Neraka di Balik Pintu Surga

Annida Yasti Sari
Chapter #3

Anak Emas

Keheningan yang tertinggal di ruang tengah setelah dentuman pintu kamar itu terasa begitu mencekik. Alwi masih bergeming, menyandarkan punggung tegapnya pada permukaan kayu yang kasar. Di dalam kepalanya, suara Ratih yang memanggil-manggil nama Romi masih terngiang-ngiang, berputar seperti piringan hitam rusak yang enggan berhenti. Setiap kali nama itu menggema, ingatan Alwi secara otomatis ditarik kembali ke masa lalu ke sebuah rumah yang sama, namun dengan formasi yang masih utuh, di mana luka pertama Alwi mulai ditorehkan oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Sejak kecil, Alwi sudah paham bahwa ada garis tak kasat mata yang memisahkan dirinya dengan sang kakak, Romi Saputra. Romi adalah matahari di rumah ini, sedangkan Alwihanyalah bayangan yang keberadaannya baru disadari jika mengganggu pemandangan. Romi dilahirkan sebagai anak emas, anak yang segala keinginannya adalah titah yang harus dipenuhi, dan segala kesalahannya adalah hal maklum yang dengan mudah dimaafkan.

Alwi memandangi telapak tangannya sendiri yang mulai mengasar di bawah remang lampu bohlam lima watt. Ingatannya melesat pada suatu sore belasan tahun lalu, saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Alwi pulang dengan napas terengah-engah, wajahnya berseri-seri, dan selembar kertas karton besar berada di dalam dekapannya dengan sangat hati-hati agar tidak lecek. Hari itu, Alwi diumumkan sebagai juara pertama lomba menggambar tingkat kabupaten. Guru-gurunya memujinya setinggi langit, mengatakan bahwa Alwi memiliki bakat emas yang jarang dimiliki anak seusianya.

Dengan jantung yang bertalu penuh harap, Alwi kecil berlari masuk ke rumah, mencari keberadaan Ratih yang sedang menyetrika pakaian di ruang tengah.

“Mamah! Lihat, Wi juara satu lomba menggambar!” seru Alwi kala itu, menyodorkan piagam penghargaan dan piala plastik berwujud dewi bersayap yang dipegangnya dengan bangga. Di matanya yang polos, ia membayangkan Ratih akan memeluknya, mencium pipinya, atau setidaknya tersenyum bangga dan memajang piala itu di atas lemari kaca ruang tamu.

Namun, Ratih bahkan tidak menoleh sepenuhnya. Wanita itu hanya melirik sekilas dengan tatapan datar, seolah kertas yang disodorkan Alwi hanyalah brosur belanjaan yang mengganggu pekerjaannya.

“Ya, bagus. Taruh saja di meja sana. Jangan berisik, kakakmu sedang tidur siang, dia baru pulang main dan badannya agak hangat,” sahut Ratih dengan nada dingin yang langsung memadamkan binar di mata Alwi kecil.

Tidak ada pelukan. Tidak ada pujian. Piala dan piagam yang Alwi perjuangkan dengan latihan berminggu-minggu hingga jemarinya kaku karena krayon hanya berakhir tergeletak di sudut meja makan yang berdebu, bersanding dengan tudung saji yang bolong.

Dua jam kemudian, Romi terbangun. Alwi ingat betul bagaimana atmosfer rumah langsung berubah seratus delapan puluh derajat saat anak sulung kesayangan Ratih itu membuka mata. Romi melangkah keluar kamar dengan wajah cemberut, lalu tanpa alasan yang jelas, ia menendang piala plastik Alwi hingga patah menjadi dua bagian di lantai.

Lihat selengkapnya