Zulfa Zahra El-Faza
Aku tidak yakin ada yang lebih sakit lagi dari ini. Jantung serasa dihantam batu dengan kedua paru-paru dan seluruh organ pernapasan yang dibakar. Dalam sedetik terjadi berkali-kali, dan aku tidak mati.
Sakit, sakit sekali.
Apakah seperti ini rasanya dicurangi oleh orang yang kita cintai? Di menit ini, rasanya aku sudah dibunuh berkali-kali dengan belati.
Gus Fatih. Robek sudah, Gus, selendang harapku padamu yang sebelumnya sudah setipis kulit ari. Apakah belum cukup sakitku selama ini? Sampai kau tiada henti melukai perempuanmu yang lemah ini? Jika hanya satu tanyaku yang boleh kuajukan padamu, maka katakan! Apa sebenarnya diriku ini dalam hidupmu?
Lainnya, apakah aku memang hanya pajangan hidup di rumahmu? Piaraanmu? Mainanmu? Atau, seseorang yang memang sengaja kau jadikan budak cintamu? Jika iya, kumohon, bunuh saja aku!
Kamu tidak tahu sudah sebesar apa rindu dan cintaku padamu. Kamu adalah arah hidupku, Gus. Prioritas dan tujuanku. Sungguh, aku lelah mengharapkanmu! Mengharap dan mendambamu.
Haruskah aku yang istrimu ini menjadi pengemis dulu untuk mendapat cintamu? Kamu tidak tahu betapa rapuhnya aku.
Jika aku segelas air seperti fruity lemon squash yang ada di meja ini. Maka aku pasti akan memilih menguap dan lenyap. Itu akan terasa lebih baik daripada melihatmu detik ini. Jauh lebih baik malahan.
Mataku tidak mungkin salah mengenalimu. Yang ada di meja sudut ruangan itu adalah kamu. Laki-laki dengan kemeja biru kotak-kotak dan jins belel. Aku akan selalu bisa mengenalimu meski hanya mencium bau keringatmu, apalagi melihat siluet atau bayangmu.
Iya, aku tahu aku bodoh. Dari awal seharusnya aku tidak berada di kafe ini. Saat melihat BMW hitam Gus Fatih di luar seharusnya aku sudah bisa menduga kalau luka ini akan lebih lebar lagi. Pasalnya, memang sudah terjadi kejanggalan, kan? Gus Fatih yang mengirimiku pesan kalau dia ada acara malah kutemui mobilnya di halaman kafe. Jika tidak mau begini seharusnya aku langsung meminta Mas Adhim membawaku pergi. Makan es krim, nonton di bioskop, pulang atau apa pun yang bisa menghindarkanku dari tempat ini, peristiwa ini. Atau ... sedari awal pernikahan ini memang seharusnya tak terjadi? Terlebih lagi rasa cinta ini.
Jadi hari ini, Gus, hatiku pasti akan baik-baik saja melihatmu bersama perempuan cantik itu. Lu'lu'il Misri-mu. Tentu. Kalian adalah dua bintang yang pantas bersanding beriringan. Sama-sama rupawan dan menawan. Dan, lihat! Betapa kalian tadi tampak bersinar di sudut ruangan itu. Melebihi yang lain, kalian yang tampak paling bahagia di sini. Seolah kalian hidup di dunia kalian sendiri dan membuat siapa pun yang melihat iri. Termasuk aku, wanita yang sudah menjadi istrimu. Sangat pantas kan kalau aku cemburu? Kamu tidak pernah menunjukkan senyum secerah itu saat bersamaku.
Perempuan cantik itu, apakah dia datang jauh-jauh dari Mesir untuk menggeser posisiku?
Tidak! Kumohon, siapa pun wanita itu jangan biarkan itu. Aku tidak akan sanggup lagi untuk itu.
Aku pernah berpikir jika semua ini terjadi yang kulakukan adalah seperti adegan sinetron di televisi. Aku akan menghampiri meja suamiku dan perempuan itu. Marah dan memaki mereka karena berani bermain di belakangku. Tentu saja dengan kemampuan berbahasa Arabku. Namun, sekarang lihatlah diriku. Aku malah terpaku di mejaku. Melihat dengan kedua mata dan kepalaku bagaimana Gus Fatih bersenda gurau dengan perempuan lain, yang jauh lebih cantik. Matanya berbinar dan wajahnya begitu bersinar.
Baiklah. Aku tidak tahan lagi. Aku harus segera pergi dari sini. Kenyataan ini malah akan semakin membekukan hidupku.
Set!
Sebelum aku memalingkan wajahku, mata Gus Fatih menangkapku. Tampak wajahnya begitu terkejut melihatku.
Aku terpaku.
Kami saling berpandangan lama sampai perempuan dengan kerudung biru laut di sampingnya menepuk lengannya.
Aku terkesiap menyaksikannya. Bagaimana bisa perempuan itu berani menyentuh laki-laki? Apalagi yang disentuh sudah beristri. Yang membuatku lebih terkejut lagi adalah reaksi Gus Fatih yang tampak biasa saja. Ia bahkan kembali menyunggingkan senyumnya.
Ya Allah .... Hamba ingin pudar saja dari dunia.
Di kejauhan tampak Gus Fatih bicara lagi dengan perempuan itu. Aku mau membeku saat perempuan itu melihat ke arahku. Dia menyunggingkan senyum kemudian menoleh pada Gus Fatih lagi, seperti mengajukan pertanyaan.
Apa lagi ini, Gus? Kau kenalkankah aku sebagai istrimu? Atau kau yang malah punya keinginan memperkenalkan perempuan itu sebagai kekasihmu padaku?