Neng Zulfa: Menikah dengan Gus Dingin

Puput Pelangi
Chapter #17

Bab 16 - Manuver Gus Fatih

Zulfa Zahra El-Faza

Beberapa lama Gus Fatih memacu mobilnya sampai telepon pintarnya yang tergeletak di dashboard mobil berdering. Aku melirik dan mendapati ada panggilan masuk dengan nama Gus Adhim melompat-lompat gelisah ditampilkan layar ponsel silver itu.

Gus Fatih kemudian memelankan laju mobilnya sebelum benar-benar berhenti di jalan yang lumayan sepi.

“Lihat ponsel kamu, Fa!” tukasnya menoleh kepadaku tanpa mengangkat telepon Mas Adhim.

Meski tidak mengerti apa tujuannya, aku mencoba berhenti sesenggukkan dan mengambil ponselku dari dalam tas. Terlihat ada lebih dari dua puluh panggilan tak terjawab datang dari Mas Adhim dan puluhan pesan singkat yang juga darinya di notifikasi. Aku belum mengganti mode silent ponselku sehingga aku tidak mendengarnya sama sekali.

Tanpa disuruh siapa-siapa aku mengetik balasan pada Mas Adhim kalau aku baik-baik saja agar ia tidak cemas. Lalu tidak lama kemudian, ponsel Gus Fatih kehilangan deringnya. Dapat dipastikan Mas Adhim yang menerima pesanku langsung berhenti meneleponnya.

Drtt ... Drtt ....

Ponselku yang ganti berdering menerima panggilan dari Mas Adhim.

Ragu-ragu kulirik Gus Fatih di samping kananku. Ia mengulurkan tangannya ke arahku dan menatap lembut. “Biar tak angkat,” pintanya pelan.

Tanpa mengeluarkan suara, aku menyerahkan ponsel. Sambil menunduk, kudengarkan diam-diam percakapan mereka.

Gus Fatih sengaja me-load speaker teleponnya. Ia mengatakan kalau aku bersamanya pada Mas Adhim. Kejadian di kafe pun diceritakannya kecuali aku yang menangis. Dan pada Mas Adhim, Gus Fatih menyebut Laila sebagai sepupunya. Aku termangu demi mendengarnya.

Ngapunten, Gus. Aku sama Zulfa buru-buru tadi jadi ndak sempet nunggu njenengan. Maaf juga lupa langsung memberi kabar.” Gus Fatih mengakhiri panggilan setelah memberikan alasan.

Menghela napasnya, Gus Fatih meletakkan ponselku di samping ponselnya yang ada di atas dashboard. Ia melepas seatbelt-nya kemudian menyandarkan tubuh ke kursi kemudi. Detik berikutnya Gus Fatih memejamkan mata. Napasnya terdengar pendek-pendek dengan mulut terbuka. Ia tampak begitu kelelahan.

Tidak tahu harus berbuat apa aku hanya tetap diam. Air mataku juga masih terus mengalir dalam sunyi. Tidak tahu bagaimana caranya berhenti.

Kuputuskan melepas tas pinggangku mencari tisu, tetapi saat kubuka aku tidak menemukannya. Hanya ada dompet, minyak angin, persediaan pembalut, dan kaca.

“Udah, jangan nangis.” Gus Fatih berkata tiba-tiba dengan tangannya yang mengulurkan saputangan abu-abu di depan wajahku.

Aku diam, memaku menatap kain itu sampai Gus Fatih mendekat dan menghapus air mataku. Diperlakukan begitu aku kembali tersedu yang membuat Gus Fatih berhenti bergerak dan menatap wajahku. Ia melepas seatbelt di tubuhku lalu memutar posisiku agar kami berhadapan.

Kami berdua pun saling menatap dalam diam. Aku bisa melihat Gus Fatih yang menunjukkan ekspresi wajahnya yang datar.

“Kamu cemburu?” tanyanya lirih. Persis gumaman.

Aku tetap tak bersuara, sama sekali tidak berminat menjawabnya.

Gus Fatih menghela napas. “Laila itu sepupuku, Fa. Di Mesir tinggalnya. Dia seumuran kamu dan sudah kuanggap seperti adikku.” Manik hitam Gus Fatih tajam menatapku. Tangannya kali ini bekerja membersihkan ingus yang mengalir dari hidungku dengan saputangannya kemudian membelai pipi.

“Mas memang salah nggak kenalin ke kamu dari awal. Ibunya Laila, Bibi Sarah itu adik tirinya Ibu. Dia ikut suaminya yang masih keturunan Arab-Masir tinggal di sana, jadi Laila juga. Hanya saja masa kecilnya Laila ikut di Mojokerto. Tinggal sama Mbah Kiai Muiz, abahnya Ibu dan Bibi Sarah.” Gus Fatih menghela napas.

Aku menatapnya datar. Belum sepenuhnya mampu untuk percaya maupun bertanya. Penjelasannya soal Laila sungguh tak terduga.

“Soal keluarga Laila, Ibu juga belum ceritain, pantas kalau kamu tidak percaya.” Gus Fatih berkata kemudian menjeda.

Entah kenapa wajahnya yang sebelumnya terlihat lelah ganti terlihat putus asa. Ia menghela napas panjang sebelum netranya menatapku lagi. Kali ini lebih intensif.

“Kamu sama Laila sama-sama penting buatku, tapi kalau ditanya sayang mana aku ke Laila atau ke kamu, jawabannya aku lebih sayang kamu.” Ia mencium keningku.

Aku memilih menundukkan wajah lagi. Menggigit bibir agar berhenti mengeluarkan isakan.

Lihat selengkapnya