Neng Zulfa: Menikah dengan Gus Dingin

Puput Pelangi
Chapter #15

Bab 14 - Jalan-jalan

Azan Isya telah berkumandang. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam belanja di Matahari dan memboyong beberapa setel baju, gamis, dan beberapa sandangan lainnya milik Zulfa dalam paper bag yang kini menyesaki jok belakang mobil, Adhim membelokkan Jip putih berjenis Wranglernya ke halaman luas sebuah masjid.

Laki-laki itu sudah sangat lelah sebenarnya, tetapi demi menyenangkan adiknya ia akan bertahan lebih lama.

Tadi di Matahari, adiknya yang sudah bersuami itu membuatnya harus jalan ke sana dan kemari berkeliling mal guna menemani gadis itu memilih pakaian, menjadi bodyguard dari orang-orang yang berniat jahat pada sang adik sekaligus merangkap jadi pelayan yang bertugas membawakan belanjaannya.

Adhim juga harus rela kehilangan banyak saldo dari rekeningnya untuk membayar setelan-setelan manis yang dibeli Zulfa—yang tentu saja, seluruhnya berharga mahal.

Di sana, kakak-beradik itu hampir menghabiskan waktu tiga jam untuk gentayangan mencari baju dan hanya berhenti sejenak saat waktu Magrib tiba untuk beribadah salat. Setelah itu mereka melanjutkan lagi kegiatan belanjanya yang terjeda kewajiban mereka.

“Bawa mukena nggak kamu?” tanya Adhim begitu mesin Jipnya mati setelah terparkir sempurna di pelataran luas masjid.

“Hah?” Zulfa mengerutkan dahi. Menurutnya pertanyaan Masnya itu kelewat tidak bermutu untuk ditanyakan. “Serius, Mas, tanya itu? Ndak, Mas,” jawabnya setelah melihat sejenak wajah sang kakak kemudian melepas seatbelt.

“Terus, kenapa tadi nggak beli waktu di Matahari?”

Mendengar kalimat ajaib dari mulut Adhim Zulfa terkekeh. “Ya Allah ... Mas, Mas. Ngapain beli? Aku kan sudah punya banyak mukena di rumah,” gadis itu menatap tidak percaya kakaknya.

“Lah, terus nanti kamu salatnya pakai apa?”

Zulfa menggelengkan kepala. Tidak menyangka kakaknya yang tampak urakan ini tidak memahami hal sesederhana ini. “Di masjid nanti kan menyediakan mukena, Mas,” ujar Zulfa santai. “Memangnya Mas kira, tadi waktu aku salat di tempat yang disediakan mal pakai apa? Di sana aja ada mukenanya, di masjid pasti juga ada lah, Mas,” lanjut Zulfa dengan nada gemas.

“Ooo,” sahut Adhim dengan bibirnya yang sempurna membentuk lingkaran.

Jujur, ia tidak pernah tahu jika di masjid menyediakan mukena untuk jemaah perempuannya. Toh, selama ini dia tidak pernah memeriksanya. Untuk apa? Namun, dari kelakuan kakaknya itu Zulfa jadi paham, kakaknya ini pasti tidak pernah bepergian dengan wanita lain selain Umi dan dirinya. Penampilan luar Adhim yang sangar tidak membuat laki-laki itu berani ‘bermain-main’ seperti itu, dengan perempuan maksudnya. Baru kali ini juga Zulfa tidak membawa mukena dalam perjalanannya.

Zulfa jadi berpikir, kakaknya ini pasti selalu menjaga jarak dari perempuan. Sulit dipercaya sebenarnya jika Adhim bisa melakukannya. Toh, dia kuliah jauh dari rumah jika suuzan. Apalagi dengan wajah yang tidak bisa dibilang biasa itu. Pasti banyak perempuan yang menggilainya. Namun, ternyata Adhim tetap bisa menjaga sikap dan wibawa gusnya. Benar, kita memang tidak bisa menilai orang lain hanya dengan melihat penampilannya saja. Adhimlah bukti konkretnya.

Setelah sama-sama melepas seatbelt dari tubuh masing-masing, Zulfa dan Adhim segera keluar dari kendaraan yang mereka tunggangi. Keduanya berjalan beriringan menuju masjid yang mulai ramai didatangi orang-orang yang hendak berjemaah salat Isya.

