Suara hantaman pantat mangkuk aluminium beradu dengan permukaan nakas kayu yang lapuk sengaja dibuat menggema, memecah kesunyian kamar yang pengap dan berbau obat-obatan. Alwi Wijaya tidak memiliki niat sedikit pun untuk memperhalus gerakannya sore itu, tangannya yang kasar penuh dengan urat-urat menonjol akibat kerja keras sehari-hari menyendok bubur instan yang permukaannya sudah mulai mengeras dan mendingin. Tanpa sepatah kata pun, ia menyodorkan sendok penuh bubur itu tepat ke depan wajah seorang wanita tua yang terbaring lemah di atas kasur tipis tanpa dipan. "Makan," ucap Alwi. Suaranya datar, dingin, dan tanpa intonasi. Nada bicaranya sama sekali tidak mencerminkan kelembutan seorang anak kepada ibunya, melainkan sebuah instruksi paksaan yang harus segera dipatuhi. Ratih Rahayu memalingkan wajahnya yang pucat, kulit pipinya yang kendur dan dipenuhi bintik-bintik penuaan tampak kontras dengan bantal yang sudah menguning karena keringat. Napasnya terdengar berat, tersengal oleh penyakit komplikasi yang sudah berbulan-bulan menggerogoti sisa-sisa tenaganya dari dalam. "Nanti, Wi... tenggorokan Mamah serak. Mulut Mamah rasanya pahit sekali," bisik Ratih, suaranya parau, nyaris tidak terdengar jika Alwi tidak memasang telinga baik-baik.
Namun, Alwi sama sekali tidak melunakkan pandangannya. Laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu tetap bergeming di kursinya. Tangannya yang memegang sendok besi tetap bertahan di udara, hanya berjarak beberapa sentimeter dari bibir kering sang ibu. Tatapan matanya lurus, kosong, dan menusuk tajam.
“Kalau tidak dipaksa makan, Mamah mati. Alwi tidak punya waktu dan uang untuk repot-repot mengubur Mamah cepat-cepat. Buka mulutnya sekarang,” potong Alwi kasar, mengabaikan keluhan lirih ibunya.
Mata Ratih seketika berkaca-kaca. Air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya yang cekung perlahan luruh, membasahi keriput di sudut matanya. Ada gurat rasa sakit dan ketakutan yang mendalam setiap kali ia berhadapan dengan anak bungsunya ini, dengan bibir yang gemetar menahan tangis, Ratih terpaksa membuka mulutnya. Alwi mendorong sendok itu masuk ke dalam mulut ibunya, menyuapkan bubur dengan gerakan yang terlalu terburu-buru hingga sebagian bubur itu tumpah dan mengotori dagu Ratih.
Tanpa ekspresi bersalah sedikit pun, Alwi mengambil selembar tisu kering dari kotak di atas nakas, ia menyeka dagu ibunya dengan tekanan yang terlalu kuat, membuat kulit tipis dan sensitif milik wanita tua itu seketika memerah akibat gesekan kasar. Tidak ada kelembutan, tidak ada usapan menenangkan, tidak ada tatapan penuh kasih sayang atau bisikan penyemangat yang biasa diberikan seorang anak yang sedang merawat orang tuanya yang sakit sakitan. Bagi siapa saja yang berdiri di ambang pintu dan menyaksikan adegan itu, Alwi akan langsung dicap sebagai sosok anak durhaka, seorang bajingan berdarah dingin yang merawat ibunya hanya karena keterpaksaan yang mengikat lehernya.