadis muda dengan pashmina peach itu mengerucutkan bibirnya. Sudah lima belas menit lebih kakaknya meninggalkannya duduk sendiri di mobil. Laki-laki berambut panjang dengan pahatan wajah nyaris sempurna yang tak lain bernama Adhim itu mengaku mau buang air sebentar tadinya sebelum meninggalkannya di pelataran SPBU.

Menghela napas, Zulfa meraih ponsel yang dibawanya dalam tas pinggang karena bosan.

Matanya membola seketika saat mendapati ada notifikasi WA dari Fatih. Cepat-cepat pesan itu dibukanya dengan lengkungan sempurna di bibir. Dalam hati ia berjanji, setelah itu tidak akan pernah men-silent ponselnya lagi agar segera tahu kalau ada pesan masuk dari sang suami.

Gus Fatih:

Fa. Nanti kalau kamu sampek rumah sama Gus Adhim terus tidak ada aku langsung tidur saja, ya! Mas ada acara.

Seketika Zulfa menjatuhkan senyumnya. Ada acara. Kenapa malah dia yang harus kecewa? Fatih bahkan tidak repot-repot menyuruhnya menunggu. Itu berarti satu, laki-laki berdarah biru itu pasti bepergian yang berkemungkinan sampai larut malam yang tidak tahu kapan pulangnya.

Tiba-tiba sia-sia rasanya Zulfa menurut pergi bersama kakaknya yang menculiknya agar membuat Fatih jengkel menunggu. Rencananya gagal dan sekarang dirinya sendiri yang merasa kesal.

Soal Adhim yang menculiknya. Ya, apa lagi namanya kalau tidak menculik?

Setelah tersadar dari ketidurannya di sofa kamar Zulfa, laki-laki berambut gondrong itu menyuruh Zulfa untuk bersiap pergi, dan entah bagaimana dituruti pula. Gadis itu mengganti pakaian kemudian sama-sama menghadap uminya dengan Adhim, meminta izin untuk pergi jalan-jalan dengan alasan ingin melepas rindu bersama sang kakak.

Izin dari Fatih pun didapatnya bukan secara mandiri, melainkan berkat bantuan sang umi dan musuh bebuyutan dalam wujud kakak keduanya itu yang baru menelepon Fatih saat mereka sudah dalam perjalanan, beberapa meter keluar dari gerbang pesantren.

Zulfa kira sejauh ini Fatih yang akan menunggunya, tetapi ternyata tidak. Hatinya merasa kecewa.

“Lho, kenapa, Fa?”

Itu suara Adhim yang sudah kembali dari membuang hajatnya sembari mendudukkan diri di kursi kemudi samping Zulfa. Tangannya bukannya meraih dan memasang seatbelt di tubuh malah memegang bahu sang adik penuh hati-hati. Seolah bahu itu begitu rapuh dan akan hancur jika salah memegangnya.

Lihat selengkapnya