Jangan heran jika banyak orang yang memandang ‘aneh’ ke mereka berdua. Dengan pandangan takjub lebih tepatnya karena kedua insan itu memiliki rupa yang benar-benar menunjukkan betapa indah ciptaan-Nya. Cantik dan tampan. Cukup itu. Tidak perlu dideskripsikan begitu panjang karena ada ‘keanehan’ yang mesti dibahas.

Ya, orang-orang itu juga tampak melihat dengan tatapan aneh. Menurut mereka pasti kakak-beradik itu adalah pasangan yang aneh—atau bisa dibilang unik—karena sang adik memakai setelan tunik dan pashmina yang terkesan anggun sedangkan sang kakak malah mengenakan kaus hitam lengan pendek dengan celana jins yang sobek-sobek di beberapa bagian, belum lagi rambut gondrong tergerainya yang semakin mendukung kesan urakan dari laki-laki itu.

Mereka belum tahu saja kalau sosok yang tampak urakan di mata mereka itu adalah seorang gus. Putra kiai besar yang sering mereka ikuti nasihat-nasihatnya pun juga jadi pemilik tempat dari kebanyakan anak-anak mereka menimba dan mendapatkan ilmu.

“Mas Adhim nggak bawa jaket?” tanya Zulfa ketika ia mendudukkan diri di undakan masjid samping Adhim yang tengah memakai sepatu Pumanya selesai salat berjemaah. Cukup luar biasa sepatu dengan harga mahal itu tidak hilang saat ditinggal.

Dan seperti kakaknya, Zulfa juga kembali memakai pantofel cream-nya. Sepatu yang baru dibelikan Adhim karena sebelumnya gadis itu pergi hanya memakai sandal karet. Ia lupa mengganti alas kakinya sebelum berangkat tadi.

“Ada di mobil,” balas Adhim enteng.

Zulfa hanya manggut. Bukan apa-apa, ia hanya mencoba mengalihkan pikirannya dari pandangan orang-orang yang melihat ke arah mereka. Sekali saja gadis itu tidak pernah merasa terganggu dengan penampilan nyeleneh Adhim karena bagaimanapun, laki-laki itu adalah salah seorang yang ia sayangi meski tidak jarang pula mengajaknya bertengkar. Hanya saja cara orang-orang itu melihat kakaknyalah yang cukup mengganggu. Selain itu Zulfa juga tidak mau kakaknya menggigil terkena udara malam.

“Makan malam di mana, nih?” Adhim menolehkan kepala pada Zulfa yang duduk di samping kanannya.

Zulfa mengedikkan bahunya. “Terserah Mas, deh! Tapi kan katanya Mas mau ngajakin aku pergi ke kafe baru?” Zulfa balas bertanya, menagih janji kakaknya. Ia ingat percakapan mereka tadi sore, selain mengajak berbelanja, Adhim juga mengajaknya mengunjungi kafe baru yang ada di kota mereka.

“Oh, oke.” Adhim mengacungkan jempol.

Sama-sama selesai mengenakan sepatu, keduanya berdiri dan berjalan bersama ke arah Jip putih Adhim.

“Masih mau makan es krim nggak?” tanya Adhim membukakan pintu untuk adiknya.

Zulfa menggelengkan kepala. “Ndak jadi, deh, Mas,” balasnya sembari duduk di kursi penumpang sebelah kiri jok depan mobil, “lagian sudah malam,” tambah gadis itu menunjukkan seringaian.

“Halah …. Bisa-bisa saja kamu ini.” Adhim mencebikkan mulutnya jenaka sembari menutup pintu kemudian jalan memutari mobil dan masuk lewat pintu sebelah kanan. “Biasanya juga nggak pernah peduli mau malam atau hujan,” cibir Adhim begitu sudah duduk di kursinya setelah menutup pintu.

“Lagi nggak mood makan,” balas Zulfa sekenanya. Jemari lentiknya sibuk memasang seatbelt ke tubuh rampingnya. Begitu selesai dan mendapati tatapan aneh Adhim ketika gadis itu menoleh ke arahnya, Zulfa menjelaskan kalimatnya. “Nggak mood makan es krim, Mas, maksudnya.”

Lihat selengkapnya