Lantai semen yang dingin di dapur itu seolah menyedot sisa-sisa kehangatan dari telapak kaki Alwi yang telanjang. Ia melempar mangkuk aluminium berisi sisa bubur tadi ke dalam bak cuci piring yang penuh dengan noda minyak membandel. Bunyi dentingan logam yang nyaring beradu dengan dinding wastafel seakan menyuarakan isi kepalanya yang bising.
Alwi menyalakan keran air. Gemercik air yang mengalir deras menenggelamkan suara isak tangis lirih Ratih yang masih terdengar sayup-sayup dari balik pintu kamar. Ia membasuh tangannya yang gemetar, lalu mencengkeram pinggiran bak cuci piring erat-erat, menundukkan kepala hingga poni rambutnya yang agak panjang menutupi matanya. Dadanya kembang kempis menahan sesak yang mendadak menghimpit. Selalu seperti ini. Setiap kali ia melangkah masuk ke kamar itu dengan niat murni untuk menuntaskan tanggung jawab, atmosfer di dalamnya selalu berhasil memancing iblis di dalam diri Alwi untuk keluar. Alwi benci dirinya yang menjadi sekasar itu, namun ia jauh lebih membenci alasan di balik semua sikap dinginnya.
Setelah memastikan tangannya kering, Alwi kembali melangkah menuju area depan rumah. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Ratih yang sedikit terbuka. Dari celah sempit itu, Alwi bisa melihat bayangan ibunya yang bergerak gelisah di atas kasur. Ratih tidak lagi menangis karena suapan kasarnya tadi, melainkan karena hal lain. Hal yang selalu berhasil menorehkan luka baru di atas bekas luka lama yang belum sempat mengering di hati Alwi.
Wanita tua itu meraba-raba sisi kasurnya yang kosong, lalu dengan suara parau yang gemetar, ia mulai bergumam sendiri.
“Romi... Romi... kamu di mana, Nak? Kenapa belum pulang?” gumam Ratih. Mata tuanya yang rabun menatap lurus ke arah pintu, mengharapkan sosok lain yang muncul, bukan Alwi. “Romi... Mamah kangen. Kamu sudah makan belum? Jangan telat makan, nanti maag kamu kambuh...”
Alwi mematung di balik tembok. Tangan kanannya tanpa sadar mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih dan menekan telapak tangannya sendiri. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa perih yang menjalar di rongga dadanya.
Sebuah tawa hambar, getir, dan penuh sarkasme lolos begitu saja dari sela-sela bibirAlwi. Romi. Selalu nama itu. Nama yang seolah menjadi mantra suci bagi ibunya. Nama yang selalu menempati kasta tertinggi dalam ingatan dan kasih sayang Ratih Rahayu, bahkan di saat kesadarannya mulai timbul tenggelam digerogoti penyakit.
“Romi...” panggil Ratih lagi, kali ini suaranya meninggi, terdengar panik dan cemas. “Wi! Alwi! Ke sini kamu!”
Alwi menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan kasar untuk membuang rasa muak yang membuncah, lalu mendorong pintu kamar itu hingga terbuka lebar. Ia berdiri di ambang pintu dengan melipat kedua tangannya di dada, menatap ibunya dengan sorot mata yang dipenuhi kebencian yang mendalam.
“Apa lagi, Mah?” tanya Alwi dingin